Selamat

Rabu, 12 Mei 2021

KESRA

15 April 2021|21:00 WIB

Mendedah Kiat Menjaga Umat

Antusiasme jemaah beribadah selama Ramadan, memerlukan konsistensi pelaksanaan aturan
ImageIlustrasi salat jemaah pada masa pandemi. ANTARA FOTO/Moch Asim/pras.

JAKARTA – Suasana bulan suci Ramadan kali ini sudah berbeda dibanding tahun lalu. Pemerintah sudah mengizinkan masjid-masjid untuk mengadakan ibadah tarawih berjemaah. Meski pelaksanaannya penuh syarat, antusias umat muslim beribadah di masjid tetap tak terbendung.

Kondisi itu tergambar di sebuah Masjid Jami di Kelurahan Cawang, Jakarta Timur. Warga antusias beribadah pada awal puasa.

Awalnya, jarak antarjemaah terjaga sesuai anjuran pemerintah. Namun, banyaknya jemaah yang terus berdatangan membuat jarak tidak lagi diperhatikan. Jemaah terpaksa berdempetan. Bahkan ada yang harus membentangkan sajadahnya di teras masjid.

Tak hanya itu, sebagian besar para jemaah yang hadir juga tidak mengenakan masker saat melaksanakan salat berjamaah. Padahal, dalam Surat Edaran (SE) Menteri Agama tegas disebutkan, mereka yang mengikuti salat tarawih wajib mengenakan masker dan menjaga jarak.

Pengurus masjid harus dapat memastikan jarak antarjemaah sekitar 1 meter. Kemudian, jemaah yang hadir secara langsung juga hanya diizinkan sebanyak 50% dari kapasitas masjid. Tujuannya sederhana, agar masjid tidak menjadi klaster baru penyebaran covid-19.

Dimas Prasetyo (36) selaku Sekretaris Masjid mengaku sudah berkali-kali mengimbau warga agar mematuhi aturan. Namun apa daya, jemaah tetap bersikeras datang meski mereka tahu jumlahnya sudah melebihi kapasitas. Jemaah juga banyak yang nekat tak mengenakan masker datang ke masjid. Memarahi mereka bisa berakibat munculnya ketegangan.

Pengurus masjid sudah berkoordinasi dengan aparatur pemerintah mulai kelurahan hingga RT dan RW untuk membantu menginformasikan protokol kesehatan saat salat tarawih. Di sisi lain, mereka juga telah berkoordinasi dengan Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 untuk mencegah kemungkinan terburuk bila ada jemaah yang terpapar virus corona di masjid.

Sayangnya, jemaah cenderung abai menaati protokol kesehatan. Pengurus masjid juga tak bisa melarang jemaahnya untuk beribadah meski tahu situasinya sudah melebihi kapasitas.

“Kalau dibilang sulit, ya sulit. Sebenarnya, warga itu sudah tahu semua. Aturan itu ada di mana-mana. Tapi tetap saja begini,” kata Dimas, saat berbincang dengan Validnews, Rabu (14/4) malam.

Kini yang jadi terpenting, hanyalah harapan pengurus masjid bahwa tidak ada jemaah yang terpapar covid-19. Pun kalau itu terjadi, pengurus masjid telah siap menanganinya, berkat simulasi yang mereka jalani sebelumnya.  

Kata Dimas, bila ada yang melapor ada warga yang terpapar di masjid, mereka akan meminta ketua RT/RW agar melaporkan ke pihak kelurahan. Kemudian, pihak kelurahan menghadirkan Satgas Covid-19 untuk melakukan penelusuran.

“Alhamdulillah, belum ada sampai sekarang. Baik saat salat jumat ataupun tarawih. Semua berjalan dengan baik,” tegas Dimas.  

Tak hanya Dimas, Ahmad Fikri selaku Bendahara Masjid Jamih Kemang juga mengaku kesulitan menerapkan aturan pemerintah itu. Mereka hanya bisa memastikan seluruh jemaah yang hadir mengenakan masker.

Fikri mengatakan, Masjid Jamih Kemang sudah punya pengalaman melaksanakan salat tawarih pada tahun lalu, lantaran masih wilayah zona hijau penyebaran covid-19 waktu itu. Berkaca dari pengalaman tahun 2020, aturan jaga jarak hanya dipatuhi jemaah di pekan pertama saja. Begitu masuk pekan kedua dan seterusnya, jemaah sudah mengabaikan aturan tersebut. Pengurus masjid tak bisa berbuat apa-apa.

“Tidak hanya di sini saja. Kesulitan seperti ini juga pasti terjadi seluruh tempat,” kata Fikri, kepada Validnews, Rabu (14/4).  

Butuh Kesadaran
Direktur Jenderal Bina Masyarakat (Bimas) Islam Kementerian Agama (Kemenag), Kamaruddin Amin mengingatkan konsistensi jemaah untuk menaati protokol kesehatan selama beribadah. Karena seluruh aturan yang dibuat pemerintah bertujuan untuk mencegah penyebaran virus corona.

Dia menyampaikan, Surat Edaran Menteri Agama Nomor 04 Tahun 2021 tentang Panduan Ibadah Ramadan dan Idulfitri ini diberlakukan pada wilayah yang masuk dalam zona kuning dan hijau penyebaran corona. Saat aturan diterapkan, hal yang sangat dibutuhkan adalah kesadaran masyarakat.

“Dalam surat edaran itu kami meminta pengurus hingga takmir masjid untuk memastikan bahwa prokes (protokol kesehatan) yang ditetapkan pemerintah itu bisa berjalan,” tutur Kamarudin, kepada Validnews, Rabu (14/4).

Kamarudin masih yakin pelaksanaan aturan ini bisa terawasi dengan baik. Alasannya, Kemenag memiliki 50 ribu orang penyuluh. Kemenag juga memiliki sekitar 6.000 Kantor Urusan Agama (KUA) dengan sekitar 8.000 orang penghulu dan kantor wilayah di seluruh Indonesia. Semuanya telah diminta untuk melakukan sosialisasi kepada seluruh warga agar menaati prokes saat datang ke tempat ibadah.

Sebagai antisipasi, pemerintah juga menggandeng pemerintah daerah (pemda) hingga Satgas Covid-19 untuk melakukan pengawasan.

Soal surat edara, sebenarnya ditujukan untuk menjawab kerinduan. Pemerintah mahfum, umat muslim ingin tetap beribadah salat tarawih. Makanya, meski masih pandemi, pemerintah meramu sejumlah aturan agar ibadah di masjid tetap dapat berjalan.

Hanya saja, Kemenag mengaku tak bisa memberikan sanksi bagi pengurus masjid andai terjadi penyebaran covid-19 saat ibadah. Urusan ini akan diserahkan ke pemda dan Satgas Covid-19.

“Kami hanya mengawasi. Pihak kepolisian juga bisa mengambil langkah-langkah secara persuasif,” ungkap Kamarudin.

Menurut aturan, Satgas Covid-19 bisa menghentikan ibadah ini untuk sementara, bahkan meniadakannya jika di masjid ada yang tertular. Akan tetapi,  kata Kamaruddin, hal ini sudah masuk dalam materi sosialisasi kepada para pengurus masjid. Dia meyakini, semua pihak telah mengetahuinya.

“Penghentian itu sampai Gugus Covid-19 memberikan statement aman, baru ibadah di masjid itu kembali dibuka,” tegas Kamarudin.

Dalam aturan pengawasan, Satgas Covid-19 berkoordinasi dengan Majelis Ulama Indonesia, Dewan Masjid Indonesia, PBNU, Pengurus Muhammadiyah, Kanwil Kemenag, Satgas Covid-19 daerah hingga posko di desa/kelurahan. 

Juru Bicara Satgas Covid-19, Wiku Adisasmito mengatakan, koordinasi  bertujuan untuk meningkatkan pengawasan salat tarawih berjemaah di seluruh masjid di Indonesia.

“Semua pihak ini memastikan kedisiplinan protokol kesehatan diterapkan dalam ibadah Ramadan,” kata Wiku, kepada Validnews, Kamis (15/4).

Wiku menyebutkan, seluruh pihak harus mengingatkan bila ada jemaah yang tak taat aturan. Bahkan, Satgas Covid-19 telah menyiapkan kemungkinan terburuk.  

“Ya, mulai dari didisiplinkan dengan diingatkan. (Bisa.red) dibubarkan dan lainnya, sesuai dengan kewenangan masing-masing,” tegas Wiku.

Relawan Siaga
Salah satu pihak terlibat, Sekretaris Jenderal Dewan Masjid Indonesia (DMI), Imam Addaruqutni mengaku, telah merekomendasikan kepada pengurus dan takmir masjid untuk membentuk satuan tugas (satgas) atau relawan siaga ramadan. Relawan ini, kata dia, bisa diambil dari para remaja masjid yang aktif.

Relawan punya mandat untuk bisa mengingatkan pengurus masjid untuk mengurangi waktu khotib atau penceramah berkhotbah sesuai dengan rekomendasi DMI. Misalnya, bila biasanya diberikan waktu setengah jam, khatib hanya diberikan waktu 10 hingga 15 menit saja.

Pun dalam ceramahnya, para khatib perlu diminta selalu mengingatkan para jemaah agar disiplin dengan protokol kesehatan. Hal ini diyakini Imam bisa mengurangi waktu para jemaah untuk berkumpul di dalam masjid.  

“Jadi keberadaan relawan ini untuk menghindarkan pengurus masjid dari kewalahan, mulai dari mengawasi detail jemaah yang datang dan hal lainnya,” papar Imam.

DDMI juga meminta tiap masjid rutin membersihkan ruang tempat beribadah. Pengurus masjid juga diminta memastikan setiap jemaah menaati protokol kesehatan. Bahkan, mereka harus memastikan jemaah membawa sajadah sendiri.

Imam mengakui, animo masyarakat untuk salat tarawih di masjid sangat tinggi, terlebih di awal bulan puasa. Hal itulah yang bisa membuat ruang masjid penuh meski pemerintah hanya memperbolehkan masjid membuka 50% kapasitas masjid.

“Jadi kalau bisa dibuat skenario untuk menyelenggarakan salat tarawih dua gelombang,” tambah Imam.

Kalau semua saran itu diterapkan, DMI optimistis ibadah tarawih di Tanah Air bisa berjalan dengan lancar. Bahkan, salat lima waktu sesuai rukun islam bisa terus dijalankan secara jemaah di masjid.  

“Kami optimistis. Karena setelah satu tahun pandemi berjalan, masjid termasuk tempat yang paling sukses menghalau virus corona,” ucap Imam.

Akan tetapi, ahli epidemiologi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Pandu Riono tetap waswas dan khawatir akan hal ini. Baginya, Pemerintahan Joko Widodo terlalu berani mengambil keputusan terkait perizinan beribadah. Sebab saat ini, jumlah penyebaran virus corona masih terus meningkat.  

Sebenarnya, bila pemerintah tetap melarang adanya ibadah berjemaah, kurva masyarakat yang terpapar covid-19 ini diyakini semakin turun.

“Jadi kalau mudik bisa dilarang. Tapi kalau salat kan susah. Pemerintah berada dalam pilihan susah juga. Makanya, Kemenkes (Kementerian Kesehatan) terus menegaskan protokol diterapkan dengan benar. Jangan sampai ada penularan lagi,” kata Pandu, kepada Validnews, Rabu (14/4).

Di sisi lain, Pandu berpandangan, sebenarnya, pemerintah bisa mengambil keuntungan dari optimisme warga beribadah. Salah satunya, mempercepat proses vaksinasi kepada masyarakat.

Pemerintah provinsi dapat mengumpulkan seluruh pengurus masjid di wilayahnya untuk mempercepat proses pendataan warga yang belum mendapatkan layanan vaksinasi dari pemerintah. Khususnya, untuk para lansia. Baik pula jika posko vaksinasi didirikan di tiap masjid. Dengan begitu, setiap jemaah yang telah didata bisa melangsungkan penyuntikan vaksinasi usai mengikuti salat tarawih.  

Proses vaksinasi itu, bisa sekaligus memberikan penyuluhan kepada jemaah masjid untuk menjaga protokol kesehatan. Hingga memaparkan bahaya virus corona bagi kesehatan.  

“Teknisnya gubernur pasti tahu. Apakah menyediakan petugas puskesmas di masjid. Apakah akan dilayani sebelum salat atau sesudah itu tinggal dipastikan saja teknisnya,” papar Pandu. (James Manullang, Gisesya Ranggawari, Seruni Rara Jingga)

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER