Selamat

Selasa, 21 September 2021

23 Juli 2021|20:53 WIB

Bermodal Derita Menyebar Asa

Mayoritas pasien covid mengaku mengalami masalah psikologis. Kebanyakan mengeluhkan kecemasan

Penulis: Gisesya Ranggawari,

Editor: Leo Wisnu Susapto

ImageWarga yang melakukan isolasi mandiri covid-19 menerima bantuan dari warga sekitar. ANTARAFOTO/Novrian Arbi

BOGOR – Ardhan Maulana (26) mencoba mengingat peristiwa pada beberapa waktu lalu. Pada suatu malam, dia terpaksa terbangun dari tidur. Dia merasa demam. Batuk juga menyertai. Yang dalam benaknya, ia hanya terserang flu ringan. Mungkin juga karena lelah didera rutinitas di luar rumah.

Dikonsumsinya obat flu persediaan di rumah. Harapannya, tentu agar segera pulih.

Sehari ditunggu, belum ada perubahan. Esoknya pun sama. Bahkan, beberapa hari kemudian, dia mengalami anosmia atau kehilangan indera penciuman.

Dia pun bingung dengan kondisi itu. Saban malam, sesak napas menderanya. Bingung berubah jadi panik.

Saat kondisi itu, dia bertanya kepada teman-teman karib soal gejala yang diderita. Kebanyakan menyarankan berkonsultasi ke dokter dan puskesmas, Ada juga yang menyimpulkan, Ardhan mengalami gejala layaknya orang yang terpapar covid-19.

Tak ingin lama menyimpan penasaran, dia menyambangi fasilitas kesehatan terdekat.   Di sana, dia diperiksa dan dites dengan PCR swab. Oleh petugas, Ardhan diminta istirahat di rumah saja dan tak melakukan kegiatan di luar rumah. Ardhan pun pulang ke rumah dengan perasaan tenang.  

Selang beberapa waktu, petugas yang sama menghubunginya melalui telepon genggam. Ardhan menerima kabar tak enak. Lelaki muda itu disebut terkonfirmasi positif covid-19.

Untungnya, dia hanya perlu dirawat di rumah. Tapi, itu jadi persoalan kemudian. Ibu dan adik-adiknya harus ikut isolasi mandiri.

“Pikiran saya kalut. Sampai tak terpikirkan makan. Padahal, saya ada riwayat asam lambung. Kadar asam lambung saya naik,” papar Ardhan saat ditemui Validnews, Rabu (21/7).

Awalnya, Ardhan ingin menyimpan informasi ini. Namun, karena kalut dan sedih, niat itu batal. Ardhan menghubungi teman untuk menceritakan keadaannya.

Selang beberapa hari, teman yang dia hubungi mengenalkan Ardhan pada TemanCo. Sebuah gerakan kolektif dari para penyintas covid-19 yang memberikan pendampingan untuk pasien covid-19 khusus isolasi mandiri (isoman).  

Syahdan, Ardhan intens berkomunikasi dengan TemanCo lewat virtual mengabarkan kondisinya secara berkala.

"Ya saya diberikan perhatian kecil, seperti ditanya sudah makan atau belum, bagaimana kondisi. Intens setiap hari. Itu buat saya sangat membantu memulihkan psikologis," ujar Ardhan.

Selain fisik, kondisi psikologis Ardhan memang turut terganggu. ‘Kena mental’ istilah anak zaman sekarang. Setelah dinyatakan positif covid-19, rumahnya dipagari dengan bambu oleh tetangga. Warga tempat dia tinggal menganggap pasien covid-19 itu aib.

Cerita Ardhan banyak dialami para penyintas. Mungkin juga tengah dialami mereka yang baru-baru saja terpapar dan terkonfirmasi positif covid.  

Menggeser Stigma
Menurut data Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa (PDSKJ), dari 4.010 pasien covid-19 ada 64,8% mengaku mengalami masalah psikologis. Mayoritas yang dikeluhkan adalah kecemasan sebanyak 65%, dan depresi 62%. Ardhan tak sendirian.

Penelitian di Korea Selatan juga menunjukkan tingginya tingkat gangguan psikologis oleh pasien covid-19. Setidaknya ada 20,3% pasien covid-19 di negeri ginseng itu mengalami post-traumatic stress disorder (PTSD).

Dalam upaya menyembuhkan komprehensif, selain memberikan pendampingan berupa penguatan psikologis dan mental, TemanCo juga memberikan bantuan berupa obat-obatan dan sembako agar dapur Ardhan tetap ngebul.

Ardhan yang merupakan tulang punggung keluarga, tidak bisa berangkat kerja kurang lebih selama 44 hari, akibat covid-19.

TemanCo juga, kata Ardhan, memberikan edukasi ke warga sekitar rumahnya agar tidak menjauhi pasien covid-19 yang sedang menjalani isoman di rumah. Walhasil, Ketua RT/RW kemudian membentuk satuan tugas (satgas) khusus untuk warganya. Mereka juga mencabut pagar bambu buatan warga.

Kini, setelah sembuh, Ardhan langsung mendaftarkan diri menjadi relawan TemanCo. "Ya saya nazar juga sih kalau sembuh pingin jadi relawan. Karena saya tidak mau mereka (pasien covid-19) yang isoman merasa dikucilkan seperti saya," ucap Ardhan.

Orang Kedua
Inisiator TemanCo, Ara Wiraswara mengaku tidak pernah terpikir sebelumnya membentuk gerakan komunitas yang fokus pada pendampingan pasien covid-19. Dia resmi mengenalkan TemanCo pada pertengahan bulan September 2020.

Ara menyebutkan, TemanCo berawal dari kecemasannya saat melawan covid-19 selama 100 hari lebih. Dia merasa tidak memiliki teman. Terlebih, kasus di Kota Bogor pada saat itu masih nihil dan Ara menjadi orang kedua di Bogor setelah Wali Kota Bogor, Bima Arya yang terinfeksi covid-19.

Ara merasa dijauhi teman. Dari kesendirian itu, ia sedikit berucap jika setelah sembuh ingin bermanfaat bagi pasien covid-19 agar tidak merasakan yang dia rasakan.

Kemudian, pascabebas dari covid-19, dia langsung mengumpulkan informasi. Beberapa di antaranya relawan dari SalamAid yang dia kenal sudah lama.

Setelah berkonsultasi, kemudian Ara berkerja sama dengan SalamAid dan nekat membentuk TemanCo. Niatnya, hanya sebagai tempat untuk menemani para pasien covid-19 yang sedang isoman dan agar tidak merasa kesepian sendiri.

"Jadi kami pingin mereka (pasien covid-19) tahu kalau kami ada untuk mereka. Selain itu, ini semacam bentuk syukur dan balas budi saya karena bisa sembuh, jadi harus ada gerakan yang bermanfaat," ujar Ara kepada Validnews, Senin (19/7).

Merujuk pada pengalaman isoman Ara yang lebih dari tiga bulan, pasien covid-19 memang perlu teman ngobrol. Karena, manusia adalah makhluk sosial. Tapi, karena sedang isoman, tak bisa keluyuran kemana-mana.

Solusinya, Ara membuat hiburan bagi pasien isoman covid-19 yang didampingi. Misalnya, mengadakan webinar, musik akustik secara virtual, bertukar sapa, dan utamanya pendampingan.

Program pendampingan ini mengharuskan satu penyintas mendampingi satu pasien covid-19 yang sedang isoman. Kini, sebanyak 32 mantan pasien covid-19 yang telah sembuh, sudah bergabung.  Temanco juga terlibat menjadi relawan dalam berbagai kegiatan upaya pencegahan covid-19 di Kota Bogor.

Bersama SalamAid, mereka juga menyediakan layanan peminjaman dan pengantaran tabung oksigen gratis, tes antigen gratis dan penerimaan donor plasma konvalesen. Kriteria dan syaratnya juga disortir secara ketat oleh para relawan dengan bantuan Dinas Kesehatan Kota Bogor.

Ke depannya, TemanCo dan SalamAid akan meluncurkan program homecare visit. Salah seorang perawat dengan alat pelindung diri (APD) lengkap akan mendampingi para pasien covid-19 yang sedang isolasi secara berkala.  

SalamAid juga akan membuka tempat isoman gratis bagi warga yang tidak memiliki tempat tinggal yang memenuhi syarat untuk menjalankannya.

Ringan Tangan
Sosiolog dari Universitas Indonesia, Rissalwan Lubis memandang, fenomena gerakan dari warga ini merupakan hal yang wajar. Terlebih, budaya orang Indonesia suka tolong menolong. Ia menilai, ini adalah suatu hal yang positif bagi tatanan bersosial masyarakat.

"Jadi rasa tersebut yang paling real ya pada saat kita kesulitan maka hadirlah para warga sendiri yang akhirnya turun tangan membantu sesama warga membentuk komunitas kolektif," urai Rissalwan kepada Validnews, Rabu (21/9).

Namun, jika ditelisik lebih jauh, Rissalwan melihat ini berimbas kesan negatif terhadap pemerintah. Dia mendefinisikan, fenomena ini juga bisa dikatakan bentuk kritik masyarakat.

Fenomena warga turun tangan, dikacamatanya, menyiratkan pemerintah gagal hadir, memperhatikan warganya sendiri.  Namun, soal gotong-royong, diakuinya itu lah salah satu manifestasi keguyuban orang Indonesia.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA