Selamat

Senin, 26 Juli 2021

OASE

22 Februari 2021|21:00 WIB

Jalan Sunyi Kusir Dokar

Pembatasan membuat mereka terusir dari wilayah wisata dan pemukiman
ImageKusir delman di Palmerah, Jakarta Barat, siap-siap berangkat mengelilingi rumah warga, Minggu (22/2). Sumberfoto: Validnews/Maidian Reviani

JAKARTA – Rencana Rusmani mencari puluhan ribu rupiah pada hari itu, Sabtu (20/2) berantakan. Upaya yang dilakukan bak menggantang asap. Banjir yang turun di Jakarta, hari sebelumnya jadi sebab.

Hujan yang deras semalaman, membuat banyak tempat di Jakarta tergenang, bahkan banjir. Begitu pula, beberapa perumahan di Jakarta Barat yang biasanya menjadi ‘daerah operasi’ pria berusia 41 tahun ini mengemudi dokar, tak bisa dilalui.

Akhir pekan kemarin, Rusmani memilih tinggal di rumah. Membersihkan Raden, si kuda dan dokar yang dihela kuda itu.

Hampir setahun, saban hari Rusmani melintasi banyak perumahan di Jakarta Barat. Utamanya yang tak jauh dari kediamannya dibilangan Joglo. Sebelumnya, dia lebih banyak bekerja di tempat-tempat wisata. Namun, terbatasnya mobilitas masyarakat akibat pandemi covid-19, beserta ditutupnya tempat-tempat rekreasi dan hiburan, membuat kusir dokar ini beralih ke wilayah pemukiman.

Rusmani bercerita kepada Validnews, Sabtu siang (20/2). Dia mengaku bisa membawa uang Rp150 sampai Rp200 ribu per hari ke rumah sebelum pandemi. Uang itu, bisa ia dapatkan hanya dengan mangkal di kawasan CNI, Jakarta Barat, mulai pukul 15.00 WIB hingga 21.00 WIB. Banyak warga memintanya berputar-putar di wilayah yang banyak perkantoran itu, sampai malam. Namun, ini tak lagi dilakoninya selama hampir setahun.

“Sekarang mah, paling sehari cuma bisa dapat Rp25 ribu sampai Rp30 ribu setiap hari. Enggak ada setengahnya dari yang sebelum pandemi,” ucap dia.

Sejak merebaknya wabah, kawasam CNI dijaga ketat oleh petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Dokar yang biasa membawa beberapa orang, juga tak diperbolehkan beroperasi. Rusmani mengubah taktik. Ia membawa dokar yang ditarik si Raden, berkeliling ke rumah-rumah warga. Seperti di Joglo, Jakarta Barat, kemudian Cipulir, Jakarta Selatan, hingga Jalan Haji Rebo, Petukangan Utara, Jakarta Selatan.

Tiap bertemu dengan anak-anak kecil yang sedang main di depan rumah ataupun di pinggir jalan, ia pun menawari mereka untuk berkeliling. Bayaran yang ditarik Rusmani terbilang murah, hanya tiga ribu rupiah per-orangnya.

Tawaran Rusmani ditanggapi beragam. Banyak anak yang tertarik. Apalagi yang masih balita, biasanya langsung merengek pada orang tua mereka untuk naik dokar. Banyak orang tua bahkan tak ragu mengeluarkan kocek lebih agar anaknya gembira naik dokar lebih lama.

Namun, Rusmani juga kerap peroleh serapah. Ada saja orang tua yang marah-marah pada dirinya lantaran sang anak merengek minta naik dokar.

"Ya saya paham kalau orang tua enggak ngasih anaknya naik. Karena mereka juga lagi kondisi pandemi gini enggak punya uang," ucapnya.

Belum Menutupi
Meski kini, dia beralih ke rumah-rumah warga, tetap saja pendapatan per hari masih jauh dari harapan.

Hal itu terjadi lantaran adanya kebijakan penerapan pembatasan aktivitas warga atau kerap dikenal Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Dan, kini yang terbaru adalah Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) skala mikro.

Beberapa kali Rusmani dan dokarnya, diminta putar arah oleh warga setempat. Meski waktu masih menunjukkan pukul 16.00 WIB.

"Sering sama warga dibilang 'mas maaf, lagi pandemi nih, jangan narik dulu deh, nanti malah ada kerumunan. Lagi lockdown nih'. Itu sering banget, akhirnya saya muter-muter cari tempat baru, tapi belum tentu dapat pelanggan," urainya. 

Di sisi lain, ada hal yang juga mendorongnya harus menarik dokar. Kuda haruslah tetap dirawat. Harga pakan yang tidaklah murah. Dan, tiap minggunya juga mesti mengganti sepatu atau tapal kuda.

Setiap hari, pakan dedak menjadi konsumsi si kuda. Tak cukup apabila hanya diberikan rumput hijau. Dedak adalah kulit padi yang dihaluskan. Dedak biasanya digunakan sebagai pakan ternak karena mempunyai kandungan gizi yang cukup tinggi.

Dalam sehari, kata dia, kuda bernama Raden harus diberikan dedak minimal lima kilogram. Masing-masing 2,5 kilogram untuk dua kali makan. Rusmani membeli dedak seharga Rp5 ribu per kilo. Artinya, apabila diberikan lima kilogram kepada kuda, ia harus membayar Rp25 ribu setiap harinya. Kerap kali, hasil berkeliling hanya bisa memenuhi pakan kuda.

Pada saat sama, kebutuhan pokok istri-anak, membayar kontrakan bulanan serta listrik, juga menjadi anggaran wajib tak bisa dielakkan. Beban itu menurut dia, belum terhitung biaya sekolah anak. Dua anaknya masih kecil-kecil, yang pertama usia enam tahun. Sementara yang kedua usia tiga tahun.

Oleh karenanya, demi bertahan masa-masa sulit, pria asal Pandeglang, Banten, ini beberapa kali ikut tetangga untuk jadi kuli panggul. Selain itu, ia juga kerap menjual tapal kuda yang tidak lagi terpakai. Ia menjual itu ke pedagang rongsokan seharga Rp3 ribu per kilogram atau Rp12 ribu totalnya.

“Sama makan sehari-hari, kuda, listrik, jajan istri anak ya sebulan hampir sejuta rupiah lah pengeluaran saya. Karena untuk kuda saja sebulan bisa Rp500 ribu," kata dia.

Meski demikian, dia mengaku tetap bersyukur. Ada kalanya dia peroleh bantuan pakan kuda dari mereka yang dermawan. Bantuan itu diterimanya selama kurang lebih empat bulan, dari Juli hingga Oktober 2020 lalu.

Terbatas Pembatasan
Kusir dokar lain, Nanang mengaku tak jauh berbeda nasib. Pria berusia 39 tahun ini tinggal di rumah kontrakan di kawasan Palmerah, Jakarta Barat.

Kusir dokar ini biasa mangkal di kawasan Monas dan Kota Tua. Tapi, karena dua kawasan wisata itu ditutup pada Maret 2020 lalu, ia memilih untuk tidak berkeliling lagi.

“Dari pas awal pandemi, bulan tiga apa empat tahun lalu, saya jauh-jauh sampai Monas, dari jam 10 pagi sampai 10 malam, saya jalan pun enggak ada pelanggan sama sekali. Enggak ada! Saat itu saya mulai sudahlah di rumah saja," kata dia kepada Validnews, Minggu (21/2).

Upaya mengais rezeki dilakukannya dengan beralih ke rumah-rumah warga, seperti di Kompleks Taman Kebon Jeruk Intercon, Jakarta Barat. Namun, dia mengaku bukan uang yang dominan dihasilkan, melainkan hanya omelan. Dia mengaku kerap ‘kena semprot’ warga hingga pengurus RT dan RW.

“Saya dari Monas pindah ke kampung, diomelin sama Pak RT. Katanya ‘Abang jangan narik di sini, di sini enggak boleh. Kalau Abang masih bandel saya laporin ke Satpol PP’. Ibu-ibunya juga demikian. Jadi sudah enggak ada yang naik (dokar),” kata dia.

Terkini, dia khawatir akan kesehatan kudanya. Himpitan ekonomi memaksanya mengurangi jatah makan kuda. Kondisi hujan, diyakini membuat peliharaan sekaligus teman mencari nafkah ini kian ringkih.

Kata dia, kuda memang merupakan hewan yang mudah beradaptasi dan mampu menumbuhkan rambut guna menambah kehangatan. Namun, saat musim hujan dan dingin seperti ini, kuda juga harus dirawat dengan hati-hati. Kalau tidak mereka bisa flu.

Sebelum pandemi, kuda miliknya biasa mengkaish dedak sebanyak 10 kilogram. Saat ini, sambung dia, paling hanya mampu dalam sehari memberikan dedak sebanyak 5 kilogram. Alhasil, kuda miliknya ini agak terlihat lebih kurus dibanding sebelum pandemi datang.

"Ya tapi alhamdulillah masih bisa kasih makan kuda, daripada enggak sama sekali. Karena kalau rumput aja buat mereka emang tidak cukup, perlu dedak itu yang penting," ungkap Nanang.

Selama tidak narik dokar, untuk membeli pakan kuda hanya mengandalkan dari panggilan-panggilan saja. Seperti panggilan pelatihan dan pemasangan tapal kuda.

Ia memasang tarif pemasangan tapal kuda untuk satu ekor sebesar Rp50 ribu. Sementara, untuk latihan pemasangan, ia tidak menaruh tarif alias seikhlasnya saja.

Menurutnya, pada kondisi seperti ini sulit mencari profesi di luar keahlian. Itu kenapa, ia tetap bertahan dengan kemampuan yang dipunyai. Dia terang menginginkan bantuan dari pemerintah. Bantuan sosial yang diterima dari pemerintah bagi warga terdampak pandemi, sama sekali tak dia rasakan.

Diungkapkan, justru yang memberikan bantuan adalah Jakarta Animal Aid Network (JAAN) dan Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI). Dari JAAN, para kusir dokar di Jakarta mendapat bantuan dedak sepanjang April hingga Agustus 2020. Bantuan itu dititipkan lewat organisasi kusir dokar.

JAAN setiap bulannya mengirimkan dedak sebanyak satu ton yang kemudian oleh organisasi dibagikan ke tiap-tiap anggota sekitar tiga kilogram.

"Dari PDHI itu juga sekitar tiga ton. Itu aja bantuan, enggak pernah dapat dari pemerintah. Kadang iri sebenarnya liat pada dapat bisa cairkan uang Rp300 ribu. Tapi bagaimana, kita syukuri aja," ungkap dia.

Nanang mengaku pasrah. Guna memenuhi kebutuhan hidup, kerap perabotan yang ada di rumah, harus dia jual. Kini, sama seperti jutaan warga dunia, kusir ini berharap pandemi berlalu. Khusus soal Jakarta, dia berharap di 22 Juni mendatang virus tak lagi mewabah.

Sebaliknya, tanggal itu selalu ada di benaknya. Biasanya, di hari itu, wisata Jakarta sedang ramai-ramainya. Apalagi di wilayah Kota Tua dan Monas, banyak kegiatan dan acara menjelang ulang tahun kota yang dulu bernama Batavia.

Udah pada kelimpungan, enggak cuma saya, tapi semua orang," harapnya. (Maidian Reviani)

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER