Selamat

Selasa, 21 September 2021

07 September 2021|21:00 WIB

Secercah Harap Lagu Anak

Tak sekadar menjadi hiburan, lagu anak bisa dijadikan sebagai sarana edukasi yang menyenangkan

Penulis: Arief Tirtana, Chatelia Noer Cholby,

Editor: Satrio Wicaksono

ImageIlustrasi anak sedang mendengarkan musik. Shutterstock/dok

JAKARTA – Masih ingat dengan Trio Kwek-Kwek, Chikita Meidy, Tasya atau Maisy? Yap. Dengan keluguan dan gayanya masing-masing, mereka pernah meramaikan blantikan musik anak di era 90-an.

Kalau dilihat ke belakang, dasawarsa itu bisa dibilang sebagai masa jaya lagu anak-anak. Dendangan musik yang ceria, ditambah lirik-lirik sederhana khas anak-anak, hampir setiap hari kita dengar.

Bahkan, hampir seluruh stasiun televisi dan radio, memiliki program acara khusus yang menampilkan deretan lagu anak setiap harinya. Kring-Kring Olala, Ci Luk Ba, Tralala Trilili, menjadi program yang ditunggu-tunggu.

Namun sekarang, semuanya meredup. Entah apa penyebab pastinya. Yang jelas, anak-anak sekarang lebih mudah larut dengan musik-musik pop orang-orang dewasa. Sampai-sampai, tidak sedikit juga dari mereka yang lebih hafal lagu dangdut koplo yang tak jarang liriknya pun sedikit seronok.

Pada zaman media sosial seperti saat ini, potongan-potongan backsound dari konten aplikasi Tik-Tok, bahkan lebih mudah dihafal oleh anak batita sekalipun.

Padahal di balik itu semua, sebenarnya banyak nilai positif yang bisa di didapat dari keberadaan lagu-lagu anak. Setidaknya, lirik yang sederhana dan sesuai perkembangan usia anak, bisa jadi media edukasi yang menyenangkan.

"Dulu, musik anak memang berwarna banget. Dengan lagu kita bisa merangsang anak untuk berimajinasi. Lagu Susan misalnya, mengutarakan soal cita-cita menjadi seorang dokter," ujar mantan penyanyi cilik, Natasha Chairani saat berbincang dengan Validnews, Senin (6/9).

Baginya, lirik lagu Cita-Cita yang dinyanyikan Susan dan Ria Enes begitu luar biasa. Meski simpel, namun bisa membawa anak-anak untuk berimajinasi tentang cita-cita di masa depan.

Lirik Abadi
Lagu-lagu anak memang selalu identik dengan melodi yang riang gembira. Bukan tanpa alasan, karena kegembiraan itu sendiri menggambarkan kehidupan anak-anak. Lewat lagu, mereka bisa terhibur.

Sebenarnya bukan sekadar hiburan, ternyata setiap lirik punya pesannya masing-masing. Misalnya, lagu Joshua berjudul “Obok-obok”, meski terkesan simpel dan terkesan main-main, namun ternyata ada pesan dibalik karya tersebut. Mengajarkan anak-anak untuk tidak takut mandi dan bersentuhan dengan air.

Kemudian, lagu “Bolo-Bolo” yang dinyanyikan oleh Tina Toon yang sekarang jadi Anggota DPRD DKI Jakarta. Dulu, lagu itu mengundang perhatian karena gaya unik dari gadis keturunan Tionghoa tersebut. Bukan hanya terhibur, tetapi liriknya juga memberikan edukasi soal silsilah keluarga.

Ada lagi lagu dari Sherina berjudul “Andai Aku Besar Nanti”, yang tergolong lebih dalam liriknya tapi dibawakan dengan cara anak-anak. Lewat lagu tersebut, anak-anak bisa belajar untuk menghargai dan mengapresiasi kasih sayang yang diberikan oleh orang tua.

"Hebatnya, pencipta lagu dulu itu mampu menciptakan lirik simpel yang menggambarkan anak-anak. Namun, tetap ada pesan moral yang cukup kompleks soal kehidupan. Singkatnya, lagu anak pada masa saya itu, menghibur dan mendidik," ungkap Natasha yang dipercaya Band Potret untuk merilis ulang lagu Bunda dalam versi anak-anak.

Senada, Ria Enes mengatakan, lagu anak zaman dulu dibalut dengan lirik-lirik yang abadi, sehingga bisa diterima kapan saja. Bukan hanya cocok pada masanya, tapi juga masih sangat relevan untuk zaman sekarang, bahkan untuk generasi berikutnya.

"Intinya, karya musik pada zaman itu membuat anak-anak merasa nyaman dan bergembira. Sebab, lagu itu juga termasuk ke dalam salah satu metode pembelajaran anak usia dini," ungkapnya saat dihubungi Validnews, Minggu (5/9).

Sayangnya, semakin maju peradaban, keberadaan lagu-lagu anak kian tenggelam. Kejayaan lagu anak tersebut berangsur pudar, menguap begitu saja.

"Ketika zaman setiap saluran televisi masih memiliki hiburan lagu, kayaknya Sherina itu yang terakhir kali muncul. Kemudian, makin ke sini, ya semakin hilang," lirihnya.

Dari Televisi ke Digital
Meski begitu, Ria melihat, sejatinya bukan berarti musik anak hilang bak ditelan bumi. Semuanya kini, ujarnya, telah berubah lantaran digitalisasi. Toh, di tengah surutnya permusikan anak, ia masih melihat, ada kelompok-kelompok yang tetap memperjuangkan keberadaan lagu-lagu dan program edukasi anak.

Namun, kata Ria, memang wadahnya yang berbeda. Sekarang, lewat YouTube, kita akan menemukan berbagai konten-konten kreatif untuk anak.

Bedanya, tidak seperti dulu yang gampang tersaji begitu saja di televisi, kini orang tua perlu mencarinya terlebih dahulu. Itupun, jika para orang tua memiliki referensi untuk menemukan media khusus pendidikan dan pembelajaran anak.

"Sekarang ini tinggal pintar-pintarnya orang tua dan guru, untuk memberikan referensi channel yang bagus untuk anak-anak," tuturnya.

Di sisi lain Ria juga mengamini, jumlah lagu anak dibandingkan lagu dewasa, sangatlah tidak berimbang. Bila kita lihat di layar kaca, pasti lebih banyak acara musik yang menampilkan deretan lagu orang dewasa.

“Acara musik anak, malah jarang kita temui.Tentu dari situ saja tidak bisa menjawab kebutuhan anak-anak,” imbuhnya.

Menurut Mamo Agil, pencipta lagu anak, wadah industri musik anak sekarang memang berbeda dari era 90-an. Hal tersebut membuat para pencipta lagu maupun penyanyinya kurang semangat untuk berkarya. Lagi-lagi, dulu, banyak wadah yang menaungi mereka untuk berkarya.

“Deretan acara televisi yang mengisi hiburan musik anak-anak, mulai dari hari sekolah hingga libur. Jadi, mereka pun memiliki spirit untuk berkarya pada saat itu,” ujarnya kepada Validnews, Sabtu (4/9).

Sejatinya, saat ini para pencipta lagu maupun penyanyi bisa lebih mudah untuk berkarya dengan adanya platform digital. Mereka dapat dengan mudah untuk mengunggah karyanya ke dunia digital. Sayangnya, platform tersebut baru sebatas digunakan untuk kembali mengulang masa kejayaan lagu anak. Tidak terlihat aktif membuat produk lagu anyar yang bisa nge-hits.

Gerakan Save Lagu Anak
Tak bisa dimungkiri, lagu-lagu anak kini mulai tergantikan dengan deretan lagu dewasa. Kerap kita lihat di layar kaca atau media sosial, anak-anak menyanyikan lagu-lagu orang dewasa yang sedang viral.

Mirisnya, anak-anak tersebut tetap bersenandung dengan riang dengan lagu orang dewasa layaknya lagu untuk seusianya, tanpa mereka pahami dan sadari makna yang terkandung dalam lagu tersebut.

Tentu bukan salah mereka. Toh, tren-nya seperti itu.

Namun, peristiwa ini membuat para penyanyi cilik era 90-an seperti Natasaha merasa prihatin. Berangkat dari keresahan tersebut, Natasha bersama penyanyi cilik lainnya mencoba membangkitkan kembali lagu anak melalui gerakan “Save Lagu Anak”.

“Sebagai mantan penyanyi cilik, kami turut sedih melihat generasi saat ini malah lebih tertarik dengan lagu dewasa. Bahkan, beberapa orang menyambut gembira melihat anak kecil itu menyanyikan lirik yang tidak sesuai dengan umurnya,” tutur Natasha.

Menurutnya, mereka seharusnya diperlakukan layaknya seorang anak-anak. Mulai dari lagu yang dibawakan, hingga cara berpenampilannya pun harus sesuai dengan umurnya. Cara seperti itu juga akan membuat anak akan tumbuh dan berkembang sebagaimana mestinya.

Lewat gerakan tersebut, para mantan penyanyi cilik itu akan memancing para kaum milenial atau generasi 90-an, untuk bernostalgia. Hal ini karena kebanyakan dari generasi tersebut saat ini telah menjadi sosok orang tua yang memiliki anak.

“Dengan kaum milenial itu mendengarkan lagu zaman dulu, mereka dapat mengajak anaknya juga untuk melakukan hal yang sama. Mereka bisa memperkenalkan kepada buah hatinya, bahwa lagu-lagu ini yang cocok dengan usia anak-anak,” terangnya.

Gerakan para mantan penyanyi cilik ini sebenarnya ingin menyadarkan masyarakat luas tentang pentingnya lagu anak. Apalagi mereka yang sudah berkeluarga dan punya anak, seharusnya memberikan konten hiburan yang semestinya untuk sang buah hati.

Ia pun memastikan, gerakan ini tak sekadar bernostalgia. Konkretnya, gerakan ini juga membuat single yang berjudul “Selamatkan Lagu Anak”. Meski sudah dewasa, para mantan penyanyi cilik era 90-an seakan mau menunjukkan, mereka masih tetap peduli dengan lagu anak di Tanah Air.

Menariknya, kesadaran tersebut juga datang dari seorang laki-laki bernama Fikri Ahmad Fawzy (19). Meski lahir pada awal tahun 2000-an, Fikri mengaku sempat merasakan euforia lagu anak yang menggembirakan saat masa kecilnya.

Sayangnya, anak-anak sekarang ini mungkin tak seberuntung dirinya dahulu yang masih bisa merasakan euforia tersebut. Lewat akun media sosial pribadi, mahasiswa Universitas Padjadjaran itu mulai mengunggah konten nostalgia tahun 90-an.

"Di samping menyukai deretan lagu tersebut, saya juga rindu mendengarkan dan melihat aksi para penyanyi cilik itu tampil. Akhirnya, saya suka posting video mereka dari kaset-kaset yang koleksi pribadi,” ungkapnya.

Ia ingat, pada masa kecilnya, ia selalu diputarkan DVD player yang berisi hiburan anak-anak, mulai dari film hingga lagu anak. Koleksi anak muda asal Bandung itu tersimpan rapi dalam sebuah lemari kaca. 

"Ayah saya memang sering membelikan kaset DVD dulu, terus masih disimpan hingga kini. Terkadang, kalau lagi enggak sibuk saya masih sering mendengarkannya. Bikin semangat aja kalau lagunya diputar," ungkapnya saat dihubungi Validnews.

Tidak ingin merasakan euforia-nya hanya sendirian, Fikri pun membuat akun Instagram akun @idolacilik90-an pada bulan Februari 2016. Lewat akun tersebut, pria berdarah Sunda itu memberikan wadah untuk memberikan informasi seputar pada masa kejayaan lagu anak.

Dengan hadirnya akun tersebut, mahasiswa jurusan Komunikasi ini ingin berkontribusi untuk menyelamatkan lagu anak. Jadi, para generasi saat ini, bisa mendapatkan hiburan yang sesuai. Ia mengaku miris jika melihat anak kecil mengonsumsi hiburan orang dewasa.

“Sebagai generasi muda, saya tidak ingin anak-anak kecil itu terlena dengan lagu-lagu dewasa. Bahkan, mereka bernyanyi tanpa tahu arti atau makna liriknya. Lewat akun ini, saya ingin memperkenalkan lagu anak yang sebenarnya itu seperti apa,” jelasnya.


Dampak Psikologis
Selain untuk menghibur, sebenarnya seberapa penting sih lagu anak? Sampai-sampai kita mesti repot-repot memikirkan hal tersebut.

Usut-punya usut, ternyata keberadaan lagu anak, juga dapat mempengaruhi psikologis anak-anak. Sebab di setiap liriknya yang mengandung nilai positif, lagu anak nyatanya memang memengaruhi perilaku sang anak.

Menurut seorang psikolog anak Firesta Farizal, M.Psi., lagu-lagu anak memang bisa sangat berpengaruh pada tumbuh kembang anak. Karena lagu merupakan salah satu media pembelajaran untuk anak. Lewat lagu, orang tua bisa mengenalkan berbagai konsep atau nilai kepada anak.

"Ketika buah hati yang sedang belajar berbicara, anak-anak bisa dilatih dengan menyanyikan lagu. Dengan begitu, para anak tersebut akan bertambah perbendaharaan katanya,” ujarnya kepada Validnews, Jumat (3/9).

Bila orang tua membiasakan buah hatinya menyanyikan lagu anak-anak, otak anak yang seperti spons, dipastikan akan menyerap setiap bait lagu yang dinyanyikan. Hal ini akan berdampak sangat besar bagi masa pertumbuhan mereka.

Begitu juga anak yang lebih sering mendengarkan lagu dewasa. Sekalipun tak mengerti makna dan pesan dari setiap liriknya, anak tetap akan menyerap kata-kata yang ada dalam lagu-lagu tersebut. Pendeknya, dipaksa dewasa sebelum waktunya.

“Kita tidak boleh lupa, bahwa pada masa pertumbuhan itu anak akan cepat menyerap pengetahuan di sekitarnya. Salah satunya menyerap kata dari lagu tersebut, sehingga mereka bisa saja mengucapkan sesuatu hal yang kurang pantas,” serunya.

Setelah menyerap kata tersebut, terdapat kemungkinan mereka akan menerapkan apa yang ada di lagu tersebut. Jika lagu tersebut berisi edukasi atau nilai positif, maka tidak ada masalah saat diterapkan.

Namun sebaliknya, bila lagunya berisi kekerasan, percintaan, perselingkuhan, patah hati dan diputar berulang kali, bukan tak mungkin akan memengaruhi pola tingkah lakunya. Mereka akan berpikir tindakannya adalah sesuatu hal yang umum dan bisa diterima banyak orang.

“Sebagai orang tua, kita perlu berhati-hati dalam memilih konten apa yang dapat ditonton atau didengar anak,” sergahnya.

Lebih jauh lagi, untuk mencegah agar anak tidak terkontaminasi lagu dewasa ini, tentu diperlukan kerja sama dari orang tua, sekolah, hingga instansi pemerintah yang mengurusi soal anak. Pemerintah dengan segala sumber daya dan otoritasnya, bisa saja memberikan wadah maupun memopulerkan kembali lagu-lagu anak Indonesia.

Pemerintah juga dapat bekerja sama dengan sejumlah komunitas peduli lagu anak, para pencipta lagu anak maupun produser musik untuk kembali menghasilkan karya bagi anak-anak.

“Anak-anak itu butuh lagu anak, bukan lagu dewasa. Jadi, ini perlu diperhatikan juga oleh pemerintah,” ucapnya. 

Sementara di level sekolah, lagu-lagu anak tetap terus dijalankan, khususnya bagi PAUD dan TK, meskipun pasokan lagu baru tak banyak lagi. Paling tidak, dengan lagu-lagu jadul yang mengandung pesan positif, anak akan terpengaruh untuk ikut berbuat positif seperti pesan dalam lagu.

Yuk, mulai jejali anak-anak dengan lagu sesuai umurnya. Siapa tahu dengan makin sering diperdengarkan, bisa membuka kembali pasar lagu anak yang sempat mati suri. Anak-anak pun bisa makin ceria dengan cara yang semestinya.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA