Selamat

Selasa, 21 September 2021

28 Mei 2021|20:58 WIB

Aset Kripto, Antara Keyakinan Dan Harapan

Para pemain aset kripto yakin, investasi pada aset kripto masih punya potensi yang cerah karena makin lazim dan kian berkembangnya teknologi blockchain

Penulis: Wandha Nur Hidayat,

Editor: Leo Wisnu Susapto

ImageIlustrasi berbagai macam uang kripto yang beredar. Ist

JAKARTA – Rencana itu sudah ditetapkan. Kuartal akhir 2017, Fajar Widi (31) bakal melepas masa lajang, dengan perempuan pilihannya.

Persiapan jelang hari bahagia sudah menguras konsentrasi dua sejoli ini. Keduanya sepakat, hari pernikahan harus berjalan lancar dan menjadi kenangan hingga akhir hayat.

Meski persiapan pernikahan menguras konsentrasi, ada hal lain yang tak bisa Fajar tinggalkan. Ia selalu menyempatkan waktu untuk melakukan kegiatan trading mata uang kripto. Kegiatan investasi bak jual-beli ini belakangan jadi tren di kalangan anak muda.

Tak heran, jelang hari H pernikahan, protes pun datang dari sang calon istri yang khawatir pergulatannya dengan aset kripto bakal membuyarkan konsentrasi pada persiapan pernikahan.

“Karena aku sibuk trading dan trading, istri berkelakar, kenapa enggak maharnya Bitcoin saja sekalian,” ujar Fajar mengawali ceritanya pada Validnews, Jumat (21/5).

Uniknya, sindiran tersebut justru memunculkan ide buatnya. Ia merasa tertantang untuk menjadikan aset kripto sebagai mahar alias mas kawin. Ia bercerita, ide ini juga terinspirasi dari pernikahan orang lain di Yogyakarta yang menggunakan saham jamu Sido Muncul sebagai mahar.

Rekan-rekannya sempat mengingatkan, agar tantangan itu tak dipenuhi. Mengingat, uang kripto adalah investasi dengan risiko tinggi atau high-risk investment.

Namun, Wiwid bergeming. Dia tetap yakin dengan pilihannya. Dia yakinn sudah memahami betul fundamental investasi di kripto. Menurut dia, prinsip investasi di uang kripto, tak berbeda jauh dengan investasi tanah, beli dan pertahankan. Prinsip ini dia sebut mirip dengan pernikahan.

Marriage is like buy and hold Bitcoin. Pernikahan itu seperti investasi Bitcoin, hold on for dear life forever,” ungkap Wiwid.

Mei 2017, tanpa ragu, dia belanja satu keping Bitcoin. Kal itu harganya sekitar US$2.000, atau kalau dirupiahkan menjadi sekitar Rp30 juta. Baik keluarga Wiwid maupun keluarga istrinya tak mempersoalkan bentuk mahar itu. Begitu pula Kantor Urusan Agama (KUA).

Pada 11 November 2017, pernikahan kedua pasangan ini berlangsung. Sekeping Bitcoin jadi mahar. Pernikahan itu pun menjadi pemberitaan berbagai media daring saat itu.

Mujurnya, saat pernikahan berlangsung, nilai Bitcoin melonjak sekitar 300%. Nilai mahar yang diberikan Wiwid pasangannya tak ayal melonjak menjadi sekitar Rp90 juta. Namun, ia tetap tak berniat mencairkan miliknya.

Dua bulan setelah pernikahan itu, atau sekitar Januari 2018, nilai satu Bitcoin pun kembali menyentuh Rp290 juta. Namun, Wiwid tetap tak tergoda mencairkan Bitcoin miliknya. Buat dia, investasi adalah strategi keuangan untuk kepentingan jangka panjang.

Kenal Lama
Wiwid bilang, ia mengenal mata uang kripto atau cryptocurrency sejak 2014. Kala itu, bursa cryptocurrency yang berbasis di Tokyo, Jepang, bernama Gox mengalami kebangkrutan. Perusahaan itu kehilangan 750 ribu Bitcoin milik penggunanya dan 100 ribu Bitcoin miliknya sendiri.

Kata Wiwid, cryptocurrency sendiri baru ramai dibicarakan di Indonesia sekitar 2016–2017. Kini, setelah kembali jadi perbincangan lantaran pendiri Tesla, Elon Musk mencuitkan nya di Twitter, Wiwid mengaku masih serius mengelola aset miliknya.

Ia menyimpan Bitcoin miliknya, di beberapa dompet mata uang kripto (cryptocurrency wallet).

“Awalnya itu aku kenal Bitcoin dari baca-baca berita dari luar bahwa sebenarnya ini alternatif investasi yang menarik, selain emas dan deposito. Karena memang return dan kebetulan volatilitas-nya juga lebih tinggi,” ucapnya.

Menurutnya, sejatinya ada beberapa cara untuk mendapat cuan dari uang kripto. Antara lain dengan melakukan mining atau menambang, kemudian trading atau pertukaran. Cara mining sendiri ada dua macam, yaitu memakai hardware sendiri dan menyewa server yang disebut cloud mining.

Untuk mining, Wiwid memilih yang terakhir. Cara ini dinilai lebih praktis karena tak harus memiliki dan merakit hardware sendiri. Ia hanya perlu membayar jasa cloud computing yang server-nya berpusat di Thailand. Akan tetapi, mining sendiri hanya berjalan sampai sekitar 2017–2018.

“Jumlah Bitcoin 21 juta, terbatas. Semakin terbatas, semakin naik nilainya. Waktu Bitcoin masih baru, habis 10–11 juta, itu masih gampang mining. Tetapi makin habis makin susah. Mungkin sekarang pakai gabungan beberapa server pun baru dapat nol koma sekian Bitcoin,” lanjut dia.

Selain menambang, sejatinya dia juga pernah menjajal trading melalui bitcoin.co.id, satu-satunya platform pasar (exchange) Bitcoin di Indonesia kala itu. Cara ini biasanya dipakai dengan tujuan mencari cuan jangka pendek.

Setelah sekian lama bergelut dengan aset kripto, pada akhirnya, Wiwid pun yakin memutuskan untuk menjadikan Bitcoin sebagai investasi jangka panjang. Investasi ini diyakini semakin menjanjikan cuan. Dia memprediksi dalam 5–10 tahun lagi teknologi blockchain yang menjadi tulang punggung cryptocurrency akan semakin matang.

“Nanti, sepuluh tahun lagi juga Generasi Z sudah biasa, semuanya berbasis blockchain. Ini kan, the new internet era sebenarnya. Next level of internet ya di blockchain. Di atasnya baru ada cryptocurrency dan macam-macam,” tutur Wiwid.

Dulang Cuan Banyak
Akan tetapi, meski sudah bergelut sekian lama dengan aset kripto dan makin mengetahui selak beluknya, sejak membeli satu Bitcoin pada Maret 2017, Wiwid tak pernah berniat menambah lagi aset kripto-nya.

Bukan apa-apa, selama ini, all-time high atau nilai tertinggi Bitcoin sudah mencapai angka sekitar Rp960 juta per satu Bitcoin.

Artinya, ia sudah untung sekitar 3.200% dari modal membeli satu Bitcoin seharga Rp30 juta. Jadi, tak usah heran jika setiap kali nilai Bitcoin meroket alias bull run, ada orang-orang yang tiba-tiba kaya. Mereka membeli Bitcoin di harga rendah dan menjualnya saat harga tinggi.

“Sebenarnya dengan kenaikan Bitcoin sebanyak itu penjelasan paling simpel adalah utang-utang bisa lunas, KPR lunas, cicilan-cicilan lunas, pokoknya lunas semua. Jadi kayak langsung enteng. Intinya begitu,” ungkap dia.

Kendati demikian, Wiwid tetap tidak mau menjual atau mencairkan Bitcoin miliknya. Yang terpenting baginya adalah investasi jangka panjang ini terus berputar. Satu hal yang membuatnya kian optimistis adalah langkah pemerintah untuk membuat regulasi mata uang kripto. Di Tanah Air, seperti di banyak negara, Bitcoin dan semacamnya sampai kini bukanlah dikategorikan sebagai alat tukar semacam uang. Terminilogi yang ditetapkan adalah sebagai aset investasi, bukan mata uang. 

“Baru tahun ini pemerintah melalui Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi secara serius menggarap regulasi cryptocurrency. Dulu kan enggak boleh, orang tahunya ini uang ilegal buat beli narkoba atau apa,” jelasnya.

Kini kepopuleran mata uang kripto menarik minat semakin banyak orang. Menurut Wiwid, salah satu hal yang menarik dari investasi ini adalah seseorang tidak perlu membeli Bitcoin dalam jumlah bulat. Dengan uang Rp100 ribu, misalnya, sudah bisa punya nol koma sekian Bitcoin.

Dia menyarankan investasi mata uang kripto sebaiknya menggunakan uang dingin. Mengingat ini merupakan investasi high-risk. Meskipun dia sendiri meyakini bahwa jatuhnya nilai Bitcoin hanya momen sesaat. Nilainya akan kembali meningkat setelah koreksi pasar.

“Kalau belum pernah beli Bitcoin, pakai strategi buy and hold. Begitu saja. Jadi beli dulu, baru mikir. Karena kalau kita mikir dulu pasti enggak terbeli. Tahu-tahu harganya sudah naik lagi. Jadi buy and hold saja, tetapi sesuai kemampuan kita, sesuai profil risiko kita,” tegas Wiwid.

Ada Risiko
Selayaknya investasi, apalagi yang berisiko tinggi, untung tak selamanya datang dalam bermain kripto. Pengalaman untung dan buntung dalam investasi Bitcoin, pernah berulang dialami Arief Utama.

Ia bercerita, mulai menceburkan diri berinvestasi uang kripto, setelah bosan main dengan investasi saham. Pada Maret 2021, dengan modal Rp10 juta dari hasil keuntungan investasi saham, ia membeli uang kripto. Ia mengaku, butuh waktu sekitar dua pekan untuk mempelajari investasi baru itu.

Arief sengaja membeli uang kripto yang termasuk kategori second liner seperti Zilliqa. Alasannya, nilainya masih cukup rendah dibanding uang kripto generasi pertama seperti Bitcoin.

“Sempat untung 54% dengan cara trading, meski sempat juga rugi sekitar 20-30%,” urai Arief.

Menurut dia, saat ini, informasi akan uang kripto sudah banyak. Tidak seperti pada 2017–2018. Kini, dia belajar banyak trik tentang uang kripto dari konten-konten di aplikasi TikTok.

“Banyak banget kalau dicari di YouTube. Aku banyak belajar dari TikTok, misalnya untuk koin kripto apa saja yang direkomendasi," ungkap Arief.

Menurut dia, ada beberapa perbedaan antara saham dan uang kripto. Satu yang pasti, investasi saham lebih konkret karena ada produk riil dari perusahaan saham tersebut. Sementara uang kripto, terlihat lebih ‘imajiner’ karena tidak berwujud.

Kata Arief, hal lain yang membedakan investasi lain dengan dunia uang kripto adalah, adanya komunitas yang lebih berkembang. Dari pengalamannya, ia merasa para pemainnya rajin sharing informasi, bahkan memberi motivasi ketika nilai mata uang kripto sedang merosot.

“Komunitasnya kripto itu benar-benar hidup. Di saham kan kalau lagi hancur-hancurnya ya sudah stres sendiri. Aku merasakan begitu. Kalau di Bitcoin itu kayak semua platform ramai. Misalnya, tiba-tiba minus 50%, karena kamu salah strategi atau bagaimana. Itu masih ada orang-orang lain yang kayak malah nguatin kamu,” bebernya.

Senada dengan Wiwid, Arief yakin aset kripto akan menjadi investasi jangka panjang. Setidaknya bagi dirinya  sendiri untuk 5-10 tahun ke depan. Seperti Wiwid pula, dia pun tak berniat mencairkannya dalam waktu dekat. Ia melihat nilai aset kripto yang fluktuatif, dipandang biasa. Ia yakin pasar punya potensi positif.

Cuan dari investasi alternatif ini rencananya akan ia gunakan sebagai bekal masa pensiun orang tuanya. Tak tanggung-tanggung, laki-laki berusia 26 tahun itu menargetkan nilai mata uang kripto miliknya akan menyentuh Rp1 miliar dalam lima tahun ke depan.

“Makanya aku lagi fokus-fokusnya belajar kayak begini. Sekarang usia orang tua 55 tahun berarti range aku ya umur 60 tahun mereka sudah pensiun. Jadi sudah bikin planning-nya, ya semoga saja jalan. Target aku mengincar Rp1 miliar, kecil sih dalam lima tahun,” kata Arief.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER