Selamat

Rabu, 12 Mei 2021

KESRA

12 April 2021|21:00 WIB

Lara Berlanjut Sang Penyintas

Penyintas covid-19 dirundung pelbagai hal. Ada stigma, hingga keluhan yang memakan biaya
ImageIlustrasi covid-19. Shutterstock/dok

JAKARTA - Suatu pagi, awal Mei 2020. Juno terperanjat saat bangun tidur. Ia dapati rontokan rambut memenuhi bantal di tempat tidur. Saat mandi, sejumlah helai rambut menempel di tangannya.

Pagi itu, seharusnya dia bangun tanpa ada rasa khawatir. Karena, hasil tes PCR, yang dilakukan tim medis RS Darurat Wisma Atlet, Jakarta, menunjukkan Juno negatif covid-19. Hasil kali ini menggembirakan, berbeda dengan hasil dua tes serupa sebelumnya

Juno menduga, ia tengah mengalami post-viral syndrome. Istilah asing itu ia pelajari saat menjadi caregiver pasien HIV dua tahun lalu. Secara sederhana, sindrom itu diartikan sebagai gejala-gejala yang terjadi pada seseorang usai sembuh dari penyakit akibat virus.

Terang, kerontokan rambut kali ini membuatnya sedikit khawatir. Apalagi, beberapa hari kemudian, dia merasakan detak jantung meningkat tinggi hingga sulit tidur. Muncul rasa pusing, nyeri yang menjalar di sekujur tubuh seperti tertusuk jarum, dan beberapa gejala lain.

Juno lantas berkonsultasi ke dokter dan melakukan pemeriksaan Elektrokardiogram (EKG).

Hasil EKG menunjukkan tidak ada sesuatu yang ganjil. Kondisi jantungnya normal. Dokter itu justru berkesimpulan bahwa pasiennya mengalami gejala stres, kecemasan, dan kesepian. Sebaliknya, si pasien merasa tak demikian.

“Di sini makanan gratis pagi, siang, dan malam. Saya di sini enggak ngantor tetap digaji full. Di sini biaya ditanggung. Apa yang bikin stres? Enggak ada. Di sini ada 50 kamar, semua terisi pasien. Itu semua teman saya, saya enggak kesepian,” ceritanya kepada Validnews, Jumat (9/4).

Ia bahkan berkelakar tak mau pulang dari rumah sakit. Dia merasa nyaman. Dokter tetap kekeuh dengan diagnosa. Kemudian, mengonsultasikan masalah ini kepada psikiater. Setelah konsultasi, Juno diberi obat-obatan antidepresan. Akan tetapi kenyataannya, seperti ia duga, obat itu tidak berpengaruh apa pun.

Tidak lama kemudian hasil tes PCR kembali menyatakan laki-laki berusia 36 tahun itu negatif. Juno dibolehkan pulang dari RS Darurat Wisma Atlet pada 18 Mei 2020, tepat sebulan dari waktu ia masuk.

Puluhan Keluhan
Setelah pulang, keluhan yang dialami Juno makin bertambah. Setidaknya ada 40 macam keluhan yang berhasil dicatatnya. Mulai dari rambut rontok, telinga berdenging, mulut kering, pembesaran kelenjar getah bening di bawah rahang, nyeri dada, tremor, bersin tanpa sebab, sakit kepala, jantung berdebar, hipertensi mendadak, asam lambung naik, brain fog, lelah kronis, hingga delirium.

Juno mengatakan, telah dua belas kali melakukan konsultasi ke dokter untuk mengatasi semua keluhan itu pada tahun lalu. Antara lain ke dokter spesialis jantung, spesialis penyakit dalam, spesialis paru, spesialis THT, spesialis mulut, dan spesialis onkologi.

Sayangnya, semua dokter yang pernah didatangi selalu mendiagnosisnya dengan psikosomatik. Bahkan, suatu kali saat perutnya sakit seperti ditusuk-tusuk jarum, dokter hanya mengambil tindakan menepuk-nepuk perut Juno. Lalu dengan enteng berkata tidak ada masalah.

“Enggak apa-apa, coba lakukan aktivitas,” ungkap Juno menirukan ucapan dokter yang dia temui.

Dia mencari tahu melalui internet tentang kondisi yang dialaminya sambil terus berobat. Singkat cerita, ia bergabung dengan komunitas penyintas covid-19 dari berbagai negara. Juno terkejut bahwa ternyata banyak penyintas di komunitas itu yang memiliki masalah serupa dengannya.

Foto aerial suasana Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 Wisma Atlet Kemayoran, di Jakarta, Kamis (28/1/2021). Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan memberi kesempatan atau mengizinkan semua rumah sakit di Indonesia termasuk rumah sakit swasta jika memiliki fasilitas penanganan COVID-19 untuk memberikan layanan kepada pasien COVID-19 dengan tata cara penanganan sesuai SOP yang berlaku. ANTARAFOTO/Galih Pradipta

Menguras
Keadaan sama dialami Nia, yang dinyatakan sembuh dari covid-19 pada medio Juli 2020. Ia mula-mula merasa lega bisa bebas covid-19 setelah sekitar empat pekan harus isolasi mandiri. Namun, kurang dari sepuluh hari sejak hasil tesnya negatif, Nia mengalami sejumlah keluhan.

Keluhan-keluhan itu disebut tidak ada saat dirinya positif. Keluhan belakangan cenderung lebih mengkhawatirkan. Saat masih positif, Nia hanya mengalami demam, sesekali batuk, dan kehilangan penciuman. Belakangan, dia merasa kerap sesak napas, lelah kronis seperti habis olahraga berat, nyeri dada, nyeri seperti ditusuk-tusuk. Dan, yang paling mencemaskannya adalah jantung berdebar atau palpitasi. Setelah menggali informasi di internet dan mengikuti komunitas penyintas covid-19, Nia yakin yang dialaminya adalah long covid.

“Saya konsultasi ke spesialis penyakit dalam di salah satu rumah sakit di Jakarta Selatan. Ada pemeriksaan rontgen dan tes antibodi. Hasilnya negatif, tipes juga negatif, hasil darah normal semua. Hasil rontgen juga bagus. Akhirnya saya dikasih obat lambung karena, kata dokter, sesaknya dari lambung,” urainya kepada Validnews, Sabtu (10/4).

Nia mengaku selama ini memang memiliki riwayat asam lambung, tetapi tak pernah berdampak separah itu. Sesak napasnya bahkan membuat ia sulit tidur karena menyiksa. Tidur dalam kondisi seperti itu pun membuatnya takut jika suatu waktu, ia berhenti bernapas saat tidur.

Obat yang diresepkan dokter, tandas ia minum selama empat hari. Tetapi keluhannya belum mereda. Debar jantungnya meningkat tidak beraturan. Akan tetapi, dokter menilai perempuan berusia 26 tahun ini hanya stres hingga memicu asam lambung. Obat yang diresepkan pun sama saja.

Hasil pemeriksaan berbeda ia dapat saat berobat ke spesialis paru di sebuah rumah sakit swasta di Jakarta Barat. Interpretasi dokter atas CT Scan yang Nia jalani menyebut ada infeksi di sekitar alveolus dan sternum-nya. Dokter mencurigai infeksi ini bisa mengarah ke pneumonia.

Sejak itu, ia beberapa kali berobat ke dokter tersebut karena merasa keluhannya sedikit mereda. Semua dengan biaya mandiri. Nia tak punya asuransi. BPJS juga tak bisa digunakan karena alasan domisili. Jumlah biaya yang dikeluarkan untuk berobat selama tiga bulan mencapai sekitar sembilan juta rupiah. Tabungan yang dia miliki ikut terkuras.  

Hadapi Stigma
Di samping harus merasakan berbagai keluhan sakit, para penyintas yang mengalami long covid juga menghadapi stigma sosial. Baik stigma dari non-penyintas maupun dari sesama penyintas. Bahkan, orang yang mengalami long covid bisa menstigma dirinya sendiri.

Juno mencontohkan stigma yang paling sering diberikan non-penyintas, berupa tuduhan kalau tubuh mereka masih mengandung virus penyebab covid-19. Dalam beberapa kasus, dokter pun memberi stigma ini dengan meminta mereka tes PCR berulang meski sebelumnya dinyatakan negatif.

Sementara, stigma dari sesama penyintas biasanya berupa anggapan kalau semua keluhan long covid yang dialami si penderita semata karena kondisi psikologis.

Sementara penderita long covid bisa men-stigma dirinya sebagai sumber penyakit dan tubuhnya terlalu lemah, sehingga menyusahkan orang lain. Ketika dihadapkan dengan tekanan pekerjaan, para penderita long covid juga bisa men-stigma dirinya sebagai orang yang tidak produktif. Semuanya dinilai karena masalah long covid belum dipahami khalayak luas sampai saat ini. Alhasil, berbagai keluhan seolah tak memiliki validitas pada benak orang lain.

“Di keluarga banyak juga penolakan terjadi. Bayangkan kalau kamu punya istri, terus istrinya bilang mungkin cuma kepikiran saja kali. Kamu rasanya mau marah enggak? Jadi ini edukasinya harus maksimal, dan kami menuntut untuk diadakan penelitian,” imbuhnya.

World Health Organization (WHO) kini memang masih mengkaji fenomena long covid untuk menentukan definisi klinisnya. Upaya ini bermula ketika komunitas penyintas covid-19 dari berbagai negara berhasil bertemu Dirjen WHO, Tedros Adhanom, pada 21 Agustus 2020. Saat itu Juno hadir sebagai perwakilan dari Indonesia.

Mereka menyampaikan tiga tuntutan yaitu recognition, rehabilitation, dan research. Recognition berarti pengakuan bahwa keluhan long covid nyata, bukan psikosomatis. Bahkan, sebuah riset dengan sampel sekitar 2.000 penyintas menemukan ada 205 macam keluhan long covid.

Rehabilitation, yakni tuntutan pengobatan bagi para penderita long covid. Sementara, research berarti penelitian tentang penyakit baru ini. Juno menyebut WHO menerima semua tuntutan ini dan ditindaklanjuti dengan mengumpulkan dokter dan para ahli dari berbagai negara untuk membahasnya.

Di Indonesia sendiri, isu long covid pertama kali dibahas secara resmi oleh pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Desember 2020. Meski fenomena long covid sudah mencuat sejak kuartal IV 2020, sayangnya belum semua dokter menaruh perhatian pada masalah ini.

Dia mengingatkan bahwa ada tiga kriteria kesembuhan, yaitu secara epidemiologis, klinis, dan sosial. Perhatian terhadap penyintas covid-19 selama ini sebenarnya sebatas kesembuhan secara epidemiologis. Artinya, orang tersebut sudah tidak menularkan virus.

Sedangkan secara klinis, penyintas covid-19 belum tentu sudah sembuh. Banyak di antara mereka yang mengalami keluhan post-viral syndrome. Absennya kesembuhan secara klinis ini pada akhirnya pun memengaruhi kualitas kesembuhan secara sosial.

Juno maupun Nia menegaskan, long covid membuat kualitas hidup mereka menurun. Juno memutuskan berhenti pengobatan meski memiliki lima keluhan tersisa. Sedangkan Nia dengan tiga keluhan yang tersisa masih berjuang keluar-masuk rumah sakit.

“Yang jadi masalah sekarang ketika keluhan itu tidak berhasil diidentifikasi, sehingga penyintas hanya dibilang itu mungkin banyak pikiran saja,” kata dia.

Riset Awal
Ketua Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Agus Dwi Susanto, mengatakan saat ini belum ada satu definisi tentang long covid. Penyebutannya pun masih berbeda-beda. Belum ada satu istilah yang ditetapkan secara internasional. Ada yang menyebutnya long covid, post-covid syndrome, atau post-acute covid syndrome.

Pada prinsipnya semua penyebutan dan definisi, menggolongkan sindroma itu merupakan suatu kondisi seseorang yang sudah sembuh dari covid-19, tetapi masih memiliki gejala-gejala yang menetap selama beberapa pekan hingga beberapa bulan.

Sebuah survei di luar negeri, lanjut Agus, menunjukkan ada 15–87% penyintas covid-19 mengalami long covid. PDPI sendiri telah melakukan survei serupa pada 9–28 Januari lalu secara daring. Hasilnya ditemukan bahwa 63,5% dari total 463 penyintas covid-19 yang menjadi responden mengalami long covid.

“Ada yang gejalanya muncul dari awal, lalu masih menetap. Ada yang awalnya enggak ada gejala, baru muncul setelah mereka sembuh. Tetapi kalau dilihat secara proporsi sebagian besar memang mengalami gejala yang sebelumnya sudah ada, lalu menetap selama beberapa minggu sampai beberapa bulan,” ucapnya kepada Validnews, Minggu (11/4).

Dari jumlah tersebut, sebanyak 53,7% atau 139 responden mengalami long covid kurang dari satu bulan. Lalu 43,6% atau 113 responden mengalami long covid satu sampai enam bulan. Sedangkan sisanya, 2,7% atau 7 responden, mengalami long covid lebih dari enam bulan.

Menurut Agus, gejala yang menetap di setiap orang bisa berbeda-beda. Tetapi kelelahan kronis (fatigue) adalah yang terbanyak dari 18 gejala yang disusun. Lainnya secara berurutan adalah batuk, nyeri otot, sakit kepala, gangguan tidur, sesak napas, dan nyeri sendi.

Dia menuturkan, data riset ini adalah data awal. Hasil akhirnya baru akan dipublikasikan setelah riset ini terbit di jurnal internasional. Kendati demikian, PDPI telah membuat panduan tata laksana pengobatan long covid khusus di bidang paru.

“Mulai dari cara mendiagnosisnya, pemeriksaan apa saja yang diperlukan, sampai kira-kira terapi atau obat-obatan apa yang diberikan sesuai dengan gejala yang muncul. Kemudian follow up-nya bagaimana. Itu sudah kami buat,” ujar Agus.

Agus berharap semua organisasi profesi kedokteran di bidang lain bisa segera membuat panduan serupa dan mengedukasi masyarakat tentang long covid. Pemerintah pun didorong lebih memperhatikan dan memahami masalah medis lanjutan ini, sehingga tak berhenti pada angka-angka kesembuhan saja. Pada saat sama, masyarakat diminta untuk tidak khawatir. Sebagian besar penyintas yang mengalaminya, dapat disembuhkan.

“Setelah ditangani selama beberapa bulan, dikasih terapi, itu sembuh. Keluhannya hilang dan dapat beraktivitas normal kembali,” tegas Agus. (Wandha Nur Hidayat)

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA