Selamat

Selasa, 21 September 2021

28 Juli 2021|21:00 WIB

Si Jenius Matematika

Kegigihannya mengulik matematika membuahkan sejumlah temuan dan teori, hingga mendapat pujian dari Albert Einstein

Penulis: Gemma Fitri Purbaya,

Editor: Satrio Wicaksono

ImageEmmy Noether adalah seorang matematikawan Yahudi-Jerman yang dikenal karena sumbangan pentingnya ter hadap aljabar abstrak dan fisika teori. Sumber foto: Ist/dok

JAKARTA – Emmy Noether harus memohon kepada dekan di University of Erlangen, untuk bisa menjadi mahasiswi di kampus tersebut. Namun tetap saja tidak dikabulkan. Padahal, dirinya telah dinyatakan lolos ujian masuk.

Peristiwa itu terjadi pada awal tahun 1900-an. Dia harus mengalami ketidakadilan saat hendak meraih impian sebagai ilmuwan matematika.

Kala itu, hanya sedikit universitas di Jerman yang mau menerima murid perempuan. Alasannya, mereka tidak cocok mendapat pendidikan tinggi.

Bahkan ada anggapan yang lebih ekstrem lagi. Mengizinkan perempuan belajar di universitas, adalah tindakan radikal yang bisa memicu kekacauan!

Halangan itulah yang menghadang Emmy Noether. Namun berkat kegigihan yang tak surut, dia mendapat pengecualian, diperkenankan masuk kelas dan mengikuti pelajaran. Itu pun dengan catatan: mesti mendapat izin dari dosen pengajar.

Dispensasi itu didapat atas jasa Max Noether, ayahnya sendiri, yang merupakan profesor serta dosen di University of Erlangen.

Emmy Noether duduk sebagai murid ‘bayangan’ selama beberapa tahun. Sampai tiba kesempatan emas, ia diperbolehkan menjalani ujian peraihan gelar doktor.

Perempuan muda itu tampil gemilang dan mendominasi. Rata-rata nilainya gemilang pada semua tes sehingga lulus dengan memuaskan.

Perjalanannya pun berlanjut, ia bermaksud menjadi dosen di perguruan tinggi yang sama. Sayang, lamarannya ditolak!

Pasalnya, pihak kampus mempunyai aturan ketat untuk tidak mempekerjakan dosen perempuan. Tidak ingin diam saja, Noether mencari celah. Sampai akhirnya memutuskan untuk membantu ayahnya mengajar. Ia menjadi dosen pengganti, saat ayahnya yang sudah tua itu sakit.

Pintu keberuntungan sempat terbuka, ketika pada 1915, seorang ahli matematika terkenal, David Hilbert mengundang Noether untuk mengajar di University of Gottingen, Jerman.

Namun, jenis kelaminnya kembali dipermasalahkan. Seorang profesor protes, seraya mengeluarkan hardikan yang sangat merendahkan Noether.

"Apa yang akan dipikirkan tentara kita saat kembali ke kampus dan menemukan bahwa mereka harus belajar dari perempuan?" kata si professor.
 
Mendapati persoalan itu, Hilbert tidak tinggal diam. Ia membela, sebab mengetahui bakat cemerlang Noether yang akan berguna bagi kemajuan kampus. Menurutnya, perbedaan jenis kelamin bukanlah alasan yang masuk akal untuk menolak Noether.

Namun Hilbert tidak berhasil meyakinkan pihak universitas. Mereka tetap menutup pintu untuk Noether, bahkan dengan cara yang menyakitkan. Seorang dekan universitas tersebut dengan sinis berkata, otak perempuan tidak cukup untuk matematika! 

Hilbert tak mundur. Dia bersikeras mengupayakan agar Noether bisa mengajar di kampus itu. Setelah perdebatan berjilid-jilid, pihak universitas pun melunak.
 
Noether diizinkan bekerja di sana, tetapi hanya sebagai dosen tamu. Ia juga diharuskan mengajar menggunakan nama Hilbert. Tanpa bayaran! 

Rentetan perlakuan buruk itu tidak dialami Noether seorang. Banyak perempuan Jerman di masa itu, yang juga merasakan kepahitan sejenis. Tak sebatas menyasar bidang pendidikan, diskriminasi terjadi pula di ranah-ranah lain, terutama politik. Keadaan tersebut lantas melecut perlawanan.

Sebuah gerakan sosial lalu muncul pada 1918, dan berhasil mendesak penguasa agar memperbolehkan perempuan ikut pemilihan pemimpin. Peralihan keadaan itu, sedikit menguntungkan Noether. Dia diangkat menjadi dosen purna waktu pada 1919, meski tetap tak bergaji!

Tangga Pencapaian
Selama berada di Gottingen, Noether bergabung dengan kelompok penelitian yang dipimpin Hilbert. Dia menyumbang beragam gagasan baru untuk perkembangan ilmu fisika. Termasuk, terlibat dalam kajian-kajian teori relativitas, hasil telaah Albert Einstein pada tahun 1915.

Para peneliti di sana, tak terkecuali Hilbert, gagal memahami hukum konservasi energi dalam kerangka relativitas umum. Menariknya, persoalan itu justru bisa dipecahkan Noether, melalui seperangkat cara yang dinamai Teorema Noether.

Teorema tersebut menyatakan, suatu sistem yang memiliki simetri kontinu, maka mempunyai kuantitas yang dipertahankan ataupun sebaliknya.

Noether pun menyadari, kalau “waktu” dalam relativitas umum adalah sesuatu yang mengalir dan melengkung, karena “ruang waktu” dibengkokkan oleh alam semesta. Berbanding dengan pandangan Newtonian yang menyebut “waktu” sebagai kuantitas absolut.

Tahun 1920-an Noether mulai tertarik dengan aljabar. Ia sukses mengembangkan teori gelanggang (ring) yang merupakan satu struktur dalam aljabar abstrak.

Buah pikiran Noether itu memudahkan teorema-teorema aritmatika lain yang diterapkan pada objek nonnumerik, seperti polinomial, deret, matriks, dan fungsi. Bahkan, “gelanggang” juga disebut sebagai penemuan paling penting untuk para ahli matematika di masa depan.

Einstein pun memuji kecerdasan Noether, seraya menjulukinya si jenius matematika.

"Fraulein Noether adalah ahli matematika jenius paling signifikan yang paling produktif sejak pendidikan tinggi untuk perempuan dimulai. Ia menemukan metode yang membuktikan pentingnya perkembangan bagi ahli matematika saat ini," sanjung Einstein dalam New York Times, terbitan 1935.

Akhir Sang Pejuang Matematika
Waktu melaju, keadaan berganti. Posisi Noether tiba-tiba terusik, ketika sebuah telegram dikirim ke University of Gottingen. Isinya, meminta kampus untuk memberhentikan tujuh dosen di sana, termasuk Noether. Secepat mungkin!
 
Nazi yang memerintah Jerman, melarang orang Yahudi seperti Noether untuk mengajar.
 
Ia mencoba mencari kampus lain di Jerman yang bersedia merekrut. Nahas. Tidak ada satu universitas pun yang mau menerimanya. Semuanya tunduk pada aturan Nazi untuk menyingkirkan unsur-unsur Yahudi dalam tubuh lembaga. 

Pada saat keadaan makin sulit, Noether terselamatkan oleh kemasyhuran bakat serta penemuannya. Banyak pihak bersimpati padanya seraya menawarkan pertolongan. Termasuk Presiden Bryn Mawr College di Amerika Serikat, Marion Edwards Park.
 
Park menawari mengajak Noether bergabung sebagai dosen di kampus yang dipimpinnya. Melalui Park pula, Noether mengetahui bakal mendapatkan beasiswa dari Rockefeller Foundation sebesar US$ 4 ribu, atau sekitar Rp57 juta. Jika dihitung dengan kurs saat ini, jumlahnya kurang lebih US$ 79 ribu atau mencapai Rp1 miliar.
 
Noether tidak segera menerima kesempatan itu. Pasalnya, ia juga mendapat tawaran mengajar dari universitas lain, seperti University of Oxford. Di sisi lain, ia juga tak ingin meninggalkan Gottingen.
 
Akan tetapi, keadaan tidak memungkinkan untuk Noether terus bertahan di Jerman. Makin hari, kekuasaan Nazi kian mengintimidasi orang-orang Yahudi. Bukan hanya menyasar kaum dewasa, bahkan anak-anak turut diincar.

Mereka dilarang berbicara di kelas-kelas sekolah. Pembungkaman tersebut teralami oleh keponakan Noether bernama Gottfried, seorang remaja yang juga memiliki bakat di bidang matematika.

Gottfried pun menerima perlakuan tak menyenangkan dari teman-teman sebaya, karena ia seorang Yahudi. Sementara, tidak ada yang berani membela. Akhirnya, Noether pun memilih pergi ke Bryn Mawr. Di sana, dia diterima dengan sangat baik.
 
Belum genap dua tahun tinggal di Amerika Serikat, Noether meninggal dunia secara tiba-tiba, pada April 1935. Waktu itu, ia baru saja menjalani operasi kista ovarium besar di Bryn Mawr Hospital.
 
Padahal usai operasi, Noether dalam keadaan baik. Namun pada hari keempat setelah pembedahan, ia tak sadarkan diri. Suhu tubuhnya meningkat hingga 42 derajat celcius. Pembuluh darah otak yang pecah, membuat nyawanya tidak terselamatkan.
 
Kematiannya meninggalkan duka panjang. Meski demikian, penemuannya abadi. Pada 1995, sebuah sabuk asteroid ditemukan, dinamai 7001 Noether untuk menghormatinya. Begitu pula sebuah kawah di Bulan, dibubuhi juluk yang sama: Nother.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER