Selamat

Sabtu, 23 Oktober 2021

14 April 2021|12:41 WIB

Orang Tua Diharap Pahami Pengasuhan Positif

Materi e-learning pengasuhan positif terbagi dalam enam sesi
Image Ilustrasi keluarga. Shutterstock/dok

JAKARTA – Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) melakukan uji coba modul pengasuhan positif dalam bentuk E-Learning Pengasuhan Positif. Targetnya, orang tua dan pengasuh. 

Asisten Deputi Bidang Pemenuhan Hak Anak atas Pengasuhan Keluarga dan Lingkungan KPPPA, Rohika Kurniadi Sari mengatakan, uji coba E-learning Pengasuhan Positif merupakan upaya untuk menjawab tantangan, sekaligus solusi bagi 81,2 juta keluarga agar mampu mengasuh anak dengan baik, sesuai kaidah hak anak.

“Dalam setiap proses pengasuhan, baik yang dilakukan oleh orang tua maupun pengasuh, perlu ada pemahaman khusus agar pola pengasuhan yang mereka terapkan pada anak tidak menjurus pada tindak kekerasan yang dapat merugikan anak,” ujar Rohika melalui keterangannya, Rabu (14/4).

KPPPA sejak 2020 telah mengembangkan modul pengasuhan positif bagi orang tua, pengasuh dan lembaga penyedia layanan pengasuhan berbasis hak anak, guna menjangkau lebih banyak orang tua atau pengasuh dan fasilitator. Namun, tahun ini KPPPA bekerja sama dengan Yayasan Sayangi Tunas Cilik (YSTC) mengembangkan modul itu ke dalam bentuk e-learning.

Ia mengatakan, e-learning pengasuhan positif tersebut dapat diakses gratis melalui https://elearning.kemenpppa.go.id, dengan terlebih dahulu melakukan pendaftaran akun. 

Materi e-learning pengasuhan positif terbagi dalam enam sesi. Sesi pertama berisikan pembelajaran terkait hak anak dalam pengasuhan. Sesi dua terkait dasar-dasar pengasuhan yang berisi tentang definisi pengasuhan, refleksi pengasuhan dan piramida pengasuhan.

Sesi tiga mengenai kelekatan dan cara membangun kelekatan, serta peran ayah dan dampaknya dalam pengasuhan. Sesi empat terkait disiplin positif, sesi lima soal perkembangan anak, dan sesi enam, terkait pemecahan masalah.

Zaldy Zulkifli dari Save The Children mengatakan, pengasuhan positif memang sangat penting diterapkan karena terkadang orang tua gagal memaknai disiplin dengan tepat, sehingga pengasuhan yang dilakukan justru mengarah pada unsur kekerasan. Menurutnya, kekerasan masih dianggap efektif oleh orang tua dalam mengasuh dan mendidik anak.

“Ini juga disebabkan karena adanya pemahaman yang kurang tepat terkait dengan disiplin. Selama ini disiplin dipahami sebagai sesuatu yang harus keras, harus membuat anak jera, bersifat menyakiti sehingga dalam praktiknya disiplin identik dengan  hukuman,” ujar Zaldy.

Dia menambahkan, tantangan dalam pengasuhan anak akan terus dihadapi orang tua, seiring anak tumbuh dan berkembang. Oleh karena itu, orang tua harus meningkatkan kapasitas dan pengetahuannya terkait pengasuhan.

“Menjadi orang tua itu tidak ada sekolahnya, maka kita ingin para calon orang tua, orang tua dan pengasuh juga perlu belajar secara khusus cara menjadi orang tua atau pengasuh. Selama mengasuh anak-anak, kita akan selalu berhadapan dengan tantangan-tantangan dan konflik dalam pengasuhan sejalan dengan pertambahan usia anak,” pungas Zaldy. (Maidian Reviani)

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER