Selamat

Rabu, 22 September 2021

26 Juli 2021|13:57 WIB

Anak Bisa Jadi Sumber Penularan Covid-19 Signifikan Di Rumah

Anak terpapar covid-19 umumnya bergejala ringan

Penulis: Wandha Nur Hidayat,

Editor: Leo Wisnu Susapto

ImageSeorang anak bermain tanpa mengenakan masker di Muara Angke, Jakarta. ANTARAFOTO/Wahyu Putro A

JAKARTA – Anggota Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Nina Dwi Putri mengatakan, anak-anak yang terinfeksi covid-19 umumnya bergejala ringan. Namun, anak-anak dapat menjadi sumber penularan yang signifikan kepada anggota keluarga di rumah.

"Walaupun bergejala ringan, anak-anak tetap bisa menjadi sumber penularan yang penting untuk orang-orang lain di sekitarnya, terutama yang berisiko tinggi," ujarnya dalam Webinar 'Penerapan Protokol Kesehatan dalam Pelaksanaan Belajar dari Rumah', Senin (26/7).

Dia menjelaskan anggota keluarga di rumah yang memiliki risiko lebih tinggi tertular ialah yang termasuk kelompok lansia dan memiliki penyakit penyerta seperti darah tinggi. Untuk itu, anak-anak perlu diajari selalu disiplin menjalankan protokol kesehatan.

"Kalau membantu orang dewasa melakukan protokol kesehatan, artinya anak-anak di rumah sudah menjadi pahlawan untuk semua orang. Bahwa anak-anak membantu untuk tidak menularkan sakitnya ke orang-orang lain yang berisiko tinggi," ungkap dia.

Nina menuturkan anak yang terinfeksi virus penyebab covid-19 umumnya memang hanya bergejala ringan atau tak bergejala khas. Hal ini sering kali membuat orang dewasa tidak menyadari bahwa anak tersebut sudah positif covid-19, sehingga tidak dilakukan testing.

Lebih lanjut, saat ini banyak orang yang masih menganggap kalau testing atau pemeriksaan covid-19 pada anak-anak tidak diperlukan. Padahal, anak-anak pun tetap memerlukan pemeriksaan, sama seperti orang dewasa pada umumnya.

Testing pada anak-anak bukan hanya untuk mencegah penularan pada orang dewasa. Ini dilakukan, agar anak segera mendapat treatment jika ternyata positif. Meski gejala pada anak-anak umumnya ringan, tetapi gejala berat bisa terjadi pada anak dengan komorbid.

"Misalnya anak yang lahir dengan penyakit menahun seperti kanker, ginjal, kelainan jantung bawaan, penyakit paru, asma, diabetes melitus, atau yang sekarang banyak adalah anak-anak yang mengalami obesitas atau anak-anak yang terlalu gemuk," kata dia.

Dokter spesialis anak itu menegaskan ada proporsi anak yang mengalami gejala berat hingga menyebabkan kematian dalam kasus covid-19 nasional. Penelitian di DKI Jakarta, misalnya, menyebut anak dengan komorbid berisiko lima kali lipat untuk meninggal.

Infeksi covid-19 pada anak-anak dinilai perlu diwaspadai, terlebih angka kasus pada anak juga sudah mulai meningkat. Data per 22 Juli 2021 menunjukkan ada 12,8% anak positif dari seluruh kasus nasional. Artinya dari setiap 8 pasien covid-19 ada satu pasien anak.

"Yang meninggal itu dari 100 pasien covid-19 ada satu pasien anak atau anak-anak yang meninggal. Oleh karena itu, angkanya ini kecil, tapi tentu saja kita semua harus bahu-membahu untuk berperang melawan satu musuh kita yaitu virus covid-19," imbuh dia.

Nina mengatakan, ada beberapa sebab kasus covid-19 pada anak sampai saat ini lebih sedikit dibanding kasus dewasa. Pertama, anak lebih banyak di dalam rumah. Kedua, anak lebih sering terinfeksi coronavirus lain sehingga terjadi proteksi silang.

Kemudian sistem imunitas anak umumnya juga masih berkembang. Serta, manifestasi klinis atau gejala pada anak sering kali tidak khas covid-19 sehingga jumlah anak yang dilakukan pemeriksaan juga lebih sedikit dibandingkan dengan orang dewasa.

 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA