Selamat

Rabu, 22 September 2021

30 April 2021|15:33 WIB

BMKG: 4 Sumber Gempa Di Jatim Tak Boleh Diabaikan

Upaya mitigasi penting, salah satunya dengan membangun infrastruktur tahan gempa

Penulis: Seruni Rara Jingga,

Editor: Nofanolo Zagoto

ImageIlustrasi gempa. ANTARA FOTO

JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan, setidaknya ada beberapa sumber gempa yang harus diwaspadai di Jawa Timur. Sumber gempa yang dimaksud itu, yakni Zona Outer Rise, Zona Megatrust, Zona Benioff dan sesar aktif di dasar laut.

"Kita lebih banyak fokus di Zona Megatrust ini. Kadang saking fokusnya di sini, maka sumber gempa lain seolah diabaikan," kata Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono dalam Rakor Tim Intelejensi Penanggulangan Bencana (TIPB) yang dipantau secara virtual, Jumat (30/4).

Daryono mengatakan, Zona Outer Rise terletak di sebelah selatan Zona Megatrust dan berada di luar zona subduksi (pertemuan lempeng). Sumber gempa ini patut diwaspadai karena pernah memicu tsunami Jawa pada tahun 1921.

"Bahkan di Sumba itu pernah memicu tsunami M8,3. Gempa itu destruktif dan menimbulkan korban lebih dari 100 orang, sehingga Zona Outer Rise ini tidak boleh kita abaikan," lanjutnya.

Selanjutnya ada Zona Megatrust atau Zona Subduksi Lempeng yang terletak di bidang kontak antarlempeng dan bisa mengakumulasi energi yang besar. Zona ini, ujar Daryono, lebih populer di tengah masyarakat.

Kemudian ada Zona Benioff yang berada di di bagian dalam dari zona subduksi. Sumber gempa ini menunjam ke bawah dan dapat memicu gempa intraslab. 

Adapun karakteristik gempa ini berupa getaran yang merata dan tidak menyebabkan potensi tsunami karena sumber gempanya yang dalam. "Ini juga sumber gempa yang relatif terlupakan," lanjut Daryono.

Daryono juga menyebut ada sesar aktif di dasar laut yang juga dapat memicu gempa.

Selain itu, masih ada sumber gempa yang berasal dari sesar aktif di daratan. BMKG mencatat, ada tujuh segmen sesar aktif, yakni Sesar Naik Pati, Sesar Kendeng, Sesar Pasuruan, Sesar Probolinggo, Sesar Wongsorejo, Zona Sesar Rembang-Madura-Kangean-Sakala (RMKS) dan Bawean Fault.

Kemudian ada enam subsesar dari Sesar Kendeng, yakni Segmen Demak, Segmen Purwodadi, Segmen Cepu, Segmen Blumbang, Segmen Surabaya, dan Segmen Waru.

"Jadi memang di Jawa Timur itu termasuk kawasan seismik aktif dan kompleks juga," kata dia.

Selain itu, berdasarkan catatan aktivitas gempa di atas M5,0 periode 2008-2019, terdapat pula aktivitas gempa dalam (deep focus, kedalaman sumber gempa di atas 300 kilometer) di sebelah utara Jawa Timur.

Hal ini menunjukkan bahwa sistem subduksi di Jawa Timur masih sangat aktif hingga saat ini. Untuk itu, sangat penting dilakukan upaya mitigasi, salah satunya dengan membangun infrastruktur tahan gempa.

"Ini yang penting yang harus kita pahami bahwa ke depan bangunan tahan gempa di wilayah ini harus benar-benar diwujudkan. Karena ini tidak akan berkhir sampai kapanpun. Sehingga kita hanya bisa beradaptasi dengan membangun rumah yang aman gempa," pungkas Daryono.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA