Surut Cita Terganjal Harga | Validnews.id

Selamat

Sabtu, 27 November 2021

23 Oktober 2021|18:00 WIB

Surut Cita Terganjal Harga

Isu lingkungan mendasari hadirnya kendaraan listrik. Harga dan persepsi masyarakat masih menjadi aral

Penulis: Gemma Fitri Purbaya, Arief Tirtana,

Editor: Satrio Wicaksono

Surut Cita Terganjal HargaIlustrasi pengisian daya mobil listrik. Freepik/dok

JAKARTA – Tertarik setelah sempat mencoba mobil listrik saat berkunjung ke Norwegia, Arwani Hidayat akhirnya memutuskan untuk membeli kendaraan jenis serupa pada Maret 2021 lalu. 

Pilihannya jatuh kepada Hyundai Kona. Salah satu mobil listrik terbaru, yang masuk ke pasar Indonesia. Pilihan ini juga dipengaruhi pertimbangan harga. Kona dibanderol lebih murah dibanding mobil listrik yang sudah ada sebelumnya.

Jika dibanding mobil konvensional berbahan bakar minyak, harga mobil yang dibelinya masih relatif lebih mahal. Namun setidaknya, dengan harga Rp600 jutaan, Arwani menilai sepadan dengan kebutuhan. Apalagi untuk digunakan sehari-hari.

"Saya membeli yang segmennya pas sama diri saya sendiri," tutur Arwani kepada Validnews, Minggu (17/10).

Keputusannya untuk membeli mobil listrik tentu tidak ujug-ujug. Ada sejumlah faktor yang telah dipertimbangkan secara matang. Semisal, relatif lebih ramah lingkungan, lebih hemat penggunaan energi, hingga soal perawatan dan kenyamanan saat mengendarai. 

"Begitu megang mobil listrik. Ternyata hemat (energi), tapi torsinya besar dan handling-nya enak," tutur Arwani.

Komitmennya soal mobil listrik lantas mendorongnya mendirikan sebuah wadah bagi para pengguna mobil sejenis. Wadah ini bernama Komunitas Mobil Elektrik Indonesia (KOLEKSI). Komunitas ini pun telah resmi berbadan hukum sejak Mei 2021.

Mobil Listrik di Indonesia
Seperti Arwani, belakangan memang cukup banyak pengguna kendaraan di Indonesia yang mulai tertarik untuk membeli mobil listrik. Di KOLEKSI misalnya, meski baru berdiri beberapa bulan, tercatat sudah ada 165 anggota. Sebanyak 50 di antaranya secara resmi terdaftar memiliki nomor lambung kendaraan.

Dalam catatan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO), kenaikan penjualan mobil listrik di Indonesia bahkan mencapai lebih dari empat kali lipat. Dari yang sebelumnya hanya 125 mobil listrik di tahun 2020, kini menjadi 611 unit menurut data per September 2021.

Jika dicari penyebabnya, memang banyak faktor yang mendukung kenaikan penjualan tersebut. Akan tetapi jika dikaitkan, semuanya tak lepas dari dikeluarkannya Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle/BEV) untuk Transportasi Jalan.

Pepres tersebut kemudian mendorong lahirnya berbagai peraturan lain, sebagai wujud insentif kepada pengembangan industri mobil listrik. 

Di antaranya; Pajak Pertambahan Nilai Barang Mewah (PPnBM) sebesar 0% (PP No 74/2021), pajak atas penyerahan hak milik kendaraan bermotor (BBN-KB) sebesar 0% untuk KBLBB di Pemprov DKI Jakarta (Pergub No 3/2020).

Selain itu, ada penerapan BBN-KB sebesar 10% untuk mobil listrik dan 2,5% sepeda motor Listrik di Provinsi Jawa Barat (Perda No. 9/2019). Pemerintah juga memberikan keringanan uang muka minimum sebesar 0% dan suku bunga rendah untuk kendaraan listrik (Peraturan BI No 22/2020). Ada pula diskon penyambungan dan penambahan daya listrik, dan sebagainya.

Termasuk juga bagi perusahaan industri kendaraan listrik, ada fasilitas seperti Tax Holiday atau Mini Tax Holiday (UU 25/2007, PMK 130/2020, Per BKPM 7/2020), Tax Allowance (PP 18/2015 Jo PP 9/2016, Permenperin 1/2018), Pembebasan Bea Masuk (PMK 188/2015), Bea Masuk Ditanggung Pemerintah, serta Super Tax Deduction untuk kegiatan R&D (PP 45/2019, dan PMK No.153/2020).

Dengan berbagai peraturan tersebut, lantas pemerintah menargetkan produksi BEV di Indonesia bisa mencapai angka 600 ribu unit untuk kendaraan listrik roda 4 atau lebih pada tahun 2030 mendatang.

Sebuah target yang menurut Ketua I Gaikindo, Jongkie D. Sugiarto, cukup realistis namun bersyarat. Asalkan target angka itu termasuk HEV (Hybrid Electric Vehicle) dan juga PHEV (Plug-in Hybrid Electric Vehicle) di dalamnya. Bukan hanya sebatas mobil yang 100% bertenaga listrik atau BEV (Battery Electric Vehicle).

Sebab menurutnya, meski perkembangan cukup baik dalam beberapa tahun terakhir, penjualan mobil-mobil tersebut tidak bisa langsung melonjak tinggi. Ada beberapa faktor yang menyertainya, salah satunya harga jual yang masih relatif mahal.

"Masyarakat Indonesia tertarik membeli BEV, tetapi sebagian besar belum sanggup, karena harganya," terang Jongkie lewat pesan singkat kepada Validnews (18/10).

Kesiapan Masyarakat 
Pengamat otomotif, Bebin Djuana juga berpandangan serupa. Faktor harga sangat berpengaruh dalam kesuksesan industri mobil listrik di Indonesia ke depannya.

Dirinya mencontohkan keberadaan mobil hybrid, baik itu HEV atau PHEV yang sudah lebih dulu masuk ke pasar Indonesia. Ada sedikit sentimen negatif karena harganya yang sangat mahal. Akibat tidak adanya peraturan khusus yang secara spesifik mengatur industri mobil hybrid.

Bebin justru berpandangan, sebaiknya Indonesia saat ini terlebih dulu fokus untuk melakukan transisi ke mobil hybrid ketimbang langsung berfokus sepenuhnya pada mobil listrik.

Sebab, selain faktor harga, masyarakat Indonesia juga belum siap untuk melakukan perubahan radikal. Belum lagi masalah infrastruktur, seperti stasiun pengisian daya yang belum banyak tersebar.

Sebagai contoh, kalau mobil konvensional bisa mengisi bahan bakar di pom-pom yang sudah tersebar dan hanya butuh waktu sekitar 10 menit, sebaliknya mobil listrik membutuhkan waktu yang lebih lama untuk pengisian daya. 

"Pas mau charging battery, masuk rest area liat alat charger lagi dipakai atau tidak. Terus pas dapat alat chargernya, dibutuhkan waktu lebih dari 30 menit bahkan 1 jam, bukankah jadi mengubah diri?" tutur Bebin kepada Validnews, (21/10).

Sedikit berbeda diutarakan Arwani, sebagai pengguna mobil listrik. Dari pengalamannya, dia tidak pernah mengalami kesulitan dalam pengisian kendaraannya. Termasuk ketika dirinya mencoba mengendarai mobil listriknya dari Jakarta ke Wonosobo.

Saat itu, dirinya cukup mengandalkan charging portable yang ada di mobilnya. Selain itu, pengisian daya bisa dilakukan di beberapa hotel, bahkan di rumah sekalipun. Syaratnya, rumah harus memiliki daya listrik minimal 1.300 VA (volt ampere)

"Pakai listrik yang 1.300 VA masih cukup. Kalau terpaksa sekali bisa ke kantor PLN, pasti ada charging. Tinggal beli token listriknya. Bagi saya, pakai mobil listrik tidak ada khawatir kemanapun," tegas Arwani.

Kendati begitu, dirinya tak menampik memang sebagian besar masyarakat Indonesia belum siap untuk menggunakan mobil listrik.

Bedanya, Ketua KOLEKSI itu justru menyoroti pola pikir sebagian besar masyarakat yang masih memandang mobil sebagai sebuah barang investasi. Dalam artian, ketika membeli mobil, mereka selalu mempertimbangkan berapa harganya nanti ketika hendak dijual lagi.

Hal itu yang menurutnya sulit. Sebab mobil listrik sejenis dengan barang yang mengandalkan teknologi, semacam TV dan gadget. Karena perkembangannya cepat, maka penyusutan harganya juga akan cepat pula.

Perubahan Iklim
Kesiapan masyarakat Indonesia untuk beralih dari kendaraan konvensional ke era mobil listrik, pada akhirnya memang menjadi sesuatu yang krusial. Apalagi jika ini ditilik dari tujuan besar mobil listrik sebagai kendaraan ramah lingkungan, yang digadang-gadang bisa mengurangi efek pemanasan global, akibat emisi karbon dan efek rumah kaca.

Pemerintah sendiri punya harapan akan mampu mengurangi emisi CO2 sebesar 2,7 juta ton untuk roda empat dan lebih; serta  sebesar 1,1 juta ton untuk roda dua, pada tahun 2030 mendatang. Target ini juga didasarkan target jumlah produksi kendaraan listrik yang dicanangkan.

Harapan itu pada akhirnya bisa saja hanya menjadi angin lalu, jika kondisinya masih seperti saat ini. Kala mobil listrik hanya menjadi komoditas masyarakat kelas atas semata, sasaran yang diinginkan bisa meleset. 

Bahkan dengan harganya yang masih sangat mahal, Bebin Djuana meragukan kalau sebagian besar pembeli mobil listrik saat ini, benar-benar peduli akan isu lingkungan tersebut.

"Jujur saya tidak terlalu yakin kalau yang beli itu peduli terhadap lingkungan. Tetapi saya tidak bisa kesampingkan (pembeli) generasi milenial. Karena mereka inilah generasi penerus, mereka ini yang lebih peduli lingkungan dibandingkan generasi sebelumnya," terang Penyiar program Klinik Otomotif Sonora (KOS) tersebut.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Country Director Greenpeace Indonesia, Leonard Simanjuntak. Leonard berbaik sangka, bahwa pembeli mobil listrik benar-benar didasarkan atas kepeduliannya terhadap isu lingkungan. 

Untuk itu, harga mobil listrik harus bisa terjangkau di berbagai lapisan masyarakat. Lebih jauh lagi, dia berpendapat, keberadaan kendaraan berdaya listrik jangan sekadar untuk mobil pribadi. 

Akan tetapi, juga untuk kepentingan industri. Alih-alih hanya berfokus pada pengembangan mobil listrik untuk kepentingan pribadi, Leo menginginkan agar pemerintah serius untuk mengembangkan sektor transportasi publik. 

"Memang seharusnya juga menjadi kapasitas industri nasional, (agar) nanti lebih murah. Logikanya kan gitu, akan lebih murah kalau diproduksi oleh industri nasional," tutur Leo kepada Validnews.

Bukan hanya itu, pekerjaan rumah yang lebih besar lagi adalah menciptakan sumber pembangkit listrik yang juga bersumber dari energi terbarukan (renewable energy).

"Kalau di hulu listriknya tetap bersumber pada energi fosil, tentu tidak signifikan. Bahwa akan terjadi perubahan dari tingkat polusi udara, saya kira iya. Tetapi untuk emisi karbon, ya kita harus bisa secara sistemik. Dari pembangkit listrik juga harus bertransisi secepat-cepatnya ke renewable energy," jelas Leo.

 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA