Selamat

Rabu, 12 Mei 2021

OASE

12 Desember 2020|18:00 WIB

Taat Sesaat Mencuci Tangan

Kesadaran masyarakat Indonesia mencuci tangan tak beringsut jauh dari satu dekade sebelumnya

Editor: Nofanolo Zagoto

ImageSejumlah pengunjung mencuci tangan dengan sabun saat pembukaan kembali pusat perbelanjaan Mall BTM, Kota Bogor, Jawa Barat, Kamis (18/6/2020). ANTARAFOTO/Arif Firmansyah

JAKARTA – Kafe di kawasan Senayan, Jakarta Selatan itu, tak pernah kesepian pengunjung. Sensasi lampu temaram serta tata letak ruang yang nyaman, mampu membuat mereka yang datang menjadi betah nongkrong di sana. Meski begitu, tampak ada satu hal yang janggal. Tak ada instalasi cuci tangan.

Tak adanya instalasi cuci tangan terang bertolak belakang dengan upaya pencegahan covid-19. Merujuk Pergub DKI Jakarta Nomor 79 Tahun 2020, para penyedia jasa, seperti pusat perbelanjaan, hotel, restoran, serta pemberi layanan masyarakat, seperti instansi pemerintahan, wajib menyediakan fasilitas protokol kesehatan, termasuk tempat cuci tangan.

Namun soal ini, pengelola kafe punya alasannya sendiri. Salah satu pegawai, Riko bercerita, pada pertengahan Juni 2020 lalu, pihaknya menyediakan tempat cuci tangan. Instalasi dadakan itu bahkan ditaruh tak jauh dari pintu masuk. Setiap pengunjung pasti melihatnya dan diharap juga tergerak mencuci tangan.

Pengunjung awalnya banyak yang mau cuci tangan. Tapi, lambat laun kepedulian orang-orang terhadap pentingnya mencuci tangan mulai pudar. Pengunjung yang sebelumnya harus antre cuci tangan di tandon air kini mulai acuh.

"Mungkin mereka malas kali ya, harus cuci-cuci tangan dulu, basah terus ngeringin dulu. Kalau hand sanitizer kan tinggal dipakai sambil jalan," ujarnya kepada Validnews, Senin (7/12).

Karena alasan itulah pihaknya tidak lagi menyediakan fasilitas cuci tangan di depan kafe. Belum lagi soal lantai kotor akibat air tergenang. Pengelola dan pengunjung lama-lama jengah juga.

Meski tak dapat dibenarkan, keputusan yang diambil oleh kafe tersebut dapat dimaklumi. Sebab, nyatanya masyarakatlah yang mengabaikan fasilitas cuci tangan ini.

Apalagi situasi ini juga terjadi di tempat makan lainnya. Salah satunya di tempat makan khas Aceh di bilangan Jakarta Selatan. Tempat makan ini memang masih membiarkan fasilitas cuci tangannya. Namun, tendon berwarna biru itu praktis cuma jadi pajangan penghias semata. Jarang ada pengunjung yang mau memanfaatkannya.

Sepengamatan Validnews, pengunjung di sana terlihat lebih suka memakai hand sanitizer yang dibawanya. Seperti halnya pengakuan Manda Faras (24). Dia merasa lebih nyaman menggunakan hand sanitizer yang dibawanya ketimbang harus mencuci tangan terlebih dahulu sebelum memasuki pusat keramaian.

Selain lebih praktis, hand sanitizer menurutnya memiliki wangi yang lebih enak untuk dicium. Sementara setiap mencuci tangan, dia merasa kulit tangannya terasa lebih kering.

Perilaku Meniru
Kebiasaan sesaat masyarakat mencuci tangan di masa awal pandemi ini sedikit banyak menguatkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskedas) tahun 2018 soal rendahnya kesadaran masyarakat Indonesia mencuci tangan.

Data Riskedas 2018 mengungkapkan, baru 49,8% masyarakat usia di atas 10 tahun yang mempraktikkan perilaku cuci tangan pakai sabun dengan benar. Entah itu sebelum menyiapkan makan, setiap kali tangan kotor, setelah buang air besar, setelah menceboki bayi atau anak, setelah menggunakan pestisida atau insektisida, atau sebelum menyusui bayi.

Ironisnya, kesadaran yang masyarakat rendah ini tak banyak berubah dari masa ke masa. Sepuluh tahun sebelumnya, survei Baseline Environmental Services Program (BESP) USAID 2008 juga mendapati hal sama.

Padahal, mencuci tangan pakai sabun merupakan salah satu upaya pencegahan melalui tindakan sanitasi dengan membersihkan tangan dan jari jemari tangan manusia. Tangan seringkali menjadi agen pembawa kuman dan penyebab patogen berpindah dari satu orang ke orang lain melalui kontak langsung atau tidak langsung.

Kesadaran yang rendah untuk cuci tangan pakai sabun ini diyakini psikolog dari Universitas Bhayangkara Jakarta, Wahyu Aulizalsini akibat dari perilaku meniru. 

Proses ini dalam ilmu psikologis juga dikenal sebagai penguatan atau reinforcement. Hal ini didasari oleh suatu rangsangan yang memperkuat kemungkinan munculnya suatu perilaku. Sampai akhirnya, respons menjadi meningkat karena diikuti dengan stimulus yang mendukung.

Sederhananya, hasil pengamatan berulang terhadap orang lain yang tidak mencuci tangan inilah yang kemudian dapat mengacaukan perilaku cuci tangan seseorang. “Seperti 'dia saja enggak lakuin apa-apa' atau 'tetanggaku juga jarang lakuin tapi sehat-sehat saja'. Hal ini akhirnya membentuk persepsi di kepala bahwa sehat itu enggak harus cuci tangan," terang Wahyu kepada Validnews, Kamis (10/12).

Penyebab lainnya karena masyarakat Indonesia juga masih cenderung lebih suka diarahkan atau diperintah terlebih dulu oleh orang lain, ketimbang berinisiatif sendiri dalam melakukan sesuatu atau tindakan. 

"Kalau di dalam rumah, yang nyuruh anak-anak cuci tangan sebelum makan siapa? Orang tuanya kan? Begitu juga kita mau masuk ruangan atau kantor orang, kalau gak disuruh cuci tangan dulu sama satpam ya nggak akan," terangnya.

Lebih maraknya penggunaan hand sanitizer ketimbang mencuci air dengan air mengalir juga mudah terjadi karena manusia pada prinsipnya suka mencari kemudahan. Wahyu menyampaikan, perilaku yang telah diterapkan dan direkam otak cenderung dapat terkikis apabila manusia dihadapkan dengan kemudahan-kemudahan.

"Ketika ada yang mudah maka untuk apalagi mencari yang sulit," ucapnya.

Wahyu yakin penguatan pendidikan di level keluarga dapat menjadi jalan keluar dari masalah perilaku hidup sehat ini. Ketika mampu mengondisikan seluruh isi anggota keluarga untuk berperilaku hidup sehat, maka anggota keluarga itu otomatis dapat menularkan pemahaman-pemahaman yang ada di dalam rumah kepada orang lain.

Cegah Diare
Perilaku hidup bersih disampaikan Wahyu tidak hanya akan membuat manusia terhindari dari virus corona. Lebih dari itu, kebiasaan ini menjadi salah satu faktor penting untuk mendukung peningkatan status kesehatan penduduk.

Ahli Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Syahrizal Syarif juga mengamini manfaat lain dari mencuci tangan dengan benar. Contoh manfaat dari penerapan cuci tangan di kehidupan sehari-hari, yakni mengurangi angka kematian anak akibat diare.

Berdasarkan data WHO 2017, terjadi hampir 1,7 miliar kasus diare pada anak, dengan angka kematian sekitar 525 ribu anak balita tiap tahunnya. Di Indonesia, masalah diare dan kematian akibat diare ini juga menempati urutan kedua.

"Hanya dengan mencuci tangan, ibu-ibu yang punya bayi, itu akan turunkan angka kesakitan dan kematian karena diare yang cukup signifikan sekali," jelasnya.

Namun, sambungnya, perilaku cuci tangan ini juga perlu dibarengi dengan tercerminnya akses masyarakat terhadap air bersih dan sanitasi yang baik. Pasalnya, publikasi oleh WHO pada tahun 2019 menyebutkan kualitas air dan sarana sanitasi yang buruk dapat menimbulkan berbagai penyakit, seperti kolera, diare, disentri, hepatitis A, tifus, dan polio. 

Ia mengatakan, fakta menunjukkan bahwa akses masyarakat Indonesia terhadap air bersih baru sekitar 70%. Di Nusa Tenggara Barat (NTT) misalnya, masalah utama masyarakat di sana adalah kurangnya akses terhadap air bersih. 

Warga kerap berebut air bersih demi mencukupi kebutuhan masak dan minum setiap hari. Dengan kata lain, ketika air bersih saja tidak ada untuk kebutuhan sehari-hari, bagaimana masyarakat bisa menerapkan hidup bersih di setiap saat.

"Artinya, cuci tangan setelah buang air besar, air kecil, mau makan, atau hal-hal lain terkait keharusan mencuci tangan dengan sabun, di sana itu merupakan hal baru," terangnya.

Syahrizal mendorong pemerintah segera menyiapkan fasilitas sanitasi di wilayah sulit air. Dengan begitu, cuci tangan bagi warga desa atau pelosok yang hingga kini masih dianggap mewah, bisa menjadi kebiasaan.

"Di covid-19 ini, kalau sudah bisa meningkatkan perilaku cuci tangan mencapai 50% bagus sekali," terangnya.

Kendati demikian, meski perilaku cuci tangan sangat penting bagi kesehatan, ia menganjurkan masyarakat tidak sampai berpuluh kali mencuci tangan dalam sehari.

"Jadi, terlalu membuat tangan kita steril setiap saat ataupun bayi kita upayakan steril setiap saat, itu sangat merugikan bayinya. Bayi itu juga sistem kekebalan dibangun dari sistem stimulus respons begitu," ucapnya.

Menurut WHO, mencuci tangan yang baik dan benar adalah cukup sekitar 20-30 detik. Cuci tangan harus dilakukan dengan penggunaan sabun dan dibilas di bawah air mengalir. (Maidian Reviani)

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA