Selamat

Rabu, 22 September 2021

30 April 2021|20:43 WIB

Banyak Bangunan Tak Sesuai Standar Di Zona Rawan Gempa,

Rentan diguncang gempa. Selatan Jawa rawan diguncang gempa

Penulis: Seruni Rara Jingga,

Editor: Leo Wisnu Susapto

ImageSimulasi bencana gempa saat Hari Kesiapsiagaan Bencana di Balai Kota Solo, Jawa Tengah, Senin (26/4/2021). ANTARA FOTO/Maulana Surya/rwa

JAKARTA - Guru Besar Teknik Sipil dan Lingkungan Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof Iswandi Imran menjelaskan, banyaknya kerusakan bangunan pada peristiwa gempa bumi di Malang Sabtu (10/4) lalu dipicu oleh kondisi bangunan yang tidak memenuhi standar bangunan tahan gempa.

"Jadi banyak aspek-aspek bangunan tahan gempa yang memang tidak dimiliki oleh bangunan-bangunan tersebut. Jadi inilah yang kemudian menjadi pemicu terjadinya kegagalan dalam menahan gempa," kata Imran dalam Rakor Tim Intelejensi Penanggulangan Bencana (TIPB) yang dipantau secara virtual, Jumat (30/4).

Imran mengatakan, berdasarkan analisis Spektra Desain, menunjukkan bahwa bahwa baik Kota Malang dan Kabupaten Malang masuk dalam zona kategori gempa tinggi. Sehingga, apabila perencanaan bangunan mengikuti standar ketahanan gempa, maka tidak akan terjadi kerusakan parah saat gempa melanda wilayah tersebut

"Kalau itu kita terapkan persyaratan seismic detailing-nya, mestinya bangunan-bangunan yang ada memiliki kinerja yang lebih baik jika terkena gempa," kata Imran.

Tidak hanya Malang dan sekitarnya, wilayah sepanjang selatan Jawa sebenarnya masuk dalam zona gempa kategori tinggi mengingat besarnya potensi gempa bumi seperti Zona Megatrust yang dapat terjadi di wilayah tersebut.

"Jadi kalau kita cek di peraturan yang berlaku, memang sejak SNI 2002 di sepanjang selatan Jawa itu masuk dalam kategori desain seismiknya D, artinya sudah tergolong dalam zona gempa tinggi," jelasnya.

Sayangnya, ketentuan bangunan tahan gempa belum secara konsisten diterapkan. Sehingga diharapkan, langkah jangka panjang untuk kedepannya adalah memastikan seluruh bangunan di sepanjang selatan Jawa memenuhi standar bangunan tahan gempa.

"Di sepanjang selatan Jawa harus dilakukan suatu assessment/evaluasi yang nantinya dilanjutkan dengan retrofit kepada seluruh bangunan," urainya.

Adapun, Standar Nasional Indonesia (SNI) terbaru terkait hal ini sedang disusun. Tidak hanya di selatan Jawa, lanjut Imran, tetapi juga di wilayah Mamuju yang sebelumnya juga mengalami peristiwa gempa bumi pada Januari 2021 lalu.

SNI terbaru ini diperkirakan selesai pada akhir tahun 2021, sehingga diharapkan bisa segera dimanfaatkan untuk pekerjaan asesmen evaluasi bangunan-bangunan di wilayah yang rawan gempa.

Selain itu perlu disusun juga peta kerentanan risiko bangunan, khususnya hunian di wilayah Selatan Jawa.

"Dan untuk bangunan baru tentu saja agar dilakukan secara konsisten perencanaannya dengan mengacu kepada SNI Gempa dan juga SNI Detailing yang berlaku saat ini," pungkasnya. 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER