Selamat

Senin, 26 Juli 2021

KESRA

12 Maret 2021|08:11 WIB

BMKG Ingatkan Cuaca Ekstrem Peralihan Musim

Masyarakat diimbau waspada. Hujan lebat disertai petir diperkirakan terjadi di beberapa daerah
ImageIlustrasi cuaca ekstrem. ANTARAFOTO/Dedhez Anggara

JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat terkait potensi cuaca ekstrem pada periode peralihan musim hujan ke musim kemarau.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto mengatakan, salah satu ciri umum kejadian cuaca saat periode peralihan musim adalah adanya perubahan kondisi cuaca yang relatif lebih cepat. Di mana pada pagi-siang hari umumnya cerah-berawan dengan kondisi panas cukup terik dan hujan intensitas tinggi dalam durasi singkat yang dapat terjadi pada periode siang-sore hari.

"Selama periode peralihan musim ada beberapa fenomena cuaca ekstrem yang harus diwaspadai, yaitu hujan lebat dalam durasi singkat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang, potensi puting beliung, waterspout, dan hujan es," urai Guswanto dalam keterangan tertulis, Kamis (11/3) malam.

Guswanto mengatakan, berdasarkan hasil analisis dinamika atmosfer-laut dari BMKG menunjukkan bahwa fenomena La Nina masih dapat berlangsung hingga Mei 2021 mendatang dengan intensitas lemah hingga normal. Kondisi tersebut masih diperkirakan memengaruhi peningkatan massa udara basah dan lembap di sekitar wilayah Indonesia.

Saat ini, fenomena Monsun Asia masih cukup aktif. Sehingga, mengakibatkan aliran massa udara dari wilayah Belahan Bumi Utara (BBU) akan berkontribusi pada pembentukan awan hujan terutama di wilayah Indonesia bagian barat.

Monsun Asia mulai memasuki periode pelemahan pada akhir Maret 2021 yang mengindikasikan bahwa periode puncak musim hujan di sebagian wilayah Indonesia mulai berakhir.

"Sehingga dapat dikatakan bahwa sebagian besar wilayah Indonesia akan memasuki periode peralihan dari musim hujan ke musim kemarau mulai akhir Maret 2021," lanjut dia.

Dalam sepekan ke depan, dinamika atmosfer yang diidentifikasi masih dapat berkontribusi cukup signifikan terhadap pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia. Hal tersebut terjadi karena adanya sirkulasi siklonik di Samudera Pasifik Timur Filipina dan di Samudera Hindia sebelah selatan Bali-Nusa Tenggara yang dapat mengakibatkan terbentuknya pola konvergensi dan belokan angin.

Hal tersebut juga diperkuat dengan adanya fenomena Gelombang Rossby Ekuatorial yang diprediksikan masih cukup aktif di sekitar wilayah Indonesia bagian barat. Selain itu kondisi labilitas udara lokal yang signifikan, dapat meningkatkan potensi konektivitas dan pembentukan awan hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.

Berdasarkan hasil analisis tersebut, BMKG memprakirakan sepekan ke depan curah hujan dengan intensitas lebat disertai kilat/petir dan angin kencang berpotensi terjadi beberapa wilayah.

Di antaranya Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Kemudian Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua.

"Masyarakat diimbau tetap waspada dan berhati-hati terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat mengakibatkan banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan, angin kencang, pohon tumbang, dan jalan licin selama memasuki masa pancaroba tahun ini," tutur Guswanto. (Seruni Rara Jingga)

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA