Seribu Rupiah Yang Membangun Desa | Validnews.id

Selamat

Rabu, 01 Desember 2021

19 Oktober 2021|21:00 WIB

Seribu Rupiah Yang Membangun Desa

Pesan nenek moyang menjadi jalan keluar menyelesaikan masalah

Penulis: Dwi Herlambang,

Editor: Rendi Widodo

Seribu Rupiah Yang Membangun DesaZakarias Antapada sang inisiator GESER. Dok. Pribadi

JAKARTA – Suatu hari pada tahun 2012, hujan dengan intensitas lebat mengguyur Dusun Dua, Desa Lembur Tengah, Kecamatan Alor Tengah Utara, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT). Hujan yang tidak kunjung mereda sejak pagi hari itu meluapkan air bah ke perkampungan warga. 

Sialnya, banjir turut merobohkan Jembatan Winato yang baru beberapa pekan dibangun secara swadaya oleh masyarakat dengan bantuan pembiayaan dari pemerintah.

Ambruknya Jembatan Winato jelas menghambat mobilitas masyarakat. Warga Dusun Dua harus memutar dan berjalan lebih jauh untuk keluar masuk desa. Hal ini harus mereka alami selama berbulan-bulan. Miris, tidak ada pihak yang tergerak untuk memperbaiki jembatan yang ambruk itu.

Kabar ambruknya jembatan sampai ke telinga Zakarias Atapada (48)—warga Desa Lembur Tengah—yang setiap harinya bekerja di Kupang. Dia bagian dari Lembaga Swadaya Masyarakat WWF Indonesia. Kala pulang ke kampung halaman, Mobi—sapaan Zakarias—merasa miris melihat kondisi jembatan yang sudah rusak parah.

Melihat kondisi jembatan itu, Mobi berpikir sejenak. Ia teringat nenek moyang manusia yang sudah mengajarkan nilai gotong royong untuk menyelesaikan sebuah persoalan. Menurutnya, tradisi itulah yang kadang dilupakan oleh generasi penerus yang membuat generasi hari ini terlampau sibuk menunggu tanpa mau berbuat lebih dahulu.

Tanpa pikir panjang, Mobi lantas melakukan diskusi dengan masyarakat dan beberapa orang tua. Mereka membahas bahwa sebaiknya warga melakukan urun dana untuk memperbaiki jembatan. Gayung pun bersambut. Mayoritas peserta diskusi menyetujui usulan Mobi untuk selanjutnya diteruskan kepada Kepala Dusun Dua.

Keesokan harinya, Kepala Dusun Dua yang mendapatkan informasi dari warga tentang rencana perbaikan jembatan mendatangi kediaman Mobi. Sang Kepala Dusun Dua pada intinya menyetujui usulan tersebut. Namun, dia bingung berapa besaran iuran yang harus dikeluarkan oleh masyarakat.  Mobi menjelaskan, soal iuran akan dibahas dengan Kepala Desa Lembur Tengah.

Mobi pun bergerak cepat untuk menginisiasi pertemuan antara Kepala Desa, Kepala Dusun, Tetua Adat dan masyarakat. Dalam musyawarah, Mobi mengusulkan masyarakat boleh mengeluarkan uangnya dengan sukarela berapapun nilainya. Mendengar perkataan tersebut, salah satu Tetua Adat merogoh koceknya. Dia menaruh uang sebesar Rp5 ribu.

“Dan ketika berbicara jembatan rusak dia (Tetua Adat) bilang jangan lama-lama dan memberikan uangnya. Akhirnya warga yang lain, anak-anak muda disitu juga setuju dan mereka sepakat untuk pengumpulan dana setiap Kepala Keluarga (KK) wajib Rp5.000,” turut Mobi kepada Validnews, Minggu (17/10).

Mobi menjelaskan, uang yang terkumpul seluruhnya untuk dibelikan bahan material berupa semen. Sementara untuk batu dan pasir, warga bisa mengambil di sekitar desa. Dengan semangat gotong royong, masyarakat pun bahu-membahu memperbaiki Jembatan Winato selama dua hari. 

Dalam proses pengerjaan, Mobi berpesan untuk memperkuat struktur pondasi jembatan agar kali ini jembatan lebih kokoh menghadapi amukan banjir.

Kini Jembatan Winato telah berdiri kokoh. Bahkan Badai Seroja dan banjir bandang yang pernah menghantam NTT pada awal tahun 2021 ini tak bisa merobohkan semangat gotong royong yang menjadi fondasi Jembatan Winato.

Gerakan Seribu Rupiah
Setelah berhasil memperbaiki Jembatan Winato, Mobi pun kembali ke aktivitasnya di kota. Meskipun begitu, Mobi melihat satu problematika yang ada bahwa pembangunan desa tidak akan pernah selesai hanya dengan memperbaiki jembatan saja. Terlalu banyak pekerjaan yang harus diselesaikan dengan cepat. Duduk menunggu tangan pemerintah adalah hal yang membuang waktu.

Dia memikirkan enam ruas jalan utama rusak berat dan menghambat pergerakan masyarakat di Alor yang berjarak hampir 60 kilometer dari desanya berada. Jalan tersebut adalah jalan utama yang menghubungkan enam desa.

Tidak hanya memperlambat aktivitas, rusaknya jalan ini juga tidak jarang memakan korban bagi masyarakat. Misalnya, pada saat musim penghujan tiba jalanan yang tergenang bisa menyebabkan masyarakat celaka dan jatuh. 

Teringat dengan sistem urunan kala memperbaiki Jembatan Winato, Mobi pun berpikir menerapkan hal serupa untuk memperbaiki jalanan ini. Puncaknya, pada 8 Juni 2015, Mobi menginisiasi dan menggagas sebuah gerakan gotong royong yang disebut dengan Gerakan Seribu Rupiah (GESER).

Sejak saat itu, setiap kali Mobi pulang ke kampung halaman ia menyempatkan diri untuk memotret kondisi jalan dan mengunggahnya ke laman media sosial Facebook yang ia beri nama I Love My Village . Nama aku ini bermakna untuk mencintai kampung halaman. 

Media sosial dipilih Mobi mengingat ia masih bergelut dengan aktivitasnya di kota sehingga untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat Facebook dirasa menjadi wadah yang tepat.

Melalui unggahan tersebut Mobi mengajak masyarakat mendonasikan seribu rupiah per KK untuk biaya perbaikan jembatan. Dengan asumsi satu desa memiliki 400 KK maka setidaknya dalam satu bulan pengumpulan uang Rp400 ribu bisa dibelikan minimal 10 sak semen untuk memperbaiki satu ruas jalan yang rusak. Sementara ruas jalan sisanya akan dikerjakan pada bulan selanjutnya secara bertahap.

“Kenapa harus seribu? Saya berpikir kalau seandainya kumpul seribu rupiah itu paling gampang kita ambil uang receh (dan mudah) jika dibandingkan mengumpulkan Rp5.000 atau Rp10.000,” ujarnya.  

Tidak disangka postingan Mobi di Facebook disambut baik oleh masyarakat desa baik yang tinggal di NTT. Yang merantau seperti di Jakarta, Surabaya, dan Makassar tak mau ketinggalan. 

Untuk mempermudah akses donasi, Mobi menunjuk beberapa perwakilan sebagai koordinator pengumpulan dana. Nantinya, kumpulan uang seribu itu akan di transfer ke rekening induk yang disetujui.

“Pesan saya waktu itu kita hanya bisa menjelaskan dan jangan memaksa orang. Target kita awal adalah sampaikan kepada keluarga yang artinya kalau di Kupang kita akan sampaikan ke enam desa itu,” ujarnya.

Sebulan penggalangan dana menghasilkan Rp5.9 juta. Uang tersebut dibelikan sebanyak 81 sak semen. Sementara, bahan material seperti batu dan pasir semuanya diambil dari desa. Tanggal 10 Juli 2015 secara serentak warga bersama relawan GESER melakukan pengecoran di enam titik ruas jalan.

Pasca perbaikan, Mobi lantas menyampaikan laporan pertanggungjawaban baik kegiatan fisik maupun laporan keuangan. Dalam menyampaikan laporan tersebut, semuanya diunggah di laman Facebook sebagai bentuk transparansi bagi para pemberi donasi. Selain itu, Mobi juga secara langsung memberikan laporan kepada enam desa yang terlibat.

Seiring berjalannya waktu, persoalan demi persoalan di Kabupaten Alor pun bermunculan.

Banyak masyarakat yang mengunggah dan menandai GESER di ungahan mereka. Suatu hari ada seseorang yang mengunggah tentang kondisi SDN Mahuting di Desa Welai Selatan, Alor, yang sudah rusak parah. Dari unggahan tersebut, sekolah ini masih menggunakan bambu, beralaskan tanah, dan dindingnya yang sudah rusak parah.  

Unggahan tersebut pun dibanjiri oleh 400 komentar. Sayangnya dari ratusan komentar tersebut, Mobi tidak menemukan adanya pihak yang memberi solusi. Kebanyakan dari mereka hanya mengumpat buruknya penanganan dari pemerintah dalam hal ini Dinas Pendidikan Kabupaten Alor. 

Setelah membaca, Mobi pun berujar sebaiknya untuk memperbaiki sekolah tersebut GESER perlu kembali dijalankan. 

Untuk kesekian kalinya, jari-jari Mobi menulis dan mengunggah kondisi sekolah tersebut. Menurutnya sebelum paket datanya habis dan jarinya lelah ia tidak akan pernah berhenti mengunggah situasi di kampung halamannya.

Lambat laun, makin banyak masyarakat yang tergerak untuk berdonasi. Bahkan mereka yang sejatinya bukan masyarakat Alor juga turut memberikan donasi seribu rupiahnya untuk pembangunan SDN Mahuting. 

“Karena mungkin mereka melihat situasi sekolah dan upaya kita mereka menyumbang secara sukarela dan tergerak hati. Selain itu ada juga yang nyumbang material.” kata Mobi.

Pelan tapi pasti, GESER pun mulai dikenal masyarakat luas. Gerakan yang bermula menjadi sebuah wadah perbaikan jalan menjelma menjadi wadah sosial. 

Gerakan ini juga berperan dalam renovasi sekolah yang sudah rusak, renovasi rumah ibadah, pengumpulan buku-buku untuk anak-anak di pedalaman Alor, dan membantu orang sakit.

“Begitu kita lihat laik dibantu langsung kita eksekusi. Bahwa kita akan bantu semampu kita,” ujarnya.

Mobi menjelaskan, indikator GESER dalam membantu persoalan di NTT sangatlah sederhana. Indikatornya ketika melihat unggahan seseorang kalau hati sudah bergerak maka tidak boleh ditunda dan harus segera dieksekusi.

Setelah enam tahun membangun desa, GESER telah berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp959 juta, 2.270 keramik, 1.500 buku bacaan dan alat tulis kantor, 150 karung pakaian laik pakai, 1 ton sembako dan 6.500 sak semen. Semuanya telah didistribusikan untuk kepentingan masyarakat NTT secara umum.

Bahkan, urunan warga ini turut berperan membantu distribusi bantuan sembako dan pakaian laik pakai bagi 15 orang kurang mampu di Banjarmasin, Kalimantan Selatan serta mendistribusikan bantuan pakaian seragam sekolah bagi anak-anak SD Katolik Kotiak, Kabupaten Mappi, Papua.

Selain itu, program GESER inisiasi Mobi pun dikopi oleh beberapa komunitas lainnya. Program serupa diadopsi oleh Komunitas Alor Siap Berbagi (KASI),  Program Kelompok Belajar Masyarakat (PKBM) Indah, Komunitas Les Bahasa Inggris (LBH),  Komunitas Gerakan Membaca Sebentar (GEMETAR), Komunitas Gerakan Panggilan Hati Flobamora (GPHF).

Atas dedikasinya menjadi pejuang sosial, Mobi pun mendapatkan piagam penghargaan dari Kapolres Alor atas kerja sama dalam mendukung tugas pengabdian dan pelayanan kepada masyarakat Alor. Selain itu, Mobi juga masuk ke nominasi penerima Satyalancana Kebaktian Sosial 2021 yang digagas oleh Kementerian Sosial RI.

Bagi Mobi, sudah saatnya masyarakat menyadari dari mana mereka berasal. Sebagai masyarakat yang lahir di desa, sudah sepatutnya terdapat tugas dan tanggung jawab yang tidak bisa dilempar ke pihak-pihak di luar. 

Lagi pula, nenek moyang sudah mengajarkan sikap gotong royong yang perlu dipertahankan dalam menyelesaikan masalah. Orang Indonesia dalam berbagai suku mengadopsi nilai gotong-royong ini.

“Sebagai warga yang baik bagaimana kita punya peran, peran itu harus secara aktif dan tidak sekadar kritik tapi sertakan dengan solusi. Dan solusi ini dilakukan dengan bersama-sama,” tutupnya.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER