Selamat

Minggu, 25 Juli 2021

SENI & BUDAYA

19 Juli 2021|17:17 WIB

Wheatpaste, Alternatif Seni Jalanan Selain Mural

Seperti street art lainnya, eksekusinya juga dilakukan "kucing-kucingan"

Penulis: Dwi Herlambang,

Editor: Satrio Wicaksono

ImageAnggota komunitas Temu Ruang Imaji Akan Kreatifitas (TERIAK), sedang membuat wheatpaste poster di salah satu tembok di Depok, Jawa Barat. Ist/dok

JAKARTAWheatpaste poster merupakan salah satu alternatif dalam dunia street art. Biasanya, seni poster ini ditempelkan pada dinding-dinding yang mudah terlihat oleh masyarakat luas. 

Seperti seni jalanan pada umumnya, ada pesan di balik itu. Baik kritik sosial maupun propaganda atas isu-isu yang berkembangan di masyarakat. 

Bisa dibilang, wheatpaste merupakan sebuah metode dalam seni jalanan dengan menempelkan poster ataupun kertas dengan desain yang dicetak dalam ukuran tertentu.

Menilik sejarahnya, seni pertama kali muncul di Amerika Serikat. Secara harfiah, wheatpaste sendiri adalah sebuah lem yang dibuat dari campuran tepung kanji dan air untuk menempelkan poster. Secara nilai ekonomis, jelas lebih murah dibandingkan biaya lem lainnya. 

Manajer Temu Ruang Imaji Akan Kreativitas (TERIAK), Rizki Abdullah menjelaskan mengapa wheatpaste memang menjadi alternatif dalam street art. Selain biaya produksi lebih murah, produksi dan eksekusi juga jauh lebih mudah dibandingkan street art lainnya, misalnya seni mural. 

"Kalau wheatpaste agak murah print A2 atau A3 maksimal Rp50 ribu sudah sama lem," cerita Risky kepada Validnews, Senin (19/7).  

Proses pembuatan wheatpaste poster dimulai dengan membuat desain yang ingin disampaikan, kemudian mencetaknya di kertas dengan ukuran yang diinginkan. Setelah itu, mencari dinding yang tepat, lalu ditempelkan dengan menggunakan lem. Dan seperti lazimnya seni jalanan, eksekusinya biasanya dilakukan di malam hari.

Sejauh ini Rizky dan TERIAK mengaku puas akan karya-karya wheatpaste yang telah dibuat dan ditempelkan di wilayah jajahannya, Depok, Jawa Barat. 

Salah satu yang terbaik menurut Rizky adalah karya wheatpaste dalam rangka memperingati hari kelahiran Kartini yang jatuh pada 21 April. Menurutnya, Kartini adalah salah satu tokoh inspiratif bagi kaum perempuan di Indonesia. 

"Karena kebetulan desainnya gua yang buat terus kita jalan muter-muter malam minggu di tengah malam sekitar 25 orang. Kita nempel-nempel dan sempet ada ditegor warga dan satpam. Kita jelaskan kita mau apa disitu," pungkasnya. 

Terakhir, menurut Rizky, wheatpaste poster sendiri tidak melulu bicara soal propaganda tentang politik dan kasus Hak Asasi Manusia (HAM) saja. 

Pada era modern seperti ini, wheatpaste juga dijadikan media promosi seperti konser dan iklan. Ada pula yang hanya menampilkan karya seninya tanpa ada pesan yang disampaikan.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA