Selamat

Rabu, 22 September 2021

25 Agustus 2021|13:48 WIB

Tari Topeng Tua, Kesenian Pelengkap Acara Keagamaan Masyarakat Bali

Menjadi salah satu tarian yang harus disakralkan

Penulis: Dwi Herlambang,

Editor: Satrio Wicaksono

ImageMantan Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati saat membawakan tari Topeng Sidakarya di Pura Er Jeruk. Antaranews/dok


JAKARTA – Selain Tari Kecak yang sudah tersohor di seantero negeri, Bali juga memiliki Tari Topeng Tua atau Tari Werda Lumaku. Tari ini memiliki nilai kesakralan, dan biasanya dipentaskan dalam ritual peringatan Priodalan. Tari Topeng Tua adalah kesenian yang diperuntukkan sebagai sarana hiburan dan menjadi pelengkap dari upacara keagamaan.

Mengutip laman Topeng Bali, Topeng Tua masuk pada kategori pengelembar yang menokohkan seorang menteri senior, penasehat raja bahkan raja itu sendiri, ketika masuk ke masa pensiunnya. Arti dari topeng pengelembar ialah topeng pengantar dari satu rangkaian pertunjukan Topeng Wali.

Tari Topeng Tua menampilkan seorang penari dengan kostum megah, dengan menggunakan topeng kayu yang karakternya bisa dibilang adalah pria berusia tua atau sudah sepuh. Topeng kayu tersebut terbuat khusus mengunakan bahan baku kayu Ylan-Ylang.

Pemain Tari Topeng Tua sendiri harus membawakan karakter laki-laki tua ini dengan rasa kesedihan dan penderitaan yang teramat dalam. Disisi lain ia juga memiliki karakter kekuatan batin dan kepolosan laiknya seorang anak-anak.

Di awal pementasan saat gorden (langse) dibuka, penonton akan melihat penari Topeng Tua sedang duduk di kursi dengan surai rambu putihnya jatuh hinga di ujung pundak. Ia mengangkat jari-jarinya yang berhiaskan cincin batu permata dan setelahnya berdiri mengamati para penonton.

Sejurus kemudian, ia akan berjalan mengitari panggung dan menari dengan gerakan yang sangat lambat. Gerakan itu memang sengaja dilakukan dengan lambat agar penonton memahami bahwa ia adalah seorang laki-laki tua yang tenaganya sudah tidak sekuat anak-anak muda lainnya.

Sesekali, sang penari menghela napas putus-putus dan membuat gerakan menyapu keringat dari topengnya dengan gaya jenaka. Koreografi yang dibawakan penari menggambarkan sang pria tua sedang terkenang akan masa mudanya.

Pun, salah satu momen yang menunjukan karakter ini cukup menderita adalah, pada saat ia harus bergegas pergi untuk menyelesaikan beberapa tugas besar diusianya yang sudah tidak muda. Juga sesekali hanya terdiam demi untuk memberikan istirahat bagi lutut dan paru-parunya.

Bagi masyarakat Bali, Tari Topeng Tua ini adalah tarian yang harus disakralkan. Biasanya ia dipentaskan pada ritual adat Piodalan, yang diadakan setiap enam bulan sekali dalam sistem penanggalan Bali. Tari ini akan dipentaskan bersama dengan jenis tari topeng lainnya yang menjadi satu kesatuan dengan sebutan Topeng Panca.

Selain menjadi bagian dari Topeng Panca, tarian ini juga sebagai pembuka tari sakral lainnya, yaitu Tari Topeng Pajegan. Tari Topeng Pajegan hanya dipertunjukan pada upacara keagamaan. Untuk mengiringi tarian ini, gamelan Bali akan berperan besar dalam membuat harmonisasi musik yang mengalun mengiringi tarian.

Adapun rinican gamelan Bali terdiri dari Jiyèng, Réyong, Kanthil, Gangsé, Jigog, Jublak, Gong, Kenong, Kethuk, Cèng-cèng (Kecrak), Kendhang, Gendèr dan Suling. 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER