Selamat

Sabtu, 19 Juni 2021

SENI & BUDAYA

08 Juni 2021|15:03 WIB

Yogyakarta Kembali Gelar Kompetisi Bahasa Dan Sastra Jawa

Panitia akan membagi perlombaan dalam dua tahap seleksi. Peserta yang lolos seleksi video akan melaju ke seleksi tahap kedua atau babak final yang digelar secara langsung

Oleh: Faisal Rachman

ImageIlustrasi - Poster kompetisi bahasa dan sastra yang akan digelar Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta. Antara/ Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta

YOGYAKARTA – Kendati masih banyak penuturnya, bahasa dan sastra Jawa tetap perlu untuk dilestarikan. Hal ini perlu dilakukan untuk terus menghidupkan nilai-nilai kearifan lokal dan kesadaran akan kekayaan budaya Jawa. 

Untuk keperluan itulah, Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta kembali menggelar agenda rutin tahunan, yaitu kompetisi bahasa dan sastra Jawa. Lomba ini bisa dapat diikuti oleh pelajar maupun masyarakat umum dengan delapan kategori perlombaan.
 
“Agenda ini merupakan kegiatan rutin yang kami gelar tiap tahun. Tujuannya untuk pelestarian bahasa dan sastra lokal yang diharapkan mampu menghidupkan nilai-nilai kearifan lokal, tradisi dan kesadaran akan kekayaan budaya yang dimiliki,” kata Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta Yetty Martanti di Yogyakarta, Selasa (8/6).
 
Sejumlah kategori perlombaan di antaranya adalah macapat, geguritan, alih aksara, dan basa cerkak yang hanya bisa diikuti oleh pelajar dari jenjang SD hingga SMA/SMK/MA. Kemudian sesorah untuk siswa SMP hingga SMA atau sederajat.

Sementara, kategori yang bisa diikuti pelajar SMA/SMK/MA serta masyarakat umum adalah pranata adicara, serta alih manuskrip hingga stand up comedy dengan menggunakan bahasa Jawa terbuka untuk masyarakat umum.
 
Pelajar dan masyarakat yang berminat mengikuti perlombaan tersebut dapat mengirimkan file karya dalam bentuk file video ke panitia pada 19–30 Juli untuk kategori umum. Sementara, untuk kategori pelajar dapat dikirim pada 26 Juli–6 Agustus.
 
“Link pendaftaran akan kami umumkan mendekati hari pendaftaran melalui akun Instagram Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta. Pelajar di sekolah di Kota Yogyakarta juga bisa mengikuti perlombaan melalui sekolah masing-masing,” tuturnya.
 
Panitia akan membagi perlombaan dalam dua tahap seleksi. Peserta yang lolos seleksi video akan melaju ke seleksi tahap kedua atau babak final yang akan dilakukan secara langsung.
 
“Rencananya, babak final akan dilakukan pada Agustus. Kami akan memilih lima peserta terbaik,” cetusnya. 

Selain hadiah berupa uang pembinaan, trofi dan sertifikat, pemenang terbaik pertama hingga ketiga akan mewakili Kota Yogyakarta untuk tampil dalam perlombaan yang sama di tingkat DIY, kecuali untuk kategori alih manuskrip yang hanya digelar hingga tingkat Kota Yogyakarta saja.
 
“Ketentuan teknis lomba dapat diunduh di website Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta,” katanya.
 
Sebelumnya, Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta juga sudah menggelar kegiatan pembekalan bahasa dan sastra pada Maret yang diikuti oleh masyarakat umum dan pelajar. 

 



Seniman Jawa berselencar di dunia maya. dok Antara

 


Bahasa Identitas
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bersama Balai Bahasa DIY mengadakan Focus Group Discussion (FGD) tentang Pengembangan, Pembinaan dan Perlindungan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Jawa. Hal ini dilakukan sebagai upaya melestarikan dan membudayakan bahasa dan sastra di daerah ini.
 
Kepala Balai Bahasa DIY Imam Budi Utomo disela FGD di Bantul, Kamis (3/6) mengatakan, saat ini keberadaan bahasa bukan hanya sebagai alat komunikasi saja. Namun, menurut dia, saat ini bisa digunakan sebagai alat pemersatu bangsa dan bahasa ini juga dapat digunakan sebagai identitas dari suatu negara.
 
"Kita harus bangga dan bersyukur kepada Tuhan karena kita diberikan sebuah bahasa persatuan yaitu bahasa Indonesia, bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka bahasa Indonesia sudah dicetuskan sebagai bahasa negara," kata Budi Utomo.
 
Sementara itu, Wakil Bupati Bantul Joko B Purnomo menyambut baik dan mengapresiasi kegiatan FGD bahasa dan sastra. Menurutnya, pelaksanaan kegiatan ini adalah salah satu bentuk rasa nasionalisme yang perlu ditumbuhkan di semua lini masyarakat.
 
"Diharapkan dengan acara ini akan dapat memberikan motivasi tersendiri untuk mengubah perilaku dan mewujudkan kesepahaman bersama di setiap organisasi perangkat daerah (OPD) dan sekolah terhadap penegakan tata kelola berbahasa," imbuhnya.
 
Joko juga berharap melalui forum ini masyarakat Bantul terutama generasi mudanya semakin cinta dengan bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa. Ia mengatakan, pembinaan, pengembangan dan perlindungan terhadap bahasa Indonesia dan juga bahasa jawa adalah tanggung jawab bersama.
 
"Pengembangan bahasa dan sastra bukan hanya menjadi tanggung jawab para ahli bahasa atau Balai Bahasa saja, tetapi semua pihak," ucap Joko.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER