Selamat

Minggu, 25 Juli 2021

VISTA

30 Juni 2021|21:00 WIB

Sentuhan Hati Perawat Paliatif

Bukan hanya merawat saat sakit, dia juga rela menemani para pasien pada masa-masa akhir hidup, seraya membesarkan hati keluarga yang ditinggalkan.

Penulis: Dwi Herlambang,

Editor: Yanurisa Ananta

ImageDadan Abdulah Syafei. Sumber Foto : Ist/dok

JAKARTA – Air mata Dadan Abdullah Syafei tak kuasa dibendung seusai mendengar kabar duka itu. Rasanya baru kemarin pria 33 tahun itu merawat dan bermain bersama Tegar, yang didiagnosis mengidap Human Immunodeficiency Virus atau HIV. Anak sebatang kara berusia 5 tahun itu telah mengembuskan napas terakhir.

Perkenalan Dadan dengan Tegar dimulai empat bulan sebelum kepergiannya. Kala itu Dadan sudah bergabung dengan Yayasan Rumah Rachel (YRR), lembaga nirlaba yang menyelenggarakan asuhan paliatif rawat rumah tidak berbayar bagi anak-anak dengan kanker dan HIV/AIDS, terutama yang berlatar keluarga kurang mampu.

Tegar begitu menyentuh hati Dadan karena berkondisi nyaris tak tertolong. Di sepetak kontrakan, Tegar tinggal bersama sang kakek yang tidak mungkin mengawasi cucunya setiap saat karena harus berkeliling memulung sampah.

Sementara, kedua orangtua Tegar sudah lebih dulu berpulang karena penyakit yang sama. Keadaan yang mengenaskan itu, menjadi alasan kuat bagi Dadan untuk memberi perawatan paliatif kepada Tegar. 

Perawatan paliatif adalah penanganan pasien berikut keluarganya yang memiliki penyakit tersembuhkan, dengan cara memaksimalkan kualitas hidup mereka. Sekaligus pula, mengurangi gejala yang mengganggu dengan memperhatikan aspek psikologis dan spiritual.

“Dia tidak punya banyak teman karena mengidap HIV yang mengancam jiwanya. Secara fisik pun dia berbeda,” cerita Dadan kepada Validnews, Jumat (25/6). 

Sebenarnya, perawatan paliatif telah tersedia di rumah sakit. Namun tidak semua, hanya beberapa saja yang membuka. Termasuk di tempat Dadan pernah bekerja sebagai perawat. 

Sebelum tahun 2014, Dadan sering merasa miris melihat pasien anak-anak yang harus meregang nyawa tanpa ditemani keluarga.

Hati Dadan tersentuh, “Bagaimana rasanya meninggalkan dunia tanpa kerabat di sisi?”

Merasa terpanggil, alih-alih meneruskan kerja di rumah sakit di daerah Tangerang, Dadan memutuskan menjadi perawat paliatif di Yayasan Rumah Rachel yang berdiri sejak 2006. Di sanalah, dia bertemu Tegar. 

Dadan mengunjungi kontrakan Tegar tiga kali dalam seminggu. Bukan semata memberi pengobatan fisik, Dadan juga merawat psikis Tegar dengan mengajak bermain, menonton, hingga jalan-jalan bersama.

Tiap kali tidak sempat berkunjung, ia akan menelepon atau melakukan panggilan video dengan Tegar.

Menurut Dadan, hanya aktivitas tersebut yang bisa memberi warna baru di ujung usia Tegar. Apalagi kebanyakan pasien sudah sulit beraktivitas. Perawatan medis juga sulit dilakukan karena tidak banyak mengubah keadaan.

Jalan Terjal Perawatan
Merawat pasien anak dengan metode paliatif sama sekali tidak mudah. Sebab, Dadan tidak hanya mengawasi pengobatan medis pasien, tapi juga memantau kejiwaan pasien. Kerapkali, pria asal Tasikmalaya, Jawa Barat itu, terlarut dalam suasana, terutama pada saat-saat sulit.

Pernah satu ketika Tegar sama sekali enggan minum obat. Dadan pun memberanikan diri membawa anak itu ke rumah sakit karena kondisinya kian memburuk. Di luar dugaan, begitu tiba Tegar malah menangis histeris, karena tahu di tempat itulah kedua orangtuanya meninggal.

“Dia tidak mau diperiksa, diambil darah, atau rontgen. Dia hanya menangis histeris. Dia teringat kejadian saat orangtuanya meninggal,” cerita Dadan.

Kejadian emosional kemudian berlanjut ketika Dadan mengajak Tegar makan di warung bakso sepulang dari rumah sakit. Anak itu teringat kenangan makan bersama ibunya di warung yang sama. Sontak Dadan terenyuh mendengarnya. 

Sebagai perawat paliatif, Dadan harus mau mengabulkan permintaan terakhir anak-anak di ujung usianya. Seperti Tegar yang ingin sekali melihat binatang. Maklum, sejak lahir, Tegar hanya tahu ayam dan kucing.

Dadan lalu menawari Tegar mengunjungi Taman Safari Bogor, Jawa Barat. Binar mata Tegar muncul lagi, berseri-seri menyambut ajakan itu, seperti tidak mengidap penyakit apapun.

“Saya pangku dia, gendong dia, dan membersihkan badannya. Dia memiliki semangat baru. Sampai akhirnya dia tidak sanggup lagi melawan penyakitnya seminggu setelah kami pulang dari Taman Safari,” kenang Dadan. 

Tentu tidak mudah menjalani itu semua. Dadan sangat terpukul, saat tahu perlawanan Tegar terhadap virus di tubuh telah berakhir. Wajar saja, empat bulan bukan waktu singkat untuk dua orang membangun ikatan emosional, hingga sulit menepis rasa kehilangan.

Penyesalan kerap muncul. Dadan sering merasa tidak memberi harapan hidup yang lebih lama kepada Tegar. Tapi ada daya? Mau tak mau dia mesti mengikhlaskan Tegar.

Hingga tujuh hari setelah Tegar pergi, Dadan selalu mengunjungi makam Tegar, sekadar meluapkan rindu.

Sepeninggal Tegar, tugas Dadan tidak lantas usai. Dia masih harus memberi pendampingan untuk keluarga Tegar yang juga terpukul. Dadan mesti memastikan kondisi psikis mereka tetap baik-baik saja.

Suka Anak Kecil
Meski pekerjaan perawat paliatif cukup mengurus emosional dan fisik, jebolan Politeknik Kesehatan Depkes Kesehatan Tasikmalaya itu, menikmati pekerjaan yang dilakoni. Ia rela menjadi perawat paliatif anak, satu tugas yang belum tentu disanggupi oleh sejawatnya yang lain.

Sejak duduk di bangku kuliah, keinginan Dadan untuk menjadi perawat paliatif sudah menggurat. Namun sebelum terengkuh, ia harus menjajal bekerja di rumah sakit lebih dulu.

Namun, tiap kali melihat pasien anak-anak meninggal di ruang perawatan, tekad Dadan justu makin menguat. Jika sudah begitu, tidak banyak yang bisa dilakukan. Perawat medis juga tidak banyak yang terlibat. Padahal, menurut Dadan, masih ada yang bisa dilakukan agar pasien bisa pergi dengan tenang.

Jalur perawatan paliatif di Indonesia terbilang masih sedikit. Sementara yang membutuhkannya terus meningkat. World Health Organization (WHO) memperkirakan ada hampir 700 ribu anak di Indonesia yang hidup dengan penyakit serius. Sayangnya, sebanyak 86% anak tidak mendapatkan perawatan paliatif.

"Jadi tidak hanya fokus pada kondisi fisik atau medis. Lingkup perawatan kita psikososial dan spiritual. Dan yang paling jarang dikerjakan dari perawat yang lain: kita biasa membantu atau mendukung manakala pasien yang sudah dekat dengan ajalnya," cetus Dadan.

Metode Komunikasi Khusus
Menjadi perawat paliatif tidak hanya disyaratkan cakap dalam pengobatan medis, namun juga terampi berkomunikasi khusus. Dadan sendiri, dalam dua tahun pertama bertugas, sempat merasa kesulitan saat harus mengabarkan detail penyakit pasien kepada keluarga. Setelah mendapat pelatihan selama tiga tahun, dia lebih menguasai cara menyampaikan berita duka.

Mula-mula, Dadan mesti memahami dulu prognosis atau perjalanan penyakit pasien anak yang akan didampingi. Lalu dia memprediksi tingkat keparahan penyakit, dan waktu kemungkinan hidup si anak.

Setelah itu, Dadan harus menyampaikan kondisi pasien kepada keluarga. Menurut Dadan, keluarga mesti diutamakan dalam pemberian informasi itu. Bukan berarti sudah ada perawat maka keluarga lepas tangan.

"Artinya kita menyampaikan sampai detail, misal anak bisa meninggal karena kondisi kejang, karena perdarahan hebat, kondisi infeksi yang berat, atau henti napas karena progresivitas penyakitnya," urainya. 

Demi mengurangi keterkejutan pihak keluarga, Dadan juga harus menjelaskan tanda-tanda pasien anak sudah tidak dapat tertolong lagi. Ini menjadi bagian terberat dari tugasnya. Penyampaian yang baik, sedikit banyak akan meredam letupan emosional pihak keluarga. 

"Jadi ada pendekatan komunikasi khusus. Kita belajar komunikasi di kondisi yang sulit," kata Dadan. "Kita berharap ada penerimaan dan kesadaran. Sampai akhirnya, keluarga dan pasien sadar bahwa penyakit bisa menyebabkan kematian," tutur Dadan.

Penerimaan menjadi penting agar keluarga dan pasien bisa memanfaatkan waktu hidup pasien yang tersisa. Pada rentang itu, mereka bisa mengabulkan keinginan pasien. 

"Jarang sekali dokter yang membicarakan situasi seperti itu. Jarang juga tenaga kesehatan yang mau duduk lama membicarakan ini dengan pasien dan keluarganya, karena memang sulit," ujarnya.  

Di sisi lain, Dadan harus mengelola keluhan fisik pasien. Misal, dengan melakukan kunjungan rutin sebanyak 2-3 kali dalam satu minggu. Juga bisa melakukan video call rutin apabila dibutuhkan. Termasuk, selalu siaga di malam hari, kalau-kalau kesehatan pasien memburuk. 

Dadan mesti rajin berkonsultasi dengan dokter terkait keluhan pasien. Juga untuk mengetahui langkah-langkah perawatan medis yang bisa dilakukannya di rumah pasien.

Tanggung jawab Dadan menjadi berlipat-lipat. Banyak dari keluarga yang bergantung dengan asuhan Dadan. Apalagi bagi keluarga tak banyak mengerti penyakit dan perawatannya. 

Komunikasi semacam itu membutuhkan waktu. Dadan mengungkapkan, hanya dengan kejujuran, kesungguhan, dan niat membantu, pesan bisa tersampaikan. Yang terpenting, kata Dadan, perawat tidak boleh menghakimi apapun pilihan pasien dan keluarga.

Tidak jarang, keluarga menanggapi kabar duka dengan meluapkan amarah dan kekecewaan terhadap perawat. Hal itu lumrah, mengingat tidak ada satupun orangtua yang mau anaknya meninggal. 

"Ada juga perasaan marah dan kecewa kepada perawatan. Jadi emosional yang banyak kesedihan dan ketakutan kan sulit dikelola," ceritanya. 

Untuk mengelola kesulitan tersebut, Dadan memilih tidak sendirian saat melakukan kunjungan perawatan. Ia selalu mengajak rekan perawat lain, dokter, bahkan psikolog, untuk membantu memberi ketenangan. 

Keterampilan komunikasi Dadan semakin tertantang saat harus menjelaskan kepada pasien di saat-saat kritis. Dengan hati-hati, dia mesti menerangkan tingkat keparahan penyakit yang diidap, sekaligus menanyakan hal yang paling diinginkan pasien.

"Ketika itu diungkapkan kami coba wujudkan," jelasnya. 

Ketika pasien berada di detik-detik sebelum meninggal, Dadan pun mendampingi. Tak berhenti di tahap itu, 3-6 bulan setelah pasien berpulang, dia masih setia menemani pihak keluarga melawati masa-masa sulit.

Hampir semua anak-anak asuhan Dadan, mengidap penyakit berat seperti kanker atau HIV. Sebagian besar, kehilangan nyawa sebelum usia 13 tahun. Bahkan, tidak sedikit mengembuskan napas terakhit di hadapannya. 

Walau melewati peristiwa-peristiwa yang tak mudah, Dadan bangga dengan pekerjaannya sebagai perawatan paliatif. Dengan begitu dia merasa berguna hidup di dunia. 

"Saya terpuaskan dengan perawatan ini. Bisa membuat batin saya kuat karena benar merawat dan tidak seperti di rumah sakit. Ada kepuasan batin yang saya alami. Jadi secara tidak langsung mengubah pemikiran dan sikap saya. Sikap seperti apa? kita tidak boleh menghakimi mereka," pungkasnya.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA