Selamat

Minggu, 16 Mei 2021

OASE

29 Maret 2021|21:00 WIB

Melarung Asa Di Aliran Ciliwung

Suara karung-karung sampah yang dibuang dari atas jembatan biasanya terdengar jelas. Juga mudah dikenali para relawan yang selalu berjaga dan memantau dari kolong jembatan
ImageIlustrasi kegiatan komunitas yang peduli pada lingkungan di Sungai Ciliwung, Depok, saat mengikuti upacara bendera. ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso

JAKARTA – Nyaris tiga warsa, Dikdik Kuncoro (27) menjadikan kolong jembatan yang tak jauh dari gerbang masuk Grand Depok City (GDC), sebagai tempat dia menghabiskan waktu. Di bawah kolong jembatan itulah, ia dan sembilan temannya membuat basecamp Komunitas Ciliwung Depok (KCD).

Bagi warga di luar GDC, mungkin tak banyak yang tahu bahwa basecamp komunitas ini berada di kolong jembatan. Tak jauh dari gerbang masuk GDC yang lumayan megah.

Komunitas ini berdiri sejak 2011. Anggotanya tak hanya 10 orang, seingat Dikdik, ada 80 orang bergabung di komunitas beranggotakan warga Depok dan sekitarnya. Kesemuanya punya satu kepedulian yang sama, menjaga lingkungan Sungai Ciliwung di Kota Depok tetap seperti fungsinya.

Mereka terdiri dari pelbagai kalangan. Ada mahasiswa, dosen maupun profesi lain. Namun, hanya 10 orang ini saja yang selalu sedia di basecamp KCD selama 24 jam.

Selain tak banyak yang tahu akan KCD, Dikdik menuturkan, kepedulian masyarakat akan masalah sampah juga dia nilai kurang. Selama menjadi relawan, tak jarang, ia dan para relawan kerap menjumpai orang yang seenaknya membuang sampah ke sungai. Bahkan dalam jumlah yang besar.

"Biasanya mereka buang sampah dari atas jembatan itu malam hari. Dan jumlah sampah yang dibuang juga banyak dan dibungkus pakai karung," kata Dikdik kepada Validnews, Jumat (26/3).

Suara karung-karung sampah yang dibuang dari atas jembatan biasanya terdengar jelas. Juga mudah dikenali para relawan yang selalu memantau dari bawah.

Kalau sudah seperti itu, Dikdik bersama para relawan lain tidak tinggal diam. Mereka langsung mengejar pembuang sampah. Jika tertangkap, pembuang sampah dibawa ke markas komunitas untuk didata dan diberi edukasi.

"Kalau tertangkap, kami ajak turun ke sini (markas), kami ajak duduk, ngobrol, kami edukasi dia, kalau sungai itu bukan tempat sampah," jelas Dikdik.

Dikdik menguraikan, kebanyakan pembuangan sampah dalam jumlah besar, berasal dari wilayah yang cukup jauh. Alasan mereka melakukan tindakan tak terpuji itu karena terpaksa. Ya, terpaksa membuang sampah ke sungai karena tidak punya tempat penampungan sampah di lokasi mereka.

Alibi pelaku membuat Dikdik miris. Muncul rasa prihatin serta tanda tanya besar akan pengelolaan sampah yang ada selama ini di Kota Depok. Meski begitu, Dikdik bersama para relawan lain tak jenuh memberikan edukasi pada masyarakat agar lebih peduli pada lingkungan.

Selain edukasi, para relawan tersebut juga mendata para pelaku pembuang sampah. Apabila didapati mereka membuang sampah kembali, para relawan biasanya akan langsung melaporkan yang bersangkutan ke Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Depok.

"Tentunya ada batasnya ya. Kalau sudah keterlaluan kita laporkan ke Dinas Lingkungan Hidup," kata Dikdik.

Menumbuhkan Kesadaran
Dikdik meyakinkan, terbentuknya KCD banyak membuat warga sekitar sadar akan pentingnya menjaga lingkungan. Termasuk juga dengan para pedagang yang biasanya ramai berjualan mulai sore hingga malam hari di sekitar sungai. Menurut Dikdik, mereka secara sukarela mengumpulkan sendiri sampah-sampah mereka dan tidak membuangnya ke sungai.

"Di sekitar wilayah KCD ini, masyarakat sekitar sudah paham, sudah mengerti akan kepedulian lingkungan," kata Dikdik.

Ada banyak kegiatan yang dilakukan KCD untuk mengajak masyarakat peduli lingkungan. Misalnya, pada hari peringatan tertentu seperti Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) tahun lalu, KCD mengajak masyarakat sekitar terjun langsung memungut sampah di sungai.

Sekolah-sekolah juga biasanya datang langsung ke komunitas untuk belajar tentang pentingnya menjaga lingkungan. Belajar membuat kerajinan tangan dari limbah sampah, dan sebagainya.

Hanya saja, lebih dari satu tahun sejak pandemi covid-19, kegiatan yang mengumpulkan orang sudah banyak dibatasi. Jadi mereka lebih banyak melakukan kegiatan mandiri, seperti melakukan kegiatan patroli sungai, melakukan pembersihan sampah di sekitar, dan lainnya.

Kegiatan patroli sungai biasanya dilakukan di sepanjang Sungai Ciliwung di wilayah Depok, mulai dari Kampung Utan hingga Pasir Gunung Selatan. Sementara, kegiatan patroli air, dilakukan bersama para relawan menggunakan perahu karet sambil melakukan pemantauan, seperti memetakan titik-titik timbunan sampah dan limbah, area rawan longsor dan sebagainya.

Hasil pemetaan ini kemudian dilaporkan ke dinas dan instansi terkait, seperti Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Selain itu, mereka juga melakukan mengumpulkan sampah dan diangkut ke daratan. Sampah-sampah ini kemudian dipilah untuk dimanfaatkan lagi menjadi aneka kerajinan tangan. Seperti sampah bambu, disulap menjadi meja, kursi, kotak penyimpanan, dan sebagainya. Mereka juga melakukan kegiatan budidaya menggunakan hidroponik dan membuat area pembibitan tanaman.

"Kalau ada satwa-satwa yang ditemukan, kita juga bantu tangkap di sini. Misalnya kemarin ketemu ular sanca. Kita pelihara dulu di sini sementara, nanti dilepasliarkan ke alam," jelas Dikdik.

Karena Peduli
Dikdik menuturkan, alasan ia terjun sebagai relawan berangkat dari kepeduliannya terhadap lingkungan. Dikdik yang sebelumnya berdomisili di Garut ini sejak dulu memang sudah terjun dalam komunitas lingkungan.

"Waktu saya pindah ke Depok, saya ketemu dengan teman-teman yang minatnya sama dengan saya. Jadi saya ikut gabung ke komunitas ini," terangnya.

Senada dengan Dikdik, Pay (33), salah satu relawan juga memiliki alasan yang sama. Sebelum menjadi relawan di KDC, pria asli Depok ini telah lama terjun menjadi relawan di berbagai daerah. Sekembalinya ke Depok tujuh tahun yang lalu, ia sadar permasalahan lingkungan ada di kampung halamannya sendiri.

"Dulu saya jauh-jauh jadi relawan, sampai ke luar pulau. Padahal masalah (di kampung halaman sendiri) ada di depan mata," kata Pay kepada Validnews, Jumat (26/3)

Pay mengatakan, kondisi Sungai Ciliwung kini benar-benar mengkhawatirkan. Jauh berbeda dengan keadaan sekitar 20-an tahun lalu, tatkala kondisi air masih jernih dan banyak anak-anak yang bermain di sekitar sungai.

"Dulu sewaktu kecil, masih jernih airnya. Mau mancing ikan juga gampang. Sekarang sudah berbeda. Airnya keruh, banyak sampah, belum lagi ada limbah dari pabrik," keluhnya.

Baik Dikdik maupun Pay berharap, semua pihak baik itu pemerintah dan masyarakat ikut bersinergi dalam merawat lingkungan termasuk masalah sampah.

Pay sadar, mengajak orang lain untuk ikut serta dalam penanganan sampah bukan hal yang mudah. Kepedulian menurutnya harus berangkat dari dorongan hati masing-masing individu.

Karena itu, ia bersama teman-teman relawan lain berusaha memberikan contoh yang baik bagi masyarakat. Salah satunya dengan terus mengedukasi pentingnya menjaga lingkungan.

"Tidak ada yang mampu menyadarkan orang lain. Harus dari diri sendiri. Makanya kita di sini mencontohkan gerakan peduli lingkungan, mengajak melalui media sosial, supaya mereka peduli dengan lingkungan," jelas Pay.

Di tempat terpisah, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya mengatakan, berdasarkan pemantauan sungai yang ada di Indonesia, tren kualitas air sungai mengalami perbaikan jika dibandingkan dengan tahun lalu.

Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pada 2019 sungai dengan status memenuhi kelas II sesuai PP 82 Tahun 2001 sebesar 5,11%. Kemudian, pada tahun 2020 mengalami kenaikan menjadi 9,63%. Tingkatan mutu air kelas I merupakan tingkatan yang terbaik. Secara relatif, tingkatan mutu air kelas I lebih baik dari kelas II, dan selanjutnya.

Sementara itu, pencemaran berat di sungai berhasil ditekan hingga turun dari 53,28 persen pada tahun 2019, menjadi 42,59 persen di tahun 2020.

"Meningkatnya kualitas air ini tentunya berkat kerja sama seluruh pemangku kepentingan mulai dari masyarakat, pelajar/mahasiswa, komunitas peduli sungai, pemerintah dan pemerintah daerah, maupun pelaku usaha," kata Siti saat memperingati Hari Air Sedunia di Kantor Gerakan Ciliwung Bersih (GCB) Jakarta, Sabtu (27/3).

Meskipun pencemaran di sungai telah berhasil ditekan, Siti tetap mengajak seluruh pihak untuk terus bekerja sama memperbaiki kualitas air sungai. Diharapkan, seluruh sungai di Indonesia dapat memenuhi kelas II sesuai PP 82 Tahun 2001. Siti juga mengingatkan semua pihak untuk tetap memperhatikan kelestarian lingkungan di sekitar sungai.

"Presiden Joko Widodo mengamanatkan agar melakukan pemulihan lingkungan secara besar-besaran dan terstruktur, tidak hanya menanam pohon, tapi juga menangani badan-badan sungai," ungkap Siti.

Menurutnya, masih terdapat banyak hal yang harus dipahami dan diekplorasi untuk menelurkan kebijakan yang sesuai dengan kondisi di lapangan. (Seruni Rara Jingga)

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

INFOGRAFIS

TERPOPULER