Selamat

Minggu, 20 Juni 2021

OASE

11 Januari 2021|17:56 WIB

Simalakama Wasit Sepak Bola

Untuk dapat pemasukan, kerja serabutan diandalkan. Perhatian stakeholder utama tak terasa
ImageFoto udara lapangan sepak bola PORS (Perkumpulan Olahraga Rakyat Serdang) di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat, Minggu (9/8/2020). Menurut Suku Dinas Pemuda Olahraga Jakarta Pusat, lapangan yang sudah direnovasi selama tiga bulan tersebut menggunakan rumput sintetis jenis Limonta dari Italia. ANTARAFOTO/Fakhri Hermansyah

BOGOR – Sabtu (9/1) siang, Reza Faisal (30) membawa sepasang sepatu sneaker ke tukang sepatu di Ciherang, Dramaga, Kabupaten Bogor. Guru olahraga bersertifikat wasit speak bola nasional ini memilih memperbaiki sepatu lama yang mulai rusak, ketimbang membeli yang baru.

“Ini cara memangkas pengeluaran keluarga,” tutur Reza kepada Validnews, akhir pekan.

Dia sadar, tak bisa egois. Ada anak yang masih kecil dan istri yang lebih membutuhkan biaya hidup. Kepentingan membeli sepatu adalah hal tabu atau pantang dilakukan. Pendapatan sekira Rp2 juta per bulan sebagai guru olah raga honorer di SDN Dukuh 03 Cibungbulang jadi andalan, tak cukup atasi persoalan. Pada saat sama, tambahan pendapatan tak lagi ada saat pandemi.

Sertifikat C1 wasit Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) yang diperolehnya sejak 2019 tak berguna dihempas dahsyatnya corona. Tak lagi ada pertandingan yang imbas kala pandemi melanda.

Padahal, untuk didapuk bersertifikat wasit, ada tahapan yang harus dilalui. Ada tiga tahapan yang harus dilalui wasit sebelum bisa memimpin pertandingan di Liga 1 atau 2.

Tahap pertama, kursus C3 yang diselenggarakan oleh pengurus cabang PSSI dari kabupaten atau kota. Materi dasar yang diajarkan bagi peserta kursus.

Setelah mendapatkan lisensi C3, dan memimpin beberapa pertandingan dalam rentang waktu setahun, wasit baru bisa naik tingkat. Mereka bakal diberi kesempatan untuk mengambil kursus C2.

Tahapan Lisensi
Kursus C2 tersebut digelar Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI. Materi yang diberikan mulai dari teori peraturan permainan sampai tes kebugaran sesuai dengan standar FIFA. Wasit yang dinyatakan lulus dan memegang lisensi C2 diizinkan memimpin pertandingan sepak bola tingkat provinsi, seperti porprov, popda, dan porda. Mereka juga boleh bertugas dalam turnamen-turnamen resmi tingkat provinsi di mana wasit tersebut aktif.

Untuk mendapat kesempatan memimpin pertandingan skala nasional wasit harus mengambil kursus C1. PSSI yang bakal menggelar agenda tersebut dengan materi semakin sulit.

Bila sudah mendapatkan lisensi C1, wasit berhak untuk bertugas di level nasional seperti liga amatir. Namun, untuk memimpin Liga 1 atau 2, pengadil lapangan tersebut bakal dilihat rekam jejaknya dan mesti lolos dari penyegaran wasit yang dilaksanakan PSSI sebelum kompetisi dimulai.

Jalan panjang itu juga dialami Reza. Semuanya dia lalui dengan tekun.

Setelah memegang lisensi C1, sempat dia menikmati buah perjuangan. Setiap Sabtu sebelum pandemi, pendapatannya bertambah. Dia kerap menjadi pengadil di turnamen Liga 3 Indonesia. Minimal, tiap pekan ada tiga pertandingan yang membutuhkan jasa Reza untuk memimpin laga.

“Namun, sejak pertengahan Maret 2020, tak lagi ada pertandingan sepak bola, kegiatan wasit ikut terhenti,” keluh Reza.

Keadaan itu membuat periuk keluarga Reza limbung. Pendapatan menurun drastis. Agar kocek tak bolong, dia memilih menerima memimpin turnamen lokal. Di sisi sama ada risiko cukup berat, karena laga kerap ilegal dan jauh dari protokol kesehatan. Imbalan yang diterima juga tidak seberapa.

Setidaknya, sebulan dua kali Reza bisa memimpin pertandingan sambil berbagi jadwal dengan rekan wasit lainnya.

Meski pertandingan tidak resmi, Reza cukup terbantu. Dia sadar risiko terpapar.  “Tapi mau bagaimana lagi," cetus Reza.

Kocek Bolong
Ada pula peluang Reza menambal keuangan keluarga. Yakni dengan memimpin pertandingan di luar sepak bola. Bulutangkis dan futsal, misalnya. "Apapun saya lakukan selagi mampu untuk keluarga," ucap Reza.

Reza bersyukur, nasibnya masih mujur jika dibandingkan dengan kolega wasit yang sudah senior. Karena fisiknya yang sudah menurun, wasit senior jarang mendapat jatah untuk memimpin pertandingan. Mereka banyak yang memutuskan untuk pensiun dini karena pandemi. Ada yang menjadi tukang ojek, berjualan soto sampai menjual barang-barang bekas demi bertahan hidup.

Sayangnya, kondisi memprihatinkan wasit selama pandemi belum menjadi perhatian serius dari induk sepak bola, PSSI. Padahal, wasit merupakan salah satu elemen penting dalam sebuah pertandingan.

Meski  sudah 10 bulan pandemi covid-19 melanda Tanah Air, bantuan dari PSSI, Kemenpora, pemerintah provinsi untuk wasit bisa dikatakan nihil. Nasib para wasit, kini terkatung-katung mencari cara menghidupi keluarga. Memang pada saat sama pemain mengalami hal serupa. Dia klub sepak bola belakangan juga dibubarkan; Madura United dan Persipura.

"Pada pertengahan tahun lalu PSSI sempat mendata para wasit lewat asosiasi wasit di daerah. Tapi sampai sekarang tidak ada kabar. Kami belum pernah dapat bantuan apapun dari federasi," cetus Reza.

Kabar liga akan kembali dimulai pada 1 Februari sempat membuat para wasit dan pelaku sepak bola gembira. Tapi sayang, kabar ini semacam PHP (pemberi harapan palsu). Sampai sekarang, liga tak kunjung dimulai.

Walau begitu, Reza tetap mengisi akhir pekan dengan menjaga fisiknya. Futsal dan bulu tangkis masih dilakukan. Dia tetap bersemangat. Pikirnya, jika suatu saat liga bergulir kembali, Reza siap.

Kondisi tak jauh berbeda dialami Nusur Fadilah (40). Wasit Liga 1 ini, sebelum pandemi bisa meraup penghasilan Rp15 juta per bulan. Namun kini, dia harus merelakan barang-barang perabotannya dijual, lantaran tabungan sudah tergerogoti. Pemasukan pun tak kunjung datang.

Nusur yang bergantung hanya pada profesi wasit ini sampai pernah meminta bantuan dana kepada sanak saudara untuk menghidupi istri dan tiga anaknya. Mau tidak mau, akhirnya dia merelakan dirinya yang sudah menyandang wasit C1 nasional ini memimpin laga tarkam sambil menjual minuman botol.

"Sebenarnya saya tidak nyaman dengan kondisi ini, tapi ya bagaimana lagi. Keluarga saya perlu makan," ucap Nusur.

Naufal Adya Fauriski (21), wasit termuda di Liga 2 ini justru mendapat hikmah dari berhentinya liga. Ia bisa fokus menyelesaikan kuliah di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) jurusan Sport Coaching Education.  Karena tak ada pemasukan, Naufal tak mau jadi beban. Anak sulung ini sudah pasang ancang-ancang menjual barang-barang mengurangi pengeluaran orang tua.

Sejak Februari 2020, Naufal tidak pernah lagi bertugas dalam laga resmi. Selama pandemi covid-19, untuk sekadar menambah isi dompet, Naufal menyiasatinya dengan memimpin laga fun football di Bandung.

"Tapi honornya enggak seberapa. Sering hanya seikhlasnya dari yang punya acara," urai Naufal kepada Validnews, Minggu (10/1).

Selain menambal pemasukan, menjadi wasit fun football jadi ajang Naufal mengobati kerinduan memimpin pertandingan. Seperti halnya wasit-wasit lainnya yang bukan saja harus turun kasta menangani tarkam, dia juga terpaksa berani terjun ke keramaian. Simalakama sebenarnya.

Sama seperti Reza, Naufal juga sampai saat ini belum pernah mencicipi bantuan dari PSSI sebagai induk federasi. Selama 10 bulan pandemi, dia hanya satu kali diberikan bantuan sembako oleh Kemenpora, tapi belum dari PSSI.

Ke depannya, Naufal berharap pemerintah bisa lebih memperhatikan kesejahteraan wasit, dari gaji ataupun bantuan selama pandemi dan pasca pandemi. Selain itu, jika liga sudah dimulai Naufal juga meminta keamanan wasit yang memimpin pertandingan juga perlu diperbaiki.

Dia menyoroti kondisi wasit di Liga 2 dan Liga 3, yang menjadi korban pemukulan pemain maupun staf tim yang merasa dirugikan.

Nasib miris para wasit ini diamini Ketua Komite Wasit, Sonhadji. Dia memastikan pihaknya akan segera berdiskusi dengan PSSI demi mendapat solusi terkait nasib wasit Indonesia.

Namun, lagi-lagi, ada kendala nyata di depan mata. PT LIB selaku operator juga sedang kesulitan karena tidak ada pemasukan dari sponsor selama liga terhenti. Logisnya, solusi pasti hanya bisa didapatkan jika ada pihak ketiga cawe-cawe, atau pemerintah. Nah, hal ini pastinya tak semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi, menyangkut anggaran di saat pemasukan pun jadi pertanyaan.   

"Saat ini kami memang memikirkan ke arah sana, dengan kompetisi berhenti, perangkat pertandingan nasibnya bagaimana. Sekarang posisi kami sudah berdiskusi dengan PSSI dan PT LIB (operator Liga), yang jelas kami pasti memikirkan nasib mereka (wasit)," kata Sonhadji. (Gisesya Ranggawari)

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA