Selamat

Kamis, 05 Agustus 2021

07 Juli 2021|20:45 WIB

Satiris Ulung Bernama A. A. Navis

Ketajaman pikirannya tertoreh dalam berbagai karya yang sarat sindiran terhadap ketimpangan sekitar.

Penulis: Andesta Herli Wijaya,

Editor: Satrio Wicaksono

ImageSastrawan Ali Akbar Navis atau AA Navis. Sumberfoto: Ist/dok

JAKARTA – Ada sebuah kisah tentang Haji Saleh, seorang yang semasa hidup dianggap alim sebab rajin beribadah. Namun, ternyata setelah di akhirat, ia dimasukkan ke neraka.

Haji Saleh tak terima. Pikirnya, Tuhan keliru menghitung amalan hambanya. Lantas, ia menghadap Tuhan untuk meminta penjelasan. Dan ternyata, keputusan Tuhan tak berubah. Haji Saleh tak pantas berada di surga, karena saat di dunia hanya sibuk sembahyang dan berdoa.

Sampai-sampai, dia lupa mencari nafkah untuk anak dan istri. Alhasil, keluarganya terperangkap dalam kemelaratan.

Demikianlah kisah yang diceritakan Ajo Sidi kepada Kakek Garin, dalam cerita pendek berjudul “Robohnya Surau Kami”.

Kisah tersebut membuat Kakek Garin tersindir sekaligus sedih. Hatinya terguncang. Ujungnya, si kakek yang sehari-hari menghuni surau kampung dan tak bekerja itu, nekat bunuh diri.

Cerpen yang terbit tahun 1955 itu, ditulis oleh pengarang asal Sumatra Barat, A.A. Navis. Kemunculan perdananya di majalah Kisah, mengejutkan khalayak sastra Indonesia serta para pembaca secara umum.

Banyak yang suka, tak sedikit pula yang menganggap karya itu telah menodai agama Islam.

Selang beberapa tahun usai “Robohnya Surau Kami”, Navis meluncurkan lagi cerpen yang tak kalah menghentak, berjudul “Man Rabuka”. Kali ini termuat di Harian Nyata Edisi Minggu, tahun 1957.

Lagi-lagi, Navis menjadi sasaran kemarahan banyak orang. Tuduhannya sama: dia telah mengolok-olok agama.

Kisahnya mengenai Jamain, seorang yang dianggap sampah masyarakat. Ketika meninggal, ia dikubur bersama candu dan berbagai poster porno yang digemarinya semasa hidup.

Usai rampung pemakaman, malaikat datang seraya bertanya, “Man rabuka?” Jamain yang tak mengerti bahasa Arab, mengira malaikat bertanya, “Apa bekal yang kamu bawa?”

Tanpa kikuk, Jamain lantas menyerahkan segala yang di sekitarnya, dari berbagai arak dan gambar-gambar mesum. Malaikat terbujuk dengan sodoran Jamain, ikut mengenyam candu hingga terlena.

Namun, ketika bahan-bahan yang memabukkan itu habis, malaikat tiba-tiba murka dan menendang Jamain.

Singkat cerita, kemarahan Malaikat berimbas pada tokoh lain yang dikebumikan di dekat kubur Jamain. Namanya, Jamalin, seorang saleh yang tekun ibadah. Tendangan malaikat juga menyasarnya. 

Berbeda dengan Jamain yang ditendang sampai terlempar ke surga, Jamalin malah didepak hingga teronggok di neraka.

Begitulah A. A. Navis dengan segala keberanian imajinasinya, mengutak-atik kehidupan sebelum hingga sesudah mati. Ia menghadirkan kisah-kisah yang mengusik pikiran khalayak, menjengkelkan, namun bagi sebagian pembaca, justru memicu perenungan.

Latar Belakang Kepengarangan
Nama lengkapnya Ali Akbar Navis. Lahir di Kampung Jawa, Padang Panjang, Sumatra Barat, pada 17 November 1924. Dia alumni pendidikan INS Kayu Tanam Padangpanjang.

Selain sastrawan, A.A. Navis juga dikenal sebagai teaterawan, kritikus, hingga pelukis.

Pendidikan Navis secara formal hanya sampai INS. Namun kegemarannya terhadap bacaan terus hidup, dan mengilhami karya-karyanya.

Sejak kecil, Navis sudah berkenalan dengan berbagai bacaan. Mulai dari tema filsafat, sejarah Islam, hingga cerita-cerita pendek.

Pada kemudian hari, meski sekolahnya berhenti di INS, kegemaran membaca itu terus hidup dan mengilhami Navis dalam merangkai karya-karya sastra.

Ketika membaca cerpen-cerpen karya Hamka yang secara teratur dipublikasikan dalam media Pedoman Masyarakat, ia pun tergoda untuk menulis. Pikirnya, “Orang lain bisa menulis, mengapa saya tidak?”

Navis adalah pemuda Minangkabau yang memilih tetap tinggal di kampung halaman. Baginya, merantau hanya soal pindah tempat. Dan keberhasilan tak ditentukan oleh tindakan itu, melainkan bergantung pada kreativitas masing-masing.

"Robohnya Surau Kami" adalah cerpen Navis pertama yang dipublikasikan, sekaligus menjadi "masterpiece" yang melambungkan namanya hingga akhir hayat. Karya itu kemudian diterjemahkan ke empat bahasa, yaitu Inggris, Jerman, Prancis dan Jepang.

Di luar bidang kepengarangan, Navis melakoni berbagai pekerjaan. Dia banyak bergaul dengan kalangan seniman dan budayawan di Padangpanjang serta Bukittinggi.

Jejaring perkawanan itulah yang mengantarkannya sebagai Kepala Bagian Kesenian, Jawatan Kebudayaan Sumatra Barat di Bukittinggi, dari tahun 1955 hingga 1957. Setahun setelah dilantik, ia juga diangkat sebagai Ketua Yayasan Ruang Pendidik INS.

Ia juga mengenyam pengalaman di industri media, dengan menjadi Pemimpin Redaksi harian Semangat di Padang pada tahun 1971 sampai 1972. Bahkan menjadi dosen luar biasa di Fakultas Sastra, Universitas Andalas. Sepak terjang Navis pun sampai ke ranah politik. Ia pernah menjabat sebagai anggota DPRD Sumatra Barat periode 1971-1982.

Pencemooh Nomor Wahid
Satu julukan yang melekat pada A.A. Navis adalah “pencemooh nomor wahid”. Gelar itu terkait dengan karya-karyanya yang kental dengan sindiran. 

Dia suka sekali menyentil fenomena sekitar yang dianggapnya timpang. Bukan hanya dalam tulisan, bahkan pada keseharian pun ia tetap menjadi pencemooh yang tak tertandingi.

Berbagai ruang kehidupan disasarnya. Dari soal takhayul, ketidakdilan sosial, agama, hingga budaya. 

Selain cerpen, Navis juga menulis novel. Antara lain, Kemarau pada tahun 1967. Isinya menggambarkan berbagai kekonyolan manusia dalam menghadapi cobaan dari Tuhan. 

Diselipkannya pula, narasi tentang harapan masyarakat pada kemunculan sosok ulama rasional dan berilmu dalam, untuk membawa umat Islam menuju kemajuan. 

Dalam novel Saraswati “Si Gadis Dalam Sunyi” (1970), Navis menggambarkan dampak perang untuk orang-orang kecil. Kesengsaraan itu dia tuturkan melalui kehidupan seorang gadis bisu.

Ketajaman sindiran sosial Navis, terangkum pula dalam sederet karya yang lain, seperti Bianglala (kumpulan cerpen, 1963), Hujan Panas (kumpulan cerpen, 1964), Hujan Panas dan Kabut Musim (kumpulan cerpen, 1990), serta Kabut Negeri Si Dali (kumpulan cerpen, 2002).

Kritikus sastra, A. Teeuw, sebagaimana dilansir dari laman Badan Bahasa Kemendikbud mengatakan, Navis adalah pengarang yang berhasil memberi warna bagi kesusastraan Indonesia pada periodenya.

Navis melengkingkan suara Sumatra di tengah dominasi konsep Jawa di arena kesusastraan masa itu. Karena itu, Teeuw menyebut Navis sebagai “angkatan terbaru” di skena sastra Indonesia.

Kepiawaian bercerita, juga membawa Navis sebagai penulis naskah sandiwara untuk beberapa stasiun RRI, dari Bukittinggi, Padang, Palembang, dan Makassar.

Tak terkecuali dengan puisi. Navis adalah penyair andal, yang telah menerbitkan buku antologi sajak berjudul Dermaga dengan Empat Sekoci pada 1975.

Penghargaan 
Meski menulis karya-karya sarat kritik, bahkan memicu polemik, Navis diakui sebagai satu sastrawan penting yang telah mendapat berderet penghargaan.

Cerpen “Robohnya Surau Kami” sendiri dinobatkan sebagai cerpen terbaik majalah Kisah tahun 1955. Tahun 1970, Navis menerima penghargaan Kincir Emas dari Radio Nederland atas cerpen berjudul “Jodoh”.

Sementara novel “Saraswati, Si Gadis Dalam Sunyi” dianugerahi penghargaan sebagai cerita remaja terbaik oleh UNESCO/Ikapi pada tahun 1988.

Tahun 1992, A. A. Navis menerima Hadiah Sastra South East Asia Write Award dari Kerajaan Thailand. Lalu pada tahun 2000, Navis memperoleh Satyalencana Kebudayaan dari Pemerintah Republik Indonesia.

A. A. Navis adalah nama yang selalu muncul dalam pemilihan cerpen terbaik Kompas. Mengutip Ensiklopedia Kemendikbud, paling tidak, sejak tahun 1992 hingga tahun 2002, karya-karya A. A. Navis selalu terpilih menjadi cerpen terbaik pilihan kompas.

Kurang lebih 50 tahun berkarya, A. A. Navis telah menghasilkan 23 judul buku karya sastra. Dia juga menulis dan menerbitkan beberapa karya nonfiksi, antara lain “Alam Terkembang Jadi Guru” yang terbit tahun 1985. Buku itu umum dipakai sebagai referensi dalam mempelajari adat dan tradisi Minangkabau.

Buku lainnya yaitu “Filsafat dan Strategi Pendidikan M. Syafei” tahun 1996, yang merupakan tulisan biografi Mohammad Syafei. Ada pula buku “Pasang Surut Pengusaha Pejuang” yang terbit tahun 1986, dan merupakan tulisan Biografi Hasyim Ning.

Dia juga menerbitkan kumpulan makalah kebudayaan dalam buku “Yang Berjalan Sepanjang Jalan (1999)”.

A. A. Navis meninggal dunia di Padang, 22 Maret 2003. Ia meninggalkan satu istri dan tujuh orang anak. Sejak kepergiannya hingga hari ini, Navis masih menjadi “legenda” tokoh sastra di Sumatra Barat.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER