Selamat

Rabu, 12 Mei 2021

OASE

04 Januari 2021|21:00 WIB

Limbung Langkah Tunanetra Tersandung Corona

Pandemi memaksa banyak juru pijat tunanetra menjadi pengemis, atau berjualan kerupuk di pinggir jalan

Editor: Nofanolo Zagoto

ImageTerapis tuna netra memijat pelanggan dengan menggunakan pelindung wajah di Rumah Bugar Wyata Guna, Bandung, Jawa Barat, Selasa (28/7/2020). Rumah bugar atau panti pijat tuna netra tersebut mulai kembali beroperasi di masa adaptasi kebiasaan baru dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat sekaligus pemberdayaan dan pemulihan ekonomi bagi penyandang tuna netra yang bekerja di tempat tersebut. ANTARAJABAR/Novrian Arbi

JAKARTA – Seharian sudah Triyono (37) menunggu harap di rumahnya di kawasan Palmerah, Jakarta Barat. Triyono ingin meraup berkah dari pelanggan yang ingin dipijat. Namun, sampai petang menghilang, harapan tak membuncah asa.

Kerap dia mengalami itu. Bukan sekali dua kali. Namun pria tunanetra ini tetap semangat. Dia berharap ada yang singgah untuk sekadar menghilangkan lelah dengan pijatan. Tapi, ruangan satu-satunya ber-air conditioner di rumah itu kerap kali kosong.

Meski termasuk kelompok rentan, ia tak mau bergantung kepada orang lain.  Dia yakin bisa menghidupi istri dan dua anaknya dengan mengandalkan kemampuan yang dipunya, yakni memijat. Hal ini sudah dibuktikannya sejak 2005.

Namun, pandemi covid-19 melanda. Triyono sempat tutup lapak terhitung Maret sampai September 2020. Pada masa itu, ia dan keluarga harus benar-benar mengirit pengeluaran. Mereka hidup berbekal sedikit tabungan.

Belakangan, dia kembali membuka lapak. Meski tarif pijatnya hanya Rp80 ribu per jam, pelanggan yang datang bisa dihitung jari. Bahkan pernah pemijat ini tak mendapatkan pelanggan sama sekali dalam seminggu.

Triyono mengubah cara. Dia mengirimkan mengirim pesan WhatsApp atau menelepon ke nomor pelanggan yang tersimpan di gawainya. Namun, banyak pelanggan yang malah menolak memakai jasanya. Para pelanggan masih takut apabila melakukan kontak fisik, mereka tidak mau menimbulkan penularan covid-19.

"Saya tanya awalnya sehat atau enggak. Setelah itu saya bilang lagi mau pijat enggak. Tapi mayoritas jawabannya enggak dulu," cerita Triyono kepada Validnews, Sabtu (2/1).

Meski sulit, Triyono memastikan akan tetap coba bertahan dengan keahliannya. Dia tak mau senasib seperti teman-teman tunanetra lainnya yang terpaksa banting setir menjadi pengemis, atau berjualan kerupuk ikan di pinggir jalan. Banyak juga temannya yang memilih pulang kampung.

Demi bertahan masa-masa sulit, pria asal Yogyakarta ini rela mengencangkan ikat pinggang. Setiap pengeluaran dan pemasukan dicatat rapi. Uang yang keluar juga hanya untuk hal-hal berguna, misal membeli makan, kebutuhan pokok, membayar kontrakan, listrik dan fasilitas penunjang anak belajar dari rumah.

Triyono merasa beruntung, ia tidak dibebani uang sekolah anak. Anak pertamanya yang bernama Umar (9) menempuh pendidikan di sekolah luar biasa (SLB) dan tidak dipungut biaya sama sekali. Umar mengalami kondisi yang tidak jauh berbeda dengan Triyono, yakni tunanetra. Sementara, anaknya yang satu lagi belum sekolah.

Satu-satunya biaya tambahan yang perlu Triyono keluarkan adalah membeli paket internet. Pasalnya, pertemuan belajar anak dengan sang guru kini dilakukan secara daring.

"Ya, sebulan sama kontrakan, sekitar Rp1,7 juta lah pengeluaran saya," kata dia.

Penyandang tunanetra, Triyono(37 tahun). Validnews/Maidian Reviani

Bantuan Pemerintah
Sejak dulu, ia mengaku tidak pernah berharap bantuan dari siapapun, termasuk dari pemerintah. Triyono tidak ingin dibuat kecewa oleh harapan-harapan.

“Prinsip saya, kalau orang normal saja enggak diperhatikan sama pemerintah. Apalagi yang cacat seperti ini,” kata Triyono menunjuk dirinya sendiri.

Karenanya, dia tak sakit hati karena tidak pernah mendapat bantuan uang tunai, ataupun yang lainnya seperti yang sudah pemerintah janjikan. Bahkan, saat pandemi seperti ini saja bantuan sosial bentuk sembako hanya didapatkan Triyono sesekali. Tak rutin seperti tetangga yang lain. Pemilik e-KTP beralamat di Jakarta ini tidak tahu penyebabnya.

Triyono hanya mendapat bantuan sembako dari Maret hingga Juni 2020 saja. Selebihnya, dia mendapatkan bantuan dari para relawan yang secara individu tergerak hatinya melihat situasi para tunanetra.

Karena tak mau memakan beras seperti itu, bantuan dari pemerintah ini pun kerap dijual kepada para pedagang. Uangnya jadi lebih bermanfaat untuk makan sehari-hari. Sementara untuk isi bantuan lainnya, seperti mi instan, sarden, minyak dan gula, masih dimanfaatkannya demi mengirit pengeluaran biaya makan.

Kini, dia bermimpi ingin membuka tempat pijat di tempat lain. Selain menambah penghasilan, dia ingin membantu teman-teman tunanetra yang kehilangan pekerjaan. Usaha yang dominan dilakukannya adalah dengan berdoa. Agar Sang Khalik bisa pertemukan dengan orang yang mau membantu menyediakan tempat.

Lain halnya dengan Hamim Baidhowi (49). Pemijat tunanetra yang berpraktik di rumah kontrakan di kawasan Joglo, Jakarta Barat, ini berharap penuh akan bantuan dari pemerintah. Ia berharap pemerintah mau menjalani mandat yang ada di dalam Undang-undang (UU) Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas.

"Mohon itu dilaksanakan, harapan teman-teman semua. Pemerintah harus lebih memperhatikan masyarakat terutama kaum difabel," ungkap Hamim.

Dia juga ingin pemerintah memberikan pelatihan bagi para penyandang disabilitas agar memiliki keahlian lain. Tak seperti Triyono, Hamim masih berpikir bisa beralih profesi. Namun, ia ingin agar ada pelatihan untuk menjalani pekerjaan baru tersebut. Pemerintah juga bisa memberikan bantuan modal agar para tunanetra tetap bisa bertahan di masa pandemi.

Seperti penekun profesi yang sama, Hamim mengaku pendapatannya mengalami penurunan drastis selama pandemi. Pada saat awal corona masuk ke Indonesia, pendapatannya turun sekitar 50%. Sekarang situasinya lebih miris lagi. Sekitar 70% pendapatannya hilang.

Dia mengaku, kala pandemi covid-19 ini adalah titik yang paling sulit dalam hidupnya. Hamim kesulitan mencari pendapatan, sedangkan kebutuhan hidup harian tetap harus terpenuhi.

Belum lagi masalah biaya sekolah dua anaknya. Yang satu kini menempuh pendidikan di perguruan tinggi dan yang satu lagi duduk di bangku kelas 2 SMP. "Biaya sekolah anak masih sama. Enggak kurang. Belum lagi beli paket internet," ujarnya kepada Validnews, Sabtu (2/1).

Dia mengaku mendapatkan bantuan dari pemerintah. Namun, dia merasa, meski mendapat beberapa kali bantuan sembako, tetap saja bantuan itu tidak mencukupi hidup untuk sebulan.

Sesekali ia pernah mendapat bantuan biaya token listrik gratis. Tapi itu bukan datang dari pemerintah, melainkan dari donatur melalui organisasi. "Saya aktif di organisasi agar bisa dapat bantuan juga dari donatur. Agar bisa menopang juga kelangsungan hidup di masa pandemi," jelasnya.

Akhirnya, untuk mengatasi masalah ekonomi di masa pandemi, dia terpaksa mencairkan tabungan. Padahal tabungan itu, niatnya akan digunakan untuk membayar kontrakan sebesar Rp12 juta setiap tahunnya.

Kalah Bersaing
Penuturan dua pemijat tunanetra di atas adalah gambaran umum yang dialami mereka berprofesi sama. Wakil Ketua Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) DKI Jakarta Ajat Sudrajat menuturkan, saat situasi masih normal saja ekonomi para tunanetra sudah berantakan. Hal itu terjadi karena penyandang tunanetra harus bersaing dengan panti pijat lain yang lebih unggul fasilitasnya.

Pandemi memperberat hidup mereka. Penyandang tunanetra menjadi lebih sulit mencari pemasukan. Bahkan banyak dari mereka yang praktis tidak lagi bekerja. Pasalnya, jasa yang ditawarkan oleh para tunanetra adalah bentuk kegiatan yang melakukan kontak fisik secara langsung. 

“Biasanya memijat tapi udah enggak bisa, jualan kerupuk juga enggak boleh keluar, yang biasa ngamen juga jadi enggak boleh ngamen,” kata dia kepada Validnews, Sabtu (2/1).

Oleh karenanya, untuk mengatasi masalah-masalah ini pihaknya sedang berusaha mencari donatur, baik dari pemerintah maupun organisasi. Beberapa kali pihaknya berhasil menyalurkan bantuan kepada 625 tunanetra yang ada di DKI Jakarta. Misalnya, dari Kementerian Sosial, sudah sebanyak lima kali bantuan disalurkan.

“Kita juga dapat dari media dan beberapa donatur lainnya, itu diberikan kepada kami,” aku Ajat.

Belum lama ini, Pertuni juga mengajukan bantuan ke Dinas Sosial DKI Jakarta. Sebab, dari 626 anggota, ada 12 orang tunanetra terpapar covid-19. Pertuni berharap bantuan ini bisa meringankan beban para tunanetra yang tidak lagi bisa bekerja karena positif covid-19.

Ajat menuturkan, bantuan baik dari pemerintah maupun organisasi itu terus diusahakan agar lebih menjangkau banyak orang. Dia mengakui, bantuan yang diberikan selama ini masih kurang maksimal. Banyak tunanetra yang tidak ber-KTP DKI belum mendapatkan bantuan.

Sampai ada salah satu rekannya sesama penyandang disabilitas tunanetra terpaksa meminjam beras ke tetangga lantaran kelaparan.  

"Kejadiannya di Cimanggis, Depok. Sampai dia pinjam beras ke tetangga. Dia profesinya penjual kerupuk. Modal buat jualan juga abis, sampai masak pun pinjam ke tetangga,” ucapnya.

Yang tak kalah penting adalah pudarnya diskriminasi terhadap kelompok disabilitas.  Ia menuturkan, sampai saat ini disabilitas masih kerap tidak dianggap keberadaannya di tengah masyarakat. Pertuni berharap, pergantian tahun dibarengi pula dengan pergantian persepsi masyarakat akan mereka.

“Kepada pemerintah setempat untuk memperhatikan warga disabilitas di tiap-tiap wilayah. Dan mengarahkan para RT supaya peduli dengan teman-teman disabilitas. Akhirnya agar hak kita semua sama,” jelasnya. (Maidian Reviani)

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER