Selamat

Minggu, 25 Juli 2021

VISTA

14 Juli 2021|21:00 WIB

Sosok Di Balik Renaisans Timnas Italia

Tangan dinginnya berhasil mengubah kesebelasan yang terpuruk, menjadi juara tak terlawan.

Penulis: Arief Tirtana,

Editor: Yanurisa Ananta

ImageRoberto Mancini, pelatih Timnas Italia. Sumber foto: Shutterstock/dok

JAKARTA – Gemuruh sorak suporter Timnas Italia memenuhi Stadion Wembley, Inggris, Minggu 11 Juli lalu. Dari bangku penonton, mereka meluapkan girang, setelah penjaga gawang Gianluigi Donnarumma mampu menepis tendangan penyerang sayap Timnas Inggris, Bukayo Saka. Keberhasilan itu lantas dirayakan para pemain timnas berjuluk Gli Azzurri, dengan teriakan sembari berlari, dan pelukan satu sama lain.

Sementara, pemandangan mengharukan terpampang di pinggir lapangan. Roberto Mancini, pelatih Timnas Italia yang selalu terlihat dingin, tak kuasa menahan tangis bahagia. Baru saja, ia menyaksikan, kesebelasan binaannya keluar sebagai juara turnamen sepak bola Euro 2020.

Pelatih 56 tahun itu melampiaskan tangis di bahu sahabat sekaligus asistennya, Gianluca Vialli. Bahkan setelahnya, Mancini masih menopangkan tangan di lutut, sangking tak kuasa menahan haru.

"Saya menangis di lapangan setelah pertandingan 30 tahun yang lalu, dan saya menangis lagi hari ini. Saya tidak tahu kenapa, itu terjadi begitu saja. Air mata keluar setelah saya melihat para pemain. Saya benar-benar tak bisa menyadari, bahwa kami telah melakukannya (menjadi juara)," terang Mancini dalam konferensi pers usai laga final Euro 2020.

Seperti kelaziman kisah sukses, perjalanan Timnas Italia juga melewati masa suram nan panjang. Mundur empat tahun sebelumnya, kesedihan pernah menggenangi wajah-wajah penggawa Timnas Italia, pada Minggu 13 November, di Stadion San Siro, Milan.

Hari itu, mereka dipastikan gagal melaju ke Piala Dunia, untuk pertama kali sejak terakhir pada tahun 1958 silam. Saat itu, Roberto Mancini belum mengambil alih tim.

Tim Italia dinyatakan kalah dalam pertandingan playoff melawan Swedia 0-1. Imbasnya, pelatih Italia saat itu, Gian Piero Ventura, harus langsung angkat kaki beberapa hari berselang. 

Insiden tersebut sekaligus membuka jalan bagi Roberto Mancini untuk memegang tampuk kekuasaan sebagai pelatih, beberapa bulan kemudian.

Kebangkitan Timnas Italia
Dalam bahasa Perancis, Renaissance atau renaisans berarti "kelahiran kembali". Kata itu pantas untuk menggambarkan nasib Timnas Italia setelah diasuh Roberto Mancini.

Saat pertama kali melatih, Mancini menghadapi kondisi yang tidak mudah. Dia mesti mengelola satu tim yang tengah berada dalam kehancuran. Sebuah harian sepak bola ternama di negeri Pizza itu, Gazzetta Dello Sport, sampai menggambarkan keterpurakan tim tersebut dengan sebutan "kiamat" atau "apocalypse".

Betapa tidak? Timnas Italia tak lolos Piala Dunia, belum menang selama enam bulan, dan menempati ranking FIFA terburuk sepanjang sejarah sepak bola mereka, yakni peringkat 20.

Beban seberat itu sudah teronggok di depan Mancini, saat Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) menunjuknya sebagai pelatih Timnas Italia pada 15 Mei 2018.

Meski mengaku siap menjadi nahkoda Timnas Italia, pria kelahiran Jesi, 27 November 1964 itu mengungkap, sebelum dirinya tak ada satupun pelatih yang mau memegang tanggung jawab besar tersebut.

"Banyak yang takut untuk masuk ke dalam situasi sulit, namun sepak bola juga terbentuk dari momen-momen seperti ini. Kamu hanya perlu sedikit rasa percaya diri dan keyakinan akan kualitas pemain-pemain muda yang ada," jelasnya, dikutip dari Football Italia.

Begitu bertugas, Mancini langsung menyusun sejumlah rencana perubahan. Diawali dengan memanggil banyak pemain muda. Antara lain, Nicolo Zaniolo dan Sandro Tonali yang bahkan pada masa itu belum pernah bermain di Seri A.

Kemudian, dipadukannya para junior itu dengan senior, seperti Mario Balloteli. Hal itu cukup mengejutkan karena Balloteli sempat cukup lama absen dari Timnas.

Hasilnya memang tak langsung terlihat. Timnas Italia sempat menang di laga debut melawan Arab Saudi. Namun Mancini gagal membawa Italia menang di lima pertandingan setelahnya. Termasuk dua kekalahan yang didapat dari Belanda dan Portugal.

Namun perubahan selalu membutuhkan proses. Bagi Mancini, hasil minor tersebut justru melecut untuk makin beradaptasi dengan anak-anak asuhnya di Timnas Italia.

Terbukti, usai ditaklukkan Portugal dengan hasil 0-1, di tanggal 11 September 2018, Timnas Italia mampu bertaji di lapangan. Pertandingan tersebut menjadi titik akhir fase buruk Timnas Italia, menuju kebangkitan. Menggapai era Renaisans di bawah tangan dingin mantan pelatih Manchester City itu.

Sejak itu, Timnas Italia tak sekalipun tersentuh kekalahan dalam 30 pertandingan setelahnya. Secara total, Timnas Italia menang 26 kali, sementara empat lainnya yang berujung imbang. Sampai akhirnya, tim yang ‘sakit’ itu sembuh, kemudian menjadi juara Euro 2020.



Gaya Bermain
Dalam membentuk skuat Timnas Italia yang tak terkalahkan, Mancini perlu menempuh jalan panjang. Tentu dengan gaya sendiri.

Dia punya beberapa pemain andalan yang jarang tergantikan sebagai kerangka tim. Di luar itu, Mancini sering menggonta-ganti pemain. Memanggil nama-nama baru untuk diberi kesempatan unjuk gigi berseragam Timnas Italia.

Mancini juga tidak memakai pola formasi klasik 3-4-3. Ia lebih sreg dengan formasi 4-3-3, meski dimungkinkan berubah saat dipraktikkan. Misalnya, beralih ke pola 3-4-2-1 ketika sedang mendominasi penguasaan bola di lapangan tengah.

Selain itu, Mancini pun melakukan transformasi krusial dengan tidak bertumpu pada gaya bertahan grendel ala Italia, Catenaccio. Dia mendorong tim untuk lebih menyerang, mengandalkan kecepatan di sisi sayap, juga tak segan bermain sabar, kaki ke kaki dari lini belakang.

Soal gaya bertahan, Mancini menugaskan duet bek tengah andalannya Leonardo Bonucci dan Giorgio Chiellini.

Keduanya dipasang untuk menekan lawan hingga sepertiga lapangan. Tujuannya, agar lawan tidak memiliki kesempatan mendekati kotak penalti Timnas Italia.

"Kami harus menyadari bahwa kami bukan sebuah tim yang sekadar mengendalikan pertandingan dengan cara bertahan. Kami harus mulai dari konsep menyerang lebih baik ketimbang bertahan," ujar Mancini mengutip Football Italia, Minggu (28/3).

Jorginho, Marco Verratti dan Nicolo Barella yang biasa menjadi pilihan utama di lini tengah dibuat bersatu secara organik, alias melengkapi satu sama lain. Ketiganya bergantian mengambil peran dalam membantu pertahanan, berduel merebut bola dari lawan, dan juga mengatur aliran bola.

Pemain di lini depan, Ciro Imobille, tidak selalu diandalkan Mancini. Saat ujung tombak itu dimatikan, Mancini tidak takut mengubah gaya permainan dengan menggunakan penyerang bayangan atau false nine, seperti yang dilakukannya pada pertengahan laga final melawan Inggris.

Melengkapi segala sentuhan Mancini, mentalitas para pemain juga turut diubah. Dari yang semula terpuruk, menjadi pemain bermental juara, tanpa peduli usia dan jumlah caps di Timnas Italia.

"Mancini telah mengubah mentalitas kami. Dia berusaha agar kami merasa nyaman dengan posisi masing-masing, hingga kami tak merasa adanya tekanan apapun. Dia telah membuat kami menjadi seperti keluarga," kata bek senior yang kembali mendapatkan kesempatan di era Mancini, Francesco Acerbi.

Sanjungan juga datang dari sesama pelatih asal Italia, Roberto De Zerbi. Mantan pelatih klub Sassuolo itu memuji kinerja Mancini, sekaligus berterima kasih atas segala jerih payahnya memoles performa Timnas Italia.

“Sungguh luar biasa Italia, membuat semua orang bahagia. Bukan cuma untuk hasil akhir, tapi juga cara mereka meraih kemenangan. Menjelang Piala Eropa, saya bilang bahwa, terlepas apapun hasilnya nanti, sungguh menyenangkan melihat tim nasional bermain (di bawah asuhan Mancini)," ungkap De Zerbi.

Pelatih Juara
Gelar juara Euro 2020 menjadi bukti sahih kecemerlangan Roberto Mancini. Namanya mungkin tak sebesar Pep Guardiola, Jurgen Klopp, Antonio Conte, bahkan Jose Mourinho, tapi kegemilangan rekam jejaknya layak diadu. Bahkan sedikit lebih tinggi.

Apa tolok ukurnya? Mancini selalu bisa menyabet gelar juara di hampir seluruh klub yang diasuhnya. Praktis hanya ketika menangani Zenit St. Petersburg saja Mancini belum sempat memberikan trofi juara, lantaran keburu dipinang Timnas Italia.

Ia berhasil membawa pulang trofi Coppa Italia untuk Fiorentina dan Lazio. Galatasaray juga sempat mendapat trofi serupa di Turki. Bahkan Inter Milan dan Manchester City dibawanya meraih gelar domestik lengkap, mulai dari trofi juara Liga, Piala Liga, hingga Piala Super Coppa Italiana atau FA Community Shield di Inggris.

Klub-klub yang mendapat gelar juara itu juga tidak selalu dalam keadaan ‘sehat’ saat pertama kali ditangani Mancini. Sebut saja Fiorentina dan Lazio, yang mendapat trofi bersama Mancini, ketika sedang dirundung masalah keuangan, sehingga terpaksa menjual banyak pemain bintang.

Di Manchester City, Mancini boleh dikatakan mendapatkan privilege, karena bisa membeli banyak pemain bintang. Namun jangan lupa, Mancini telah membawa klub itu ke tahta juara untuk pertama kali. Setelah sebelumnya gagal, kala dilatih Mark Hughes.

Manchester City diketahui terakhir kali mendapat trofi juara pada era tahun 1960-an.

Jurnalis senior Italia, Mario Scocerti, bahkan memuji Mancini sebagai juara sejati. Sosok yang bisa mengubah keadaan tim, seraya mengiringinya menjadi pemenang.

Mancini berhasil mencetak prestasi untuk kesekian kali. Namun, pria yang sukses bersama Sampdoria itu masih punya mimpi yang telah tertanam sejak sebelum menjadi pelatih Timnas Italia. Ia ingin mengangkat trofi kemenangan di ajang sepak bola dunia, World Cup.

“Saya punya mimpi. Saya ingin bisa menang sebagai pelatih, satu gelar yang tidak bisa saya menangkan ketika menjadi pesepakbola, yaitu Piala Dunia (World Cup),” tukasnya kepada Gazzetta dello Sport, Januari 2018.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA