Selamat

Senin, 26 Juli 2021

OASE

02 Februari 2021|19:18 WIB

Kisah Pecinta Kaset Pita

Belakangan minat generasi milenial membeli pita kaset meningkat. Alasannya beragam
ImageSalah satu toko kaset di kawasan Blok M Plaza. sumberfoto: Validnews/James Manullang

JAKARTA – Raut wajah Andri (41) mendadak sumringah menatap layar telepon seluler (ponsel) miliknya. Ada pesan baru. Bergegas dia mengamati satu persatu kaset pita yang tersusun rapi di sebuah rak. Begitu kaset yang dicari didapat, Andri langsung memotretnya.

Belakangan, Andri memang lebih sibuk mendagangkan kaset pita via daring. Maklum, sejak pandemi covid-19 melanda, toko kaset milik Andri sepi pengunjung. Hasil berjualan via online inilah yang membuat usaha Andri tetap hidup pada masa sulit. Dalam sehari, dia dapat menjual sedikitnya lima buah kaset pita.

Dulu, sebelum pandemi, Andri tak sempat kepikiran berjualan dengan cara ini. Sebab, selama 11 tahun berdagang di Blok M Square, Jakarta Selatan, toko Andri sudah lumayan ramai. Mereka yang tertarik mengoleksi kaset pita umumnya ingin mengecek langsung kaset yang dijual.   

“Kalau di rata-rata, kalau ramai saya bisa pulang Rp1 juta ke atas,” aku Andri saat ditemui Validnews di tokonya, Senin (1/2).

Kaset pita yang dijual Andri mayoritas album lawas. Hanya beberapa saja yang produksi baru. Biasanya album milik band indie.

Meski kaset yang dijual terlihat kumal, harganya terbilang tinggi. Kisarannya dari Rp25 ribu hingga Rp1 juta lebih. Biasanya, makin langka kaset di pasaran, makin tinggi harganya. Album musik ‘jadul’ yang tak diproduksi dalam format compact disk (CD) juga bisa dihargai tinggi.

“Semakin dia tua, kaset itu semakin langka. Harganya juga mahal. Contohnya, album God Bless awal-awal atau Guruh Gipsy. Itu urusannya sudah ke kolektor,” ujar Andri.

Meski industri musik sudah beralih ke digital, usaha ini justru kian menarik buat Andri. Sebab tiga tahun belakangan ini toko Andri mulai banyak kedatangan generasi milenial yang mencari kaset dari band-band tertentu. Mereka kebanyakan mencari band yang pernah tenar di era 80an.

Cukup banyak dari mereka yang juga menanyakan mengenai alat pemutar kaset, semisal walkman atau tape deck. Kemudian, bertanya-tanya perihal perawatan kaset pita.

Andri memastikan, merawat kaset pita tidak sulit. Memang, kaset pita yang lama tak digunakan akan berjamur. Namun, jamur yang melekat pada kaset itu mudah hilang. Jamur akan hilang ketika kaset dimainkan di pemutar kaset.    

Album berformat kaset kualitas suaranya juga tak kalah bila dibandingkan dengan hasil rekaman digital saat ini. Andri bahkan yakin kalau kualitas kaset pita hampir setara dengan piringan hitam (vinyl).

“Kalau memang penikmat musik. Pasti tahu kalau kaset pita itu kualitasnya sangat bagus. Kalau rusak paling kerekam musik lain,” kata Andri.  

Ridwan Jadul (40), pedagang kaset lainnya di kawasan Blok M Square pun merasakan hal yang sama. Dia mendapati masih banyak orang yang mencari kaset pita. Alasannya beragam. Bisa karena ingin merasakan sensasi mendengarkan suara lagu orisinal dalam format kaset, atau sekadar mengoleksinya.

“Ada beberapa lagu jadul yang cuma dirilis di kaset pita. Jadi banyak yang masih mencari,” tutur Ridwan.

Sebelum pandemi tiba, setiap pukul 12.00 WIB hingga 13.00 WIB, toko miliknya pasti dipenuhi para pelajar dan pekerja. Para pekerja mencari kaset keluaran tahun 1990 ke bawah. Sementara, para pelajar menanyakan kaset band independen (indie).

Belakangan, kata Ridwan, para band indie memang kembali mengeluarkan album dalam bentuk kaset pita. Harga jualnya rata-rata Rp50 ribu per kaset.  

Kualitas Suara
Ridwan sendiri merasa heran cukup banyak anak muda yang tertarik membeli album musik berformat kaset pita. Dia sampai bertanya kepada  satu orang pelanggan muda yang masih duduk di bangku sekolah. Si pelajar itu mengaku merasakan ada kepuasan tersendiri bila mendengarkan kualitas musik dengan memutar kaset pita.

“Padahal bukan kolektor tapi mereka senang baca introduction yang ada di kaset pita,” tambah Ridwan.

Ridwan yakin, anak-anak milenial tersebut mengetahui kaset pita melalui beberapa komunitas band. Salah satunya, komunitas band Koes Plus. Komunitas itu sering menceritakan mengenai kaset pita ataupun vinyl.

“Makanya sekarang banyak mulai banyak lagi suka beli. Karena pandemi, yang beli banyakan di online. Sekarang lagi naik-naiknya,” ucap Ridwan.

Ucapan Ridwan dibenarkan Tian (21) warga Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Tian mengaku belakangan gemar mencari kaset-kaset pita. Dia merasa kualitas hasil rekaman di kaset pita lebih bagus ketimbang CD ataupun VCD. Bahkan, lebih jernih dari platform digital seperti YouTube.

Hanya saja, Tia mengakui, ada banyak kekurangan dari kaset pita. Salah satunya, hanya bisa diputar menggunakan tape ataupun walkman. Sementara, musik streaming dapat dinikmati melalui ponsel. Jadi, lebih praktis. Pun, alat pemutar kaset sudah jarang ditemukan di banyak toko elektronik.

“Kalau masalah praktis jangan dibandingkanlah. Kaset pita harus pakai tape atau yang paling kecil walkman. Bentuknya juga lumayan besar untuk dibawa-bawa,” kata Tian.

Yudi (52), yang hobi mengoleksi kaset, punya perspektif lain. Dia menilai album musisi yang direkam dalam kaset pita memberikan sensasi berbeda saat didengarkan. Namun hal itu, tetap tergantung dengan kecanggihan alat pemutarnya.

“Kalau alatnya bagus sudah pasti enak suara yang keluar,” kata Yudi.

Warga Ulujami, Jakarta Selatan itu memiliki 10 ribu koleksi kaset pita. Namun, kebanyakan koleksi kasetnya merupakan album dari musisi dalam negeri.

Setahu Yudi tak banyak kaset pita keluaran Indonesia yang beredar di pasaran. Bahkan, ada beberapa musisi Indonesia yang hanya sempat mengeluarkan album secara terbatas. Misalnya, keroncong dan musik daerah. “Ada juga lagu Kiki Maria. Jarangkan ada yang dengar,” lanjut Yudi. 

Fokus Digital
Walau tetap ada geliat, major label atau perusahaan rekaman besar, bergeming. Bagi mereka peminat kaset pita sudah menurun sejak tahun 2000-an awal. Kira-kira terjadi saat CD mulai marak digunakan sebagai wadah album bagi para musisi.

“Produk kaset pita pelan-pelan tergeser dengan adanya vinyl, CD/VCD. Itu terjadi pada tahun 2000 awal,” tutur humas Nagaswara, Andre, kepada Validnews, Senin (1/2).

Perusahaan rekaman besar tidak lagi mengeluarkan kaset pita karena lama-lama format itu sepi peminat. Padahal, Andre bilang, hingga tahun 1999, kaset pita masih menjadi sumber pemasukan terbesar industri rekaman.

“Sampai hari ini pun masih ada. Cuma hanya beberapa. Di pasaran sudah tak diminati, player kaset juga sudah mulai langka,” tutur Andre.

Apalagi belakangan, lagi-lagi karena kemajuan teknologi, perusahaan rekaman juga sudah mengurangi produksi CD atau VCD. Label rekaman pun mulai berpindah mengeluarkan produk digital. Alasannya, produk digital lebih menguntungkan ketimbang album bentuk fisik.

“Produksi CD atau VCD memang prosesnya lebih cepat. Tapi kaset pita lebih tahan walaupun sudah putus disambung bisa diputar kembali walaupun materinya agak berjarak atau loncat tergantung seberapa putusnya,” tambah Andre.

Pengamat musik, Bens Leo memiliki pendapatnya sendiri. Dia menilai, munculnya kaset pita dari band-band indie itu bisa jadi menjadi pemicu kembalinya siklus pemutaran musik seperti zaman dulu. Apalagi, cukup banyak penikmat musik yang masih bertahan menggunakan cara lawas itu.

“Bisa jadi, ada produksi kaset pita lagi. Ada banyak orang-orang yang menikmati masa lalu mereka sambil membeli kaset pita ataupun vinyl,” kata Bens Leo, kepada Validnews, Senin (1/2).

Saat ini, berdasarkan informasi yang dimilikinya, ada satu perusahaan rekaman yang mulai memproduksi kaset pita lagi. Label musik itu adalah Lokananta Recording Audio & Video Cassette (Lokananta) di Solo. Belum lama ini, Lokananta mengeluarkan beberapa album dalam bentuk kaset pita.  

“Faktor lainnya, karena sekarang bentuknya digital, banyak juga musisi yang mau karyanya diabadikan di kaset pita ataupun vinyl,” tambah Bens Leo.

Bens Leo bercerita, pada era keemasan band Indonesia, penghasilan terbesar perusahaan rekaman berasal dari kaset pita, bukan vinyl ataupun CD. Sebab, saat itu, kaset pita produk yang gampang dibawa ke mana-mana. Penjualannya pun terbilang tinggi. Misalnya, penjualan kaset pita Hetty Koes Endang ataupun Betharia Sonata, penjualannya lebih dari satu juta copy.

Hanya saja, masa keemasan kaset pita juga menyisakan cerita miris para musisi. Meski dulu angka penjualannya tinggi, perusahaan label tak pernah memberikan royalti (uang yang dibayarkan) ke para musisinya. Perusahaan rekaman, hanya memberikan bonus berupa mobil ataupun rumah. Artinya, tidak ada hitungan pasti di masa lalu.

“Orang pun susah menghitungnya. Karena perusahaan rekaman itu bisa menyembunyikannya. Jadi penjualan tidak jelas,” tambah Bens Leo.

Apalagi, kala itu, perusahaan rekaman memiliki alat sendiri untuk memperbanyak produksi kaset pita itu. Saat memperbanyak jumlah produksi, perusahaan rekaman tak memberitahukan para pemilik lagu. Hal itulah yang membuat transparansi penjualan rendah.

“Makanya kampanye saat itu, pemberantasan pembajakan. Lalu, setop pembajakan hak moral musisi. Jadi yang untung pihak label saja,” lanjut Bens Leo.

Dulu, perusahaan rekaman tak berperan sebagai manajemen penyanyi ataupun band. Jadi, mereka tak memiliki hak untuk menarik fee dari panggung ke panggung.

Namun, saat penjualan kaset pita mulai turun, pihak label atau perusahaan rekaman dan distributor sekaligus, mulai mengendalikan seluruh kegiatan para artisnya. Keuangannya pun diatur oleh label. Bedanya, para musisi diberikan royalti sesuai dengan penjualan.  

“Sekarangkan banyak artis ngetop tidak masuk major label. Misalnya, Gigi, Sheila On 7 juga sudah tidak lagi. Karena mereka sudah tahu cara mendistribusikan produksinya sendiri. Intinya Label yang untung banyak,” tandasnya.  (James Manullang)

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA