Selamat

Rabu, 12 Mei 2021

KESRA

22 Maret 2021|21:00 WIB

Menjaga Asa Suporter Klub Sepak Bola

Kompetisi 2021 memantik harap bisa menaikkan pendapatan klub pendukung
Image The Jak Mania sebelum pandemi covid-19. . ANTARA FOTO

JAKARTA – Sehari jelang pertandingan perdana Persija Jakarta pada Senin (22/3) di ajang Piala Menpora 2021, Arga Pratama (27), pendukung klub itu sudah menyiapkan diri. Pendukung Macan Kemayoran ini antusias tetap menegaskan dukungan. Meski yang dilakukan hanya di rumah saja.

Situasi kini memaksa Arga dan The Jakmania alias The Jak, julukan pendukung klub yang bermarkas di Jakarta untuk berdiam di rumah. Uang yang semula ditujukan membeli tiket pertandingan, kini menjadi dana untuk makanan ringan. Dia cukup puas menyaksikan pertandingan langsung dari televisi, sambil mengudap camilan di rumah.

Soal seru atau tidaknya pertandingan, dia kesampingkan dulu. Melihat Marco Simic dan kawan-kawan mengolah si kulit bundar di lapangan, sudah jadi pengobat rindu bagi Arga.

Sebelum pandemi covid-19, kenang Arga, tiket pertandingan Persija melawan klub lain, jauh hari sudah dia dapatkan. Persiapan juga wajib dilakukan. “Sambil mix and match baju terbaik untuk datang ke stadion mendukung langsung Macan Kemayoran,” kisahnya kepada Validnews, Minggu (21/3).

Ya, meski pertandingan kini sudah digelar, tak terprediksinya akhir pandemi covid-19 membuat pemerintah masih melarang kerumunan. Kegiatan lain juga bernasib sama. Bukan hanya di stadion, nonton bareng atau nobar pertandingan di tempat-tempat tertentu, adalah terlarang dilakukan.

Sejak usia delapan tahun, Arga mengaku sudah menonton pertandingan sepak bola. Empat tahun berselang, dia ‘diracuni’ kegandrungan akan sepak bola lokal oleh salah seorang temannya yang kini sudah almarhum. Kebetulan, temannya suka Persija. Saban hari dia diracuni hal-hal soal tim Macan Kemayoran. Satu tahun kemudian, dia debut nonton di stadion, saat Persija melakoni laga uji coba melawan PS Urakan pada tahun 2009.

Setelah itu, Arga jarang absen datang ke stadion mendukung Persija. Laga internasional juga tak dilewatkan oleh Arga. Potongan tiket demi tiket disimpannya sebagai kenangan di dalam kotak khusus berwarna biru. Dia pun bergabung dengan Jakmania. Belakangan, lelaki usia 27 tahun ini aktif mengelola klub pendukung itu.

Kini, dihelatnya Piala Menpora 2021, menjadi angin segar bagi klub sepak bola, tak terkecuali suporter. Selama pandemi, suporter bola lokal terkesan mati suri. Beruntung, The Jakmania terlihat lebih stabil karena memiliki manajemen dan AD/RT yang jelas.

Meski demikian, The Jakmania dan organisasi suporter lainnya senasib setahun ini. Mereka tidak ada pemasukan. Adapun income didapat hanya dari penjualan merchandise. 

"Iuran bulanan anggota juga sulit ya, ada beberapa anggota yang juga kena PHK dari kerjaannya karena pandemi," paparnya Arga.

Sekretaris Umum The Jakmania, Rajiva Baskoro bercerita, meskipun tidak ada laga sepak bola, The Jak lumayan sibuk. Di awal-awal pandemi covid-19, The Jak menggaungkan kampanye #JagaJakarta dan memasang spanduk-spanduk di wilayah-wilayah di Jakarta yang bertuliskan Kota Ini Mau Sehat.

"Kampanye #JagaJakarta disimbolkan dengan logo macan Infokom Jakmania menggunakan masker. Tujuannya pada saat itu sosialisasi pentingnya penggunaan masker," jelas Jiva saat berbincang dengan Validnews, Minggu (21/3).

Jakmania kemudian mengadakan kegiatan sosial dengan menjual kaos bergambar logo macan Infokom Jakmania menggunakan masker. Kaos dengan hashtag #JagaJakarta bisa mendatangkan kocek kurang lebih Rp41 juta. Ada pula donasi sekitar Rp15 juta dari anggota via link donasi bekerja sama dengan ACT.

Seluruh uang yang terkumpul baik dari penjualan kaos dan link donasi, seluruhnya disalurkan via ACT untuk membantu kebutuhan peralatan bagi petugas medis dan masyarakat yang membutuhkan bantuan sembako.

Selain membantu pihak luar, PP Jakmania juga tidak lupa dengan para anggota. Sembako untuk para anggota yang terdampak dari covid-19, disalurkan bekerja sama dengan beberapa pihak.

Selain kegiatan-kegiatan tersebut, untuk tetap menjaga pemasukan, PP Jakmania mengadakan kegiatan Konser Virtual. Band yang tampil juga band anak-anak The Jak. Mereka tampil live via streaming, dan anggota yang ingin menonton membayar tiket virtual.

Keuntungan dari kegiatan tersebut diberikan kepada almarhum Sofyan Hadi, legenda Persija yang pernah mengantarkan tim Ibu Kota juara baik sebagai pemain maupun pelatih.

Pengurus pusat The Jakmania juga sempat bekerja sama dengan pihak aplikator usaha rintisan, seperti CAKAP. Anggota berkesempatan mendapatkan pembelajaran bahasa Inggris secara daring lewat aplikasi. Juga ada pelatihan public speaking untuk para pengurus, dan juga mendapat slot siaran radio di Indika FM setiap hari Minggu.

Untuk menjaga koordinasi antara pengurus pusat The Jakmania dan para koordinator wilayah (korwil), suporter selalu mengadakan briefing online via zoom meeting, dan juga via WhatsApp group. Pada saat sama, akun Infokom Jakmania di IG, FB, Twitter, dan YouTube serta website www.jakmania.id juga menjadi wadah sosialisasi kegiatan.

Untuk pemasukan kas, klub pendukung ini membuka beberapa kali batch pendaftaran anggota baru/perpanjangan Kartu Tanda Anggota (KTA). KTA baru Jakmania ini berbentuk Tapcash bekerja sama dengan BNI. Dari agenda ini, sekitar 15 ribu anggota baru mendaftar via korwil masing-masing dan biro resmi PP The Jakmania. Selain itu, dompet kas juga diisi lewat beberapa unit usaha lain seperti officialstore PP The Jakmania, dan usaha seperti berdagang frozen food.

"Kami tetap mencari cara agar bisa terus eksis dan bisa mengedukasi para anggota khususnya, dan masyarakat umumnya," ucap Jiva.

Untuk urusan menjaga kekompakan anggota. Berbagai kegiatan juga dilakukan. Misalnya, menjaga silaturahmi antara anggota dan mengadakan turnamen E-Sports. Pemenangnya kemudian dimasukkan menjadi anggota divisi E-Sports PP The Jakmania.

Berbagai kegiatan tersebut, dilakukan menjaga asa bersama. Para penggemar fanatik klub sepak bola seperti Persija, punya keinginan sama yang membuncah. Mereka ingin kembali merasakan gairah menyaksikan klub kebanggaannya berlaga.

"Rasanya di hati berdebar-debar. Perasaan menanti laga Persija lebih dari perasaan cemas menunggu jawaban dari gebetan, atau nunggu jawaban panggilan kerja," seloroh Jiva diiringi tawa.

Bisa jadi banyak yang menilai itu hanya kelakar. Banyak suporter klub sepak bola amat fantatis. Mereka bahkan menjadikan keanggotaan itu bak identitas, harga diri, dan kebanggaan.

Ketua Umum Paguyuban Suporter Timnas Indonesia (PSTI), Ignatius Indro bercerita senada. Dia menyatakan, sering mendengar keluhan suporter berbasis klub kesulitan mendapatkan pemasukan selama pandemi. Iuran anggota tak jalan, sponsor ragu, dan penjualan tiket pertandingan tidak ada.

Acara-acara wilayah juga dibatasi selama pandemi, sebagian donatur ikut putar otak untuk kelangsungan hidup dirinya. Kalau dibilang terpuruk, ia juga mengamini karena tidak bisa memberikan ekspresi untuk mendukung tim kesayangan.

"Suporter pada umumnya sih berharap liga kembali berjalan karena banyak yang tergantung pada berjalannya liga, salah satunya keberadaan suporter," ujar Indro kepada Validnews, Minggu (21/3).

Dari aduan beberapa fans club, kata Indro, penjualan merchandise yang paling terdampak, sangat menurun. Dengan adanya Piala Menpora, ia berharap bisa ada angin segar meningkatkan penjualan meskipun dilakukan secara online.

Pemasukan yang tidak seberapa ini juga harus diatur sedemikian rupa dengan pengeluaran. Biasanya, pengeluaran dilakukan untuk event-event edukasi para suporter, atau merayakan perayaan dari koordinator wilayah.

Untuk urusan kekompakkan, Indro meragukan jika akan luntur karena pandemi. Meski setahun tak bertemu di pertandingan dan pertemuan, canda-canda atau perbincangan terus terjalin di virtual. Bahkan, sebagian suporter atau fans klub juga mengadakan games serta perjumpaan rutin secara virtual untuk menjaga silaturahmi dan kekompakkan.

Namun, menurut Indro harus ada payung hukum yang jelas untuk mengatur suporter. Menurutnya, perlu antisipasi jika kondisi seperti ini berulang. Adanya payung hukum juga dinilai bisa menjaga keberadaan fans klub. Sebaliknya, seluruh pihak juga bisa terlibat dalam edukasi suporter.

Agenda ini disebut sebagai salah satu perjuangan PSTI ke depan. Pada saat sama, Indro mengaku ini perjuangan panjang. Banyak pihak yang belum merasa keberadaan suporter merupakan hal penting.

"Menurut kami, payung hukum itu bisa mengatur reward and punishment. Misalnya ada kejadian jadi hukumannya jelas. Memang berat di DPR belum dianggap penting, tapi kami akan memperjuangkan itu, sudah beberapa kali juga ketemu," tutur Indro. (Gisesya Ranggawari)

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA