Selamat

Senin, 26 Juli 2021

OASE

09 Februari 2021|21:00 WIB

Pesta Keragaman Itu Sementara Harus Teredam

Saban tahun, klenteng dan Jalan Suryakencana memang menjadi pusat perayaan Imlek dan Cap Go Meh di kota Bogor. Kali ini, aneka atraksi budaya Tionghoa dan nusantara sementara tak bisa digelar
ImageSuasana Vihara Dhanagun, Surya Kencana Bogor, menjelang Imlek. sumberfoto: Validnews.id/Gisesya Ranggawari

BOGOR – Hujan sudah reda di sekitar Vihara Dhanagun, Suryakencana, Kota Bogor, Senin (8/2) siang. Sekelompok orang bergegas memasang lampion, sekalipun beberapa bagian di tempat ibadah itu masih basah tersiram hujan.

Pekerjaan pun bergegas dirampungkan, agar tak kembali diinterupsi hujan. Maklum, waktu yang tersisa pendek. Tempat itu harus tampak semarak saat perayaan tahun baru Imlek 2021, Jumat (12/2) meski pandemi masih berlangsung.

“Meskipun nanti berbeda dibanding perayaan tahun sebelumnya,” ucap Ayung Kusuma, panitia perayaan Imlek atau tahun baru etnis Tionghoa di wilayah Suryakencana pada Validnews, Senin (8/2).

Satu hal pasti yang membedakan perayaan Imlek tahun ini adalah wihara yang dibangun lebih dari tiga abad lampau oleh pedagang dari suku Hokkian ini, untuk sementara, karena pandemi, tak bisa dikunjungi etnis Tionghoa untuk melaksanakan ritual doa dengan bakar dupa dan lilin.

Hanya saja, meski dipastikan kondisi wihara tak semeriah tahun-tahun sebelumnya, hiasan dan ornamen khas Imlek tetap dipasang di sekitar wihara. Apa boleh buat, menghias wihara jelang Imlek sudah jadi tradisi yang sulit untuk dihilangkan begitu saja.

Sekadar informasi, mulainya klenteng ini bernama Hok Tek Bio. Warga Tionghoa membangun kelenteng ini untuk kepentingan ibadah mereka. Di depan wihara, gapura bertuliskan ‘Lawang Suryakancana, Kampung Tengah-Buitenzorg, Dayeuh Bogor’ masih gagah berdiri. Kalimat di gapuran tersebut diambil dari bahasa Sunda dan bermakna Gerbang Suryakencana, Kampung Tengah-Bogor, Kota Bogor.

Sayangnya, pandemi membuat gapura megah di depan wihara itu tak akan lagi banyak dilintasi orang yang ingin berdoa atau sekadar mengunjungi wihara. Pandemi jugalah yang membuat daerah pemukiman sekitar wihara yang dikenal dengan Pecinan di Kota Bogor itu terlihat sepi oleh ornamen khas Imlek.

Ayung bertutur, sebulan sebelum Imlek, wilayah itu biasanya ramai oleh ornamen yang didominasi warna merah. Baik di jalan, di depan ruko milik penduduk etnis China, bahkan di sekitar Jalan Suryakencana.

Lokasi Jalan Suryakencana sendiri persis berada di depan pintu masuk utama Kebun Raya Bogor. Jalan satu arah ini jika ditelusuri akan menuju Tajur dan Batu Tulis.

Di jalan ini juga ada pasar tradisional yang hidup nyaris sepanjang hari. Di tengah malam hingga subuh pasar ramai oleh pedagang buah dan sayuran. Selepas subuh hingga sore hari, giliran pedagang eceran yang menjajakan dagangannya.

Namun, lagi-lagi, seperti perayaan hari raya agama lain pada masa pandemi, perayaan Imlek kali ini terpaksa harus mengalah pada pandemi. Padahal, perayaan Imlek di Kota Bogor, tak sekadar menjadi hari raya milik warga keturunan Tionghoa.

Di Kota Hujan, Imlek memiliki makna keberagaman dan persatuan sejak 2008. Mulai tahun itu hingga sebelum pandemi, Imlek menjadi pentas seni kebudayaan nusantara di Kota Bogor yang ramai disaksikan masyarakat.

Saban tahun, klenteng dan Jalan Suryakencana memang menjadi pusat perayaan Cap Go Meh di Bogor. Diperayaan yang diadakan sekitar dua pekan setelah Imlek tersebut, aneka atraksi budaya termasuk Liong Barongsai dipertontonkan.

Puncaknya, digelar parade seni Nusantara. Saat hajatan besar itu diselenggarakan, sekitar Suryakencana akan dipadati pengunjung yang jumlahnya bisa mencapai 100 ribu orang. Kesenian barongsai berpadu dengan seni gerak dan musik tatar Sunda. Hadir pula aksi gerak dan musik seantero Indonesia.

Umumnya, arak-arakan kesenian mulai berangkat dari Balai Kota Bogor. Pada 2010 silam, acara Imlek di Surya Kencana mendapat rekor MURI untuk naga liong sepanjang 50 meter yang dimainkan oleh 15 orang.

Larangan Keramaian
Kini, bayangan keriaan semacam itu mungkin tinggal kenangan. Larangan acara yang menimbulkan keramaian mesti diterapkan. Wakil Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim larangan itu bukan sepihak dilakukan Pemkot Bogor, tapi merupakan sebuah kesepakatan dari rapat koordinasi Pemkot Bogor dengan kepolisian, TNI, dan pengurus vihara.

Tak ada pilihan, kekhawatiran akan kerumunan berdampak pada penyebaran covid-19, membuat semua pihak sepakat, meniadakan perayaan keragaman di Kota Bogor itu. Apalagi, lanjut Dedie, Imlek 2021 pada Jumat, 12 Februari itu bertepatan dengan kebijakan ganjil-genap Kota Bogor yang menutup akses jalan Surya Kencana.

Sebagai gantinya, Pemkot Bogor menyerahkan perayaan Imlek 2021 pada pengelola Vihara Dhanagun. “Misalnya, dengan mengubah perayaan Imlek secara virtual,” saran Dedie menjawab Validnews, Senin (8/2).

Meski begitu, Ayung masih yakin ketiadaan perayaan Imlek secara besar-besaran tidak akan menghilangkan nuansa keberagaman di Kota Bogor, khususnya di kawasan pecinan Suryakencana.

"Keragaman itu tetap ada. Tahun ini, kita ambil hikmahnya, istirahat setelah belasan tahun merayakan Imlek besar-besaran," ujar Ayung.

Tradisi mengucap syukur dengan berbagi seperti angpao, misalnya, tetap diagendakan. Pada perayaan Imlek, sejak pagi di depan Vihara Dhanagun biasanya sudah berjajar warga sekitar menanti angpau.

Namun khusus tahun ini, Ayung dan pengurus wihara bakal menegakkan protokol Kesehatan sesuai aturan pemerintah setempat. Termasuk mengosongkan wihara bagi pengunjung yang akan berdoa di tempat itu.

Pengurus wihara yang bertugas saat Imlek, juga diwajibkan menjalani swab test terlebih dahulu. Jika ada yang positif, tegas akan dipulangkan dan dibebastugaskan.

Bagi yang mau berdoa, pengurus wihara membuka pendaftaran secara daring. Mereka hanya dibolehkan memesan lilin untuk kemudian dipasang oleh petugas di wihara.

“Silakan berdoa di rumah masing-masing,” lanjut Ayung.

Panitia pun menyebar pesan bagi mereka yang merayakan Imlek. Tradisi mengunjungi kerabat yang lebih tua juga disarankan untuk ditunda lebih dulu. Silahturahmi masih bisa dilakukan lewat pesan singkat atau aplikasi media sosial. Untuk pemberian angpau, bisa memanfaatkan transfer perbankan atau beragam platform digital.

Tetap Semangat
Apapun kondisinya, perayaan keagamaan memang tak boleh begitu saja lenyap. Semangat inilah yang setidaknya masih dimiliki oleh seorang wanita yang minta disapa Ci Lauw (45). Ia mengaku tetap akan menyemarakkan tahun baru Imlek kali ini dengan caranya sendiri.

“Tetap akan semarak buat saya dan keluarga. Meski ada tradisi yang tak dapat kami lakukan seperti menyalakan lilin dan berdoa di wihara,” urai ibu dari beberapa anak ini sambil tersenyum menjawab Validnews, Senin (8/2).

Ci Lauw bersama keluarga kecilnya juga sudah menyiapkan perayaan kecil-kecilan di rumahnya. Menghias rumah lengkap dengan lilin dan lampion pun dilakoninya.

"Saya sih terima saja, ini keputusan terbaik dan paling aman menurut saya. Tapi tentu tidak menghilangkan semarak tahun baru," kata dia saat berbelanja di Suryakencana menyiapkan perayaan Imlek.

Ia hanya meminta, wihara bisa menyiarkan doa dan perayaan tahun baru di tempat itu secara streaming. Dengan begitu perayaan Imlek dan penyalaan lilin bisa secara serentak dilakukan di rumah masing-masing.

Terselip harap, tahun shio kerbau logam ini bisa membawa hal positif bagi keluarga. "Harapan imlek tahun ini tidak muluk-muluk, agar keuangan bisa membaik dan pandemi covid-19 cepat selesai," ucapnya. (Gisesya Ranggawari)

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA