Selamat

Rabu, 12 Mei 2021

OASE

21 Desember 2020|21:00 WIB

Museum Peranakan Tionghoa yang Terabaikan

Di tengah keramaian pasar, museum ini tetap sepi pengunjung

Editor: Nofanolo Zagoto

ImageSuasana Benteng Heritage Museum. Validnews/Herry Supriatna

JAKARTA – Siang itu, riuh pasar di sekitar Jalan Cilame, Pasar Lama, Tangerang, Banten sudah mereda. Terpal-terpal sudah tergulung. Pun, mayoritas pedagang telah merapikan lapaknya. Biasanya, di kelengangan inilah, orang-orang baru lebih mudah menyadari keberadaan sebuah cagar budaya di sana.

Cagar budaya berupa bangunan dua lantai yang penuh dengan ornamen khas China ini dikenal dengan nama Benteng Heritage Museum. Bangunan ini salah satu bangunan tertua di Kota Tangerang. Kira-kira dibangun pada akhir abad-17.

Ironisnya, status cagar budaya tak membuat bangunan tersebut diistimewakan warga sekitar. Kesan kumuh justru lebih terasa. Area depan museum dijadikan sebagai lokasi pembuangan sampah. Alhasil, bau tak sedap pun merasuk ke hidung.

Museum tersebut juga terbilang sepi pengunjung. Kalau saat kondisi normal rata-rata pengunjung hanya 10–15 orang per hari. Saat pandemi covid-19, situasinya lebih miris lagi. Pengunjung bisa cuma 4–5 orang per hari. Bahkan, kadang, tak ada sama sekali yang datang.

Minimnya ketertarikan masyarakat, ditambah keadaan sekitar museum yang tak mendukung, membuat museum ini kian terabaikan. Padahal, sebenarnya di museum ini pengunjung dapat menemukan hal-hal unik yang berkaitan dengan kehidupan etnik Tionghoa, serta pelbagai artefak yang menjadi saksi bisu kedatangan nenek moyang penduduk Tionghoa Tangerang (China Benteng) yang mendarat di Teluk Naga pada tahun 1407.

Museum ini mulanya merupakan rumah yang dijadikan markas organisasi perdagangan Tionghoa di Tangerang. Namun, pada abad ke-19, rumah ini dibeli oleh satu keluarga bermarga Loa. Mereka tinggal di rumah ini secara turun temurun hingga tahun 2009.

Kemudian, rumah yang letaknya dekat dengan Kelenteng Boen Tek Bio ini kemudian dibeli oleh Udaya Halim. Setelah dibeli, rumah ini langsung direstorasi kira-kira dua tahun lamanya.

Pada tanggal 11 November 2011, Benteng Heritage Museum diresmikan. Unsur nama Benteng sendiri diadopsi kehidupan peranakan Tionghoa Tangerang atau disebut China Benteng.

Minim Peran Pemda
Walau berstatus cagar budaya, kontribusi Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang masih minim terhadap museum ini. Pengelola sampai sudah bosan meminta pemerintah daerah turut andil membenahi kawasan sekitar museum. Sampai kini, permintaan tidak digubris.

Keberadaan tempat pembuangan sampah di depan museum menjadi contoh abainya pihak pemerintah. Akhirnya, sampah dan museum seolah tak terpisahkan. Sering kali, warga sekitar Benteng Heritage Museum selalu menunjuk sampah sebagai patokan lokasi museum.

“Dulu sampah itu diangkutnya sore hari. Kemudian kita komplain ke RW kalau sampah hingga sore hari belum diangkut. Akhirnya diberlakukan angkut sampah di siang hari,” kata Martin, pemandu wisata di Benteng Heritage Museum kepada Validnews, Sabtu (19/12).

Di sisi lain, koleksi Museum Benteng Heritage kerap menuai decak kagum pengunjung. Pengunjung disampaikan Martin banyak yang mengaku mendapatkan pengetahuan baru, terutama pengetahuan tentang budaya Tionghoa peranakan di Kota Tangerang.

Sayangnya, kebanyakan pengunjung tersebut datang dari luar Kota Tangerang. Sementara, warga Kota Tangerang malah banyak yang tidak tahu Benteng Heritage Museum, termasuk tetangga Martin.

“Mayoritas masyarakat Kota Tangerang hanya tahu Pasar Lama, tapi Benteng Heritage Museum tidak tahu,” ujarnya.

Keadaan ini diperparah dengan pemasangan papan penunjuk arah museum oleh pemerintah setempat yang sedikit melenceng. Pemkot memasang di sisi jalan yang salah. Akibatnya, tak sedikit pengunjung yang dibuat bingung karenanya.

Pihak museum sudah berkali-kali meminta pemda memindahkan papan nama museum, tapi lagi-lagi belum ditanggapi.

Sarat Nilai Sejarah
Sejarah memang tergambar dari isi museum. Begitu memasuki museum saja, pengunjung sudah disambut oleh dua patung singa (cioh sai) yang terbuat dari batu. Kedua patung singa itu berada tepat di sisi kanan dan kiri pintu masuk.

Hanya saja, begitu memasuki area museum para pengunjung tidak diperkenankan mengambil foto. Salah satu alasannya, untuk menjaga seluruh artefak agar tidak rusak.

Area museum di lantai bawah dijadikan tempat khusus untuk acara-acara pertemuan atau rapat. Di situ terdapat satu barang yang menarik perhatian, yakni prasasti yang berumur kurang lebih 147 tahun.

Prasasti itu merupakan donasi warga sekitar yang disebut dengan China Benteng. Di prasasti tersebut tertulis 81 nama-nama orang Tionghoa keturunan yang berpartisipasi membangun Kota Tangerang.

Di lantai dua, terdapat masterpiece museum berupa relief yang diletakkan di area terbuka, tepat di tengah-tengah bangunan. Ukiran batu itu menceritakan tentang Dinasti Warriors atau Dewa Kwang Kong yang menjadi bagian dari Legenda Sam Kok.

Relief berbalut keramik berwarna merah dan hijau itu menggambarkan Dewa Kwang Kong sedang mengantar istri saudaranya, Liu Bei ke suatu tempat. Dewa Kwang Kong harus melalui lima gerbang. Di setiap gerbangnya terdapat tantangan yang dijaga oleh panglima utusan musuhnya, Cao Cao. Gerbang demi gerbang berhasil diatasi Dewa Kwang Kong. Keberhasilan ini menjadikan dirinya sebagai panglima perang.

Relief yang menceritakan Dewa Kwang Kong ini sudah ada sejak bangunan museum didirikan. Relief beserta jendela, pintu dari kayu di setiap sisinya masih orisinal.

“Lebih dari seribu barang-barang bersejarah menghiasi museum. Kebanyakan barang yang dipajang merupakan koleksi pribadi Udaya Halim. Sisanya merupakan donasi dari semua orang dan peninggalan rumah,” jelas Martin.

Semua koleksi yang ada di dalam museum setiap harinya dibersihkan. Untuk artefak berbahan kayu dan lantai berbahan kayu, pihak museum menggunakan kain basah tanpa pembersih yang mengandung bahan kimia. Sementara koleksi berbahan kaca, hanya dilap dengan kain kering.

“Sementara masterpiece museum menggunakan jasa pembersih dari luar. Tidak sembarangan orang bisa membersihkannya. Itu pun tiga tahun sekali,” ucap Martin.

Salah satu pengunjung, Miko, mengaku puas seusai menjelajahi museum. Sebab di museum itu dia bisa mengamati langsung koleksi pakaian yang digunakan orang Tionghoa peranakan hingga perabot yang digunakan di masa lalu. Dia makin senang karena kondisi di dalam museum juga sangat bersih dan 95% tampak orisinal.

Namun, dia sedikit menyayangkan ukuran museum. Miko menilai Benteng Heritage Museum kurang luas. Secara kuantitas, artefak yang dipajang pun masih kurang banyak. Miko merasa koleksi museum perlu ditambah. Banyak aspek-aspek kebudayaan Tionghoa peranakan yang bisa menjadi koleksi museum.

“Mungkin bisa diperkaya kembali koleksinya dengan menampilkan barang-barang kuno yang berkaitan dengan budaya orang Tionghoa di Indonesia,” kata Miko kepada Validnews, Minggu (20/12).

Selain itu, kebijakan tidak boleh foto dari pihak museum juga dikeluhkan Miko. Bagi Miko, pelarangan mengambil gambar di area koleksi museum dapat menurunkan value Benteng Heritage Museum. Imbasnya, orang-orang akan ogah berkunjung walau tarif yang dikenakan hanya Rp30 ribu per orang.

Dia menyarankan, pihak museum menghapus kebijakan itu dengan mendampingi setiap pengunjung yang berswafoto.

Bangun Komunikasi
Soal andil, Pemkot Tangerang tak bisa memungkiri. Selama ini Benteng Heritage Museum hanya berjalan sendiri. Makanya, Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata dan Pertamanan Kota Tangerang, Ubaidillah Ansar ingin mengubah hal itu.

Dia menyatakan bakal membuka ruang-ruang komunikasi antara pihaknya dan pihak Benteng Heritage Museum. Dengan begitu, dapat diketahui apa yang perlu dilakukan oleh pemda untuk kemajuan museum.

"Selama ini komunikasinya tidak pernah terbangun. Masing-masing sebelumnya punya egonya sendiri. Tapi yang jelas, saya ingin mengubah hal itu," kata Ubaidillah kepada Validnews, Senin (21/12).

Salah satu persoalan yang ada di Benteng Heritage Museum adalah lingkungan kumuh dan lokasi pembuangan sampah tepat di depannya. Menurutnya, lokasi museum di tengah-tengah pasar becek salah satu penyebab kekumuhan terus terjadi.

Opsi pemindahan lokasi pasar sempat dipikirkannya. Namun hal itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dirinya tidak tahu harus memindahkan pasar ke mana.

Oleh sebab itu, selain membangun komunikasi dengan pihak Benteng Heritage Museum, masyarakat sekitar harus bersama-sama membangun lingkungannya. Karena kalau hanya pemerintah saja tanpa adanya keikutsertaan masyarakat, akan sangat percuma.

"Atau mungkin pasar tidak bisa dipindahkan, tetapi ada kesadaran bersama supaya pasar itu menjadi nyaman," kata dia.

Meski dimiliki pihak swasta, Benteng Heritage Museum merupakan aset Kota Tangerang. Pemda disebutnya ingin komunitas-komunitas yang memiliki kepedulian dengan budaya dan pariwisata dapat tumbuh dan berkembang. Salah satunya Benteng Heritage Museum.

"Saya ingin Benteng Heritage Museum jauh lebih baik dan semua permasalahan bisa terakomodasi," pungkas Ubaidillah. (Herry Supriyatna)

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER