Selamat

Minggu, 20 Juni 2021

PARIWISATA

10 Mei 2021|17:58 WIB

The Nusa Dua Bali Dapat Good Points Dari Kemenparekraf

ITDC meraih poin tersebut berkat sistem tanggap keselamatan dan bahaya kesehatan, kegiatan promosi yang akurat terkait situasi normal baru.

Penulis: Dwi Herlambang,

Editor: Yanurisa Ananta

ImagePantai Nusa Dua di Bali Indonesia dengan dua semenanjung di sekitarnya diambil di atas dari laut selama bulan April dengan drone. Shutterstock/dok

JAKARTA – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) memberikan catatan good points kepada Indonesia Tourism Development Corporation (TDC) The Nusa Dua Bali. ITDC meraih poin tersebut berkat sistem tanggap keselamatan dan bahaya kesehatan, kegiatan promosi yang akurat terkait situasi normal baru, dan video promosi penerapan CHSE dalam rangka meraih kepercayaan wisatawan.

Selain itu, tim audit menilai, pengelolaan lingkungan di ITDC Nusa Dua sudah berjalan dengan baik. Kawasan dinilai bersih, hijau, dan indah, dilengkapi dengan berbagai tanaman di taman ataupun di masing-masing properti yang dikelola hotel.

Beberapa best practices dalam kategori lingkungan yang telah dilakukan ITDC, antara lain konservasi flora dan fauna lokal, pengelolaan limbah cair (IPAL), dan limbah padat atau sampah (composting dan pengelolaan B3), pemanfaatan air bersih secara optimal melalui metode Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) dan Reuse Treated Wastewater tanpa menggunakan air bersumber dari sumur bor.  

Managing Director The ITDC Nusa Dua, I Gusti Ngurah Ardita menyampaikan,  pelaksanaan audit surveillance ini telah membantu ITDC memantau implementasi program sustainable tourism. Selain itu, membantu pemantauan pemeliharaan infrastruktur yang ramah lingkungan, termasuk pelaksanaan kerja sama dengan lingkungan dalam upaya meningkatkan perekonomian masyarakat di sekitar kawasan dan menjaga pelestarian budaya yang menjadi modal utama pariwisata Bali.

“Pemenuhan terhadap aspek kepariwisataan berkelanjutan dan implementasi konsep CHSE akan meningkatkan value Kawasan The Nusa Dua sebagai destinasi pariwisata yang terintegrasi dan dapat menjadi kebanggaan, serta role model bagi kawasan lainnya di Indonesia yang hendak dikembangkan dengan prinsip berkelanjutan,” ungkap I Gusti Ngurah Ardita.

Kemenparekraf memfasilitasi audit surveillance terhadap ITDC The Nusa Dua Bali guna memperkuat branding dan reputasi destinasi  wisata. Hal ini sejalan dengan arahan Menparekraf Sandiaga Uno untuk mengembangkan destinasi pariwisata yang mengedepankan platform inovasi, adaptasi dan kolaborasi.

Audit surveillance ini dilakukan oleh LS-Pro ISTC sebagai lembaga sertifikasi yang berada dalam naungan Kemenparekraf dan merupakan bagian dari Dewan Kepariwisataan Berkelanjutan Indonesia (Indonesia Sustainable Tourism Council).

Plt. Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kemenparekraf sekaligus sebagai lead auditor, Frans Teguh mengatakan, audit surveillance merupakan tahapan monitoring performansi dan evaluasi yang dilakukan oleh lembaga sertifikasi kepada destinasi yang telah menerima sertifikasi sebelum jangka waktu sertifikasi berakhir.

“Hal ini untuk memastikan bahwa pengelola destinasi tetap berkomitmen dan comply dalam menerapkan prinsip-prinsip pariwisata berkelanjutan,” jelas Frans Teguh dalam keterangannya, Senin (10/5).

Seperti diketahui sertifikasi pariwisata berkelanjutan untuk ITDC diberikan sejak September 2019. Sertifikasi ini berlaku tiga tahun sampai dengan September 2022. Dalam kurun waktu tersebut diperlukan monitoring dan pengawasan terhadap performansi destinasi Nusa Dua.

Lebih lanjut, Frans menjelaskan terdapat empat standar kategori dalam pengukuran dan monitoring ini, antara lain pengelolaan berkelanjutan, keberlanjutan sosial ekonomi, budaya, dan ekologi.

“Capain performansi dilakukan agar ITDC tetap mempertahankan reputasi dan kualitas orkestrasi tata kelola destinasi,” katanya.

Selain itu, skema dan sistem pemantauan efisiensi energi, carbon footprint dan jejak ekologi, untuk menuju green destination juga perlu didorong implementasinya. Karena pada dasarnya, ITDC sudah mulai menggunakan transportasi elektrik dan sistem pengelolaan lingkungan.

“ITDC diharapkan semakin meningkatkan tata kelola pariwisata dengan melakukan penguatan Destination Management Organization dan Destination Governance," ujarnya. 

"Hal ini dimaksudkan agar Nusa Dua tampil sebagai destinasi yang memiliki sense of place, holistic experience, terpercaya atau kredibel dan tetap menjadi top of mind bagi pasar domestik dan mancanegara,” lanjutnya. (Dwi Herlambang)

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER