Selamat

Senin, 25 Oktober 2021

14 Oktober 2021|15:44 WIB

Trigeminal Neuralgia, Nyeri Luar Biasa Di Sebagian Wajah

Saking nyerinya, kondisi yang disebabkan pembuluh darah menempel pada pangkal saraf trigeminal ini bisa membuat penderita seakan merasa putus asa

Oleh: Satrio Wicaksono

ImageIlustrasi seseorang sedang sakit kepala. Pixabay/dok.

JAKARTA – Pernahkah Anda merasakan nyeri hebat di sebagian wajah? Jika iya, mungkin Anda mengalami yang disebut trigeminal neuralgia. Apa itu penyakit trigeminal neuralgia?

Mengutip dari Halodoc, trigeminal neuralgia adalah kondisi nyeri kronis yang memengaruhi saraf trigeminal, yaitu saraf yang mengantarkan sensasi dari wajah menuju otak, sekaligus mengontrol sebagian fungsi motorik wajah.

Biasanya, penyakit ini hanya berdampak pada satu sisi wajah saja, meski dapat juga terkena di kedua sisi wajah. Namun hal tersebut sangat jarang terjadi baik dalam waktu bersamaan maupun dalam waktu yang berlainan.

Dokter spesial bedah saraf, dr. Mustaqim Prasetya mengingatkan agar masyarakat mewaspadai penyakit tersebut. Pasalnya, tingkat kenyerian luar biasa bahkan mendorong efek psikologis pada pasien untuk bunuh diri.

"Banyak istilah lain untuk menggambarkan seberapa menderitanya para pasien yang mengalami sakit ini. Ada yang mengatakan dengan istilah the suicide disease, yaitu sakit yang luar biasa sehingga saking putus asanya beberapa pasien itu terlintas pikiran-pikiran negatif untuk mengakhiri hidupnya. Pengalaman kami juga ada beberapa pasien yang sudah sempat melakukan percobaan bunuh diri," ujarnya, sebagaimana dikutip dari Antara, Kamis (14/10). 

Nyeri bisa terjadi di antara hidung dan bibir, bibir atas dan bawah, dagu, pipi, gusi, dan dahi. Kualitas nyeri yang dialami pasien pun cukup beragam. Mulai dari seperti tertusuk, tajam, tersengat listrik, keram, tegang, rasa terbakar. Kondisi tersebut juga menyebabkan pasien kesulitan bicara. Bahkan seorang pasien dokter Mustaqim mengatakan bahwa ketika rambutnya jatuh ke pipi juga menimbulkan rasa sakit yang luar biasa.

“Banyak orang yang tidak mengerti dengan kondisinya, kenapa karena biasanya penderita trigeminal neuralgia secara fisik terlihat seperti sehat kecuali pada saat serangan. Bahkan, banyak orang yang mengatakan apa yang dirasakan pasien itu berlebih-lebihan,” kata dokter dari Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RSPON) itu.

Serangan nyeri umumnya berlangsung secara sering dalam waktu singkat (paroksismal), tiba-tiba, intens, dan sangat singkat (kurang dari 1 detik hingga 2 menit). Jumlah serangan juga bervariasi, dari beberapa kali per hari hingga ratusan per hari.

Penyebab
Trigeminal neuralgia terjadi karena adanya sindrom neurovascular compression atau kondisi saat pembuluh darah menempel pada pangkal saraf trigeminal. Denyut pembuluh darah dapat menekan saraf sehingga menimbulkan nyeri.

Ada dua jenis trigeminal neuralgia. Pertama yang primer, yakni tekanan pembuluh darah pada saraf trigeminal atau disebut sindrom kompresi neurovaskular. Kedua trigeminal sekunder, yang bukan disebabkan kompresi pembuluh darah namun terdapat hal-hal lain yang memicunya, seperti tumor, kelainan pembuluh darah bawaan, perlengketan pascaperadangan di kepala, kasus pasca stroke sumbatan, dan kelainan autoimun.

Ia menegaskan, tidak ada penyebab tunggal trigeminal neuralgia. Sebab beberapa penelitian menunjukkan bahwa pembuluh darah pada dasarnya sudah menempel dengan saraf tetapi tidak menyebabkan nyeri wajah pada kebanyakan orang.

“Tidak ada faktor tunggal yang bisa disimpulkan, tetapi ada beberapa faktor yang saling mendukung terjadinya kelainan ini,” ujarnya.

Mustaqim menyebutkan tipikal personality seperti sangat sensitif, mudah khawatir, dan banyak pikiran, bahkan kondisi hipertensi dapat memicu penderita merasakan nyeri yang hebat karena secara otonom tekanan darah mudah meningkat.

Ia mengatakan, angka kejadian trigeminal neuralgia meningkat pada usia 40 tahun ke atas. Seiring bertambahnya usia, dinding pembuluh darah mengalami pengerasan atau kekakuan sehingga tekanan tidak lagi elastis dan muncullah masalah kerusakan pada selaput saraf.

“Tetapi ada juga yang masih muda. Saya pernah bertemu dengan pasien usia 18 tahun dan 20 tahunan. Masalahnya bukan neurovascular, tapi hal yang sekunder misalnya penebalan tulang tengkorak bawaan atau autoimun,” ujarnya.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER