Selamat

Selasa, 21 September 2021

30 Juli 2021|20:00 WIB

Berulur Tangan Untuk Yang Isoman

Menu masakan dikombinasikan dengan perhatian, memicu yang isoman lebih cepat sembuh

Penulis: Seruni Rara Jingga,

Editor: Nofanolo Zagoto

ImageKegiatan Dapur Umum II Peduli Covid-19 Di RT.2 RW.9 Kelurahan Depok Kecamatan Pancoran Mas, Kota Dep ok. Sumber foto: Validnews/Seruni Rara Jingga

JAKARTA – Pagi itu, kesibukan terlihat di ruangan Dapur Umum II Covid-19 yang berlokasi tepat di belakang Kantor Kelurahan Depok. Di meja, tampak nasi dan bermacam lauk pauk masih hangat, usai dimasak. Menu makanan yang dihidangkan kali ini berupa nasi, telur dadar padang, tempe orek, dan kacang panjang.
 
Tampak empat ibu-ibu mulai memasukkan berbagai menu satu per satu ke dalam wadah makanan. Begitu selesai dikemas, wadah-wadah makanan itu mereka masukkan lagi ke dalam kantong plastik besar.
 
"Jam 10 malam kami sudah belanja kebutuhan masak. Jam 2 paginya kami langsung masak. Biasanya jam 5 pagi sudah selesai. Setelah itu kami istirahat, lalu jam 9 kami mulai packing," kata Hari Sempulur, Inisiator Dapur Umum II Covid-19, kepada Validnews, Senin (26/7).
 
Setiap hari, sekitar pukul 10.00 WIB, Satgas Covid-19 tingkat RW Kelurahan Depok, Pancoran Mas biasanya akan datang ke tempat Hari. 

Merekalah yang bertugas mendistribusikan makanan-makanan itu kepada warga yang menjalani isolasi mandiri (isoman) di lingkungan sekitar, beberapa pekan belakangan ini.

 Hari memastikan, menu makanan yang disiapkan dapur umum ini cocok untuk orang yang sedang menjalani isolasi mandiri. Sebab, sebelum membuka dapur umum, ia sudah terlebih dulu berkonsultasi dengan kawannya dari ahli gizi soal jenis makanan apa yang boleh dan tidak boleh dimakan pasien covid-19.
 
"Menunya jangan terlalu banyak karbohidrat. Harus ada protein dan sayuran, terutama yang berwarna seperti kacang panjang, wortel, dan sebagainya. Dari situ kami mulai inovasi, dan setiap hari ganti menu," kata Hari.
 
Berihwal Dari Pengalaman
Hari yang juga berprofesi sebagai seorang pendeta itu pun bercerita alasan dia tergugah membuka dapur umum. Gagasan itu bermula dari pengalaman istrinya yang sempat dinyatakan positif covid-19 pada 27 Juni 2021 dan harus menjalani isolasi mandiri di rumah.
 
Dia cukup beruntung memiliki daya tahan tubuh yang kuat, sehingga tidak sampai terpapar covid-19. Dengan begitu, dia sanggup merawat istrinya selama menjalani isolasi mandiri.
 
Meski begitu, ia mengaku kerepotan menyiapkan kebutuhan makanan. Dukungan lingkungan sangat kurang dirasakan. Bahkan, bagian besar tetangga Hari masih menganggap orang yang terpapar covid-19 mesti dijauhi.
 
Hampir setiap hari ia terpaksa memesan makanan secara online. Tentu ini menguras kocek, sekaligus menambah risiko terpapar.
 
Usai sang istri dinyatakan sembuh, keduanya ingin berbuat sesuatu agar orang lain tidak merasakan hal serupa. Maka, tercetus lah ide untuk membuka dapur umum.
 
Di tengah lonjakan kasus covid-19 dan penerapan PPKM Darurat, sudah terbayang di benak Hari bahwa orang-orang akan juga mengalami kesulitan yang sama.
 
Salah satu teman Hari dari Yayasan Kamu Hebat diajak berembuk, Yayasan yang bergerak di bidang sosial itu kemudian menyatakan kesiapannya membantu segala kebutuhan dapur umum itu. Kawan-kawan Hari yang lain pun banyak yang tergerak menyumbang apapun yang dibutuhkan.
 
Karena banyak mendapatkan respons positif, Hari bergegas mencari data warga yang sedang isoman di lingkungan sekitar. Dia kemudian memperoleh data dari Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kelurahan Depok, Kecamatan Pancoran Mas pada 15 Juli 2021. Ternyata ada 305 warga yang menjalani isolasi mandiri di situ.
 
Data tersebut kemudian menjadi acuan Hari untuk menyiapkan makanan sebanyak 300 porsi setiap harinya. Mulai pukul 22.00 WIB ia bersama istrinya biasanya sudah berangkat untuk berbelanja di pasar tradisional. Hari ingin lauk pauk dan sayur mayur yang masih segar untuk menu makanan isoman.
 
Segala kegiatan mulai dari berbelanja, memasak, hingga pengemasan dilakukan sendiri oleh keluarga Hari bersama empat sanak saudaranya yang bertetangga dengannya. Setiap hari, kecuali Minggu, mereka melakukan kegiatan tersebut.

Dia lantas bekerja sama dengan LPM Kelurahan Depok untuk mengoordinasi penyaluran makanan melalui Satgas Covid-19 masing-masing RW.

Hari bersyukur, penyaluran makanan mendapat tanggapan yang sangat baik dari warga yang isoman sejak hari pertama. Tak terkecuali dari Lurah Depok.

"Besoknya Pak Lurah datang ke sini (dapur umum). Saya pikir bakal dimarahi karena enggak pakai izin. Ternyata enggak, Pak Lurah justru sangat berterima kasih karena kondisi seperti sekarang ini banyak warga yang kesusahan," kata Hari.

Kabar kegiatan dapur umum itu cepat tersiar di masyarakat. Dua hari setelah menjalani kegiatan dapur umum, bantuan lain berdatangan, baik itu dari Kepala Satpol PP, Kelurahan dan kawan-kawan Hari yang lain. 

Yayasan Kamu Hebat kemudian menghubungi Hari untuk memperpanjang kegiatan dapur umum, dari semula sampai tanggal 25 Juli menjadi 31 Juli.

Sejauh ini, belum ada rencana pasti apakah dapur umum ini masih akan berlanjut. Namun, Hari tetap berniat akan membagi bantuan berupa sembako apabila kegiatan itu tidak dilanjutkan.

Saban harinya, ia pun selalu berpesan kepada satgas covid-19 yang menyalurkan makanan untuk selalu memberikan semangat dan kata-kata positif kepada tiap warga isoman yang dikunjungi.

"Masakan kami mungkin sederhana. Tapi dengan memberi dan mereka merasa diperhatikan, itu yang buat mereka sembuh. Jadi bukan karena makanannya, tapi perhatiannya," tutur Hari.


Hari Sempulur (menggunakan topi warna oranye) saat menyerahkan makanan kepada Satgas Covid-19 Tingka t RW untuk dibagikan kepada warga yang isoman. Sumberfoto: Validnews/Seruni Rara Jingga 

 

Mereka yang terlibat di dapur umum ini sama berpersepsi, kegiatan yang ia lakukan bisa menginspirasi orang lain. Tidak perlu langsung melakukan hal yang besar, melainkan dimulai dari hal kecil seperti memberi perhatian kepada tetangga terdekat.
 

Amati Respons
Di wilayah lain, warga RW 9 Kelurahan Jatimulya Kecamatan Cilodong juga membentuk Satgas Covid-19 secara mandiri. Satgas ini diinisasi untuk membantu warganya yang terdampak pandemi, salah satunya adalah yang menjalani isolasi mandiri. Mereka rutin memberi bantuan berupa sembako dan obat-obatan kepada warga sekitar.

Di tingkatan lebih kecil lagi, seperti perkumpulan dasawisma RT 4 RW 9, bantuan makanan siap saji juga mereka siapkan untuk keluarga yang sedang menjalani isolasi mandiri. Bantuan itu mengandalkan dana sosial yang mereka himpun sendiri. 

Setidaknya sudah ada dua rumah yang terpapar di perkumpulan dasawisma tersebut. Anggota Satgas Covid-19 RT 9, Yanti mengatakan, dari dua rumah itu hanya satu yang pernah dikirimkan makanan siap saji oleh tetangga setiap hari. Sebab seluruh anggota keluarganya terpapar covid-19.

 "Jadi biasanya kita telpon dulu, kita tawarin hari ini mau makanan apa, kalau dimasakin ini bisa enggak, begitu," kata Yanti kepada Validnews, Selasa (27/7).

Dinamika warga ini diamati oleh Kementerian Sosial (Kemensos). Dirjen Perlindungan Sosial Korban Bencana Alam (PSKBA) Kementerian Sosial (Kemensos), Syafii Nasution mengapresiasi kegiatan kepedulian masyarakat dengan mendirikan dapur umum untuk kebutuhan isolasi mandiri. Hal itu merupakan bentuk dukungan warga bersama pemerintah di tengah kondisi sulit di masa pandemi covid-19.

"Saya pikir itu kegiatan yang positif ya, artinya kepedulian masyarakat dalam situasi seperti ini ditunjukkan. Bahwa nilai-nilai kesetiakawanan sosial itu dimunculkan," kata Syafii kepada Validnews, Jumat (30/7).

Kemensos sendiri memiliki sembilan lokasi dapur umum, dengan fokus utama mencukupi kebutuhan makanan bagi tenaga kesehatan dan petugas penjaga penyekatan PPKM, seperti TNI, Polri, dan Satpol PP.

 Ia mengaku, pemerintah punya keterbatasan untuk mendirikan banyak dapur umum. Kendala utamanya adalah keterbatasan anggaran, sumber daya dan sebagainya. Adanya dukungan dari masyarakat ini membuat jumlah yang terbantu semakin banyak.  

"Jadi kalau ada masyarakat yang mendirikan dapur umum, itu mereka fokusnya ke isoman kan. Mereka biasanya lebih paham warganya. Dari situ mereka telah ikut membantu memberikan kontribusi kepada masyarakat," kata Syafii.

 Kemensos mengklaim terus memonitor dapur-dapur umum yang didirikan kementerian ini, melalui berita acara serah terima (BAST). Hal-hal yang dimonitor biasanya terkait respons terhadap menu yang disajikan, kemanfaatan makanan siap saji yang diberikan, dan sebagainya. 

Sementara untuk kegiatan monitoring dapur umum warga biasanya dilakukan oleh warganya sendiri. Kemensos tidak mengamati ini secara khusus. "Kalau dapur umum itu berasal dari masyarakat, sasarannya di lingkungan mereka sendiri," ujarnya.


Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA