Sang Peracik Visual Nan Berani | Validnews.id

Selamat

Rabu, 01 Desember 2021

03 November 2021|21:00 WIB

Sang Peracik Visual Nan Berani

Karakter-karakter yang muncul dalam tiap film Wes Anderson, terimajinasi dari dirinya sendiri

Penulis: Arief Tirtana,

Editor: Satrio Wicaksono

Sang Peracik Visual Nan BeraniSutradara Wesley Wales Anderson. Instagram/@wesandersonworld

JAKARTA – Film The French Dispatch jelas bukan film sembarangan. Selain bertabur bintang Hollywood dan Prancis, narasi dari film berintikan kehidupan jurnalis ini berbeda dengan film lainnya yang juga bertema kehidupan awak media. 

Jangan berharap menemukan isu kemerdekaan pers atau debat-debat panjang soal idealisme versus tuntutan pasar di newsroom sebuah media ada dari film ini. Itu klise buat Wes Anderson, yang berperan di tiga posisi sekaligus dalam film ini. 

Dalam produksi ini, Wes Anderson menyutradarai, sekaligus ikut menulis naskah, dan memproduseri film yang mengalami tiga kali penundaan penayangan perdana ini.

Tema "biasa", yakni kehidupan keseharian jurnalis yang diusung film berdurasi 1 jam 47 menit ini, justru peroleh banyak pujian. 

Standing ovation atau tepuk tangan meriah selama sembilan menit insan perfilman dunia yang  mengiringi akhir pemutaran perdana film The French Dispatch pada Festival Film Cannes edisi ke-74, Senin, (21/7) itu menjadi sejarah. Manifestasi pujian itu memecahkan rekor terlama di salah satu festival film paling bergengsi di dunia.

Rasa-rasanya, itu menjadi bayaran setimpal atas apa yang dihadirkan Wes Anderson lewat film kesepuluhnya itu. Dominasi ulasan positif dari sejumlah kritikus film dan banyak media mewarnai penayangan perdana itu. Sebaliknya, sang sutradara malah menolak untuk menggelar jumpa pers.

"Semoga saya dapat kembali dengan proyek lainnya," ungkapnya singkat. 

Sikap dingin dan terkesan acuh tak acuh itu, entah sengaja atau tidak, tentu menghadirkan sentimen negatif dari banyak pihak. Meskipun jika ditilik lebih jauh, rasanya sangat cocok untuk menggambarkan kiprah pria 52 tahun itu di dunia sinematografi selama ini.

Tak seperti Steven Spielberg atau Christopher Nolan yang hasil karyanya diakui oleh hampir semua penikmat film, besutan Wes Anderson justru kerap menghadirkan perdebatan. 

Ada kubu yang begitu memujanya. Ada juga ada orang-orang yang selalu mengernyitkan dahi setelah menonton film-film karya pria berzodiak Taurus itu. Buat yang tidak suka dengan karya Wes Anderson, umumnya menilai bahwa film-film buatannya cenderung aneh. Bagi mereka, cerita, plot dan humor yang dibangun sering tidak bisa dipahami.

Sementara yang memujanya, selalu mengagung-agungkan kemampuan naratif dalam setiap skenario yang ditulis. Kemampuannya dalam menghadirkan tampilan visual, terkesan bukan hanya mampu memanjakan mata. Lebih dari itu, karya-karya Wes Anderson memiliki ciri khas yang mudah dikenali, sebagai pembeda dari sutradara lain di dunia.

Kekuatan Visual
Banyak kritikus dan penikmat film mengamini, ciri khas visual memang sangat melekat dari setiap karya film buatan Wes Anderson. Mulai dari pemilihan palet warna yang khas, dengan warna-warna pastel, seperti biru muda, pink, orange dan krem. Hingga, pemilihan filter warna yang selalu bisa dipadukannya dengan apik dalam gaya khas Art Nouveau, biasa muncul di karya-karyanya. 

Hal itu yang menjadikan berbagai adegan psikologis semakin kuat. Sebagai contoh di film The French Dispatch,  sutradara kelahiran 1 Mei 1969 bisa menghadirkan perpaduan palet warna pastel yang lembut, dalam latar cerita film yang mengambil periode tahun 60-an.

Meski bukanlah yang pertama dalam karya Wes Anderson (karena sebelumnya juga sempat muncul dalam film Bottle Rocket.red), dengan berani dia melakukan eksplorasi tampilan warna monokrom hitam putih. Khususnya, untuk beberapa adegan yang menggambarkan cerita masa lalu atau flashback.

Selain warna, ciri khas Wes Anderson juga hadir dalam elemen visual lainnya. Setidaknya, hal itu banyak dieksplorasi di film terbarunya itu. Komposisi simetris dalam gambar juga menjadi salah satu ciri khas utama film-film Wes Anderson. 

The French Dispatch hadir dengan bidikan yang semakin menarik secara geometris, jika dibandingkan film-film Wes Anderson sebelumnya. Selayaknya di dua film paling terkenal dengan ciri khas tersebut, The Royal Tenenbaums hingga The Grand Budapest Hotel.

Begitu juga dalam hal mengeksplorasi gerakan kamera, keberanian tampil berbeda semakin terlihat di film terbarunya. Mulai dari sekadar permainan zoom in-zoom out, long tracking shot, kamera yang mengikuti pemeran dalam adegan, hingga kamera yang tiba-tiba berayun seperti komidi putar, pada saat adegan kerumunan orang sedang berlari ke depan, muncul di film ini.

Bahkan sampai ada anggapan, hampir semua trik yang mungkin bisa dilakukan oleh kamera dalam sebuah produksi, akan coba diwujudkan oleh Wes Anderson dalam adegannya.

Hal yang juga menjadi ciri khas adalah "Font Wes Anderson". Elemen visual ini merupakan ramuan adegan slow motion, stop motion, pengeditan kolase hingga pemilihan font Futura. Itu semua menjadi sangat identik dengan film-film Italia Kuno. 

Ikuti Fesyen
Jika kita mengetik nama Wes Anderson di kolom pencarian gambar Google, salah satu foto yang akan muncul adalah sosok berambut kecokelatan, tampil necis mengenakan jas korduroi berwarna orange.

Yap, itulah sosok Wes Anderson, salah satu sutradara Hollywood yang selalu terlihat fashionable. Ciri khas gaya klasiknya adalah pakaian ‘usang’ dan jas berbahan korduroi.

Akan tetapi, tidak berhenti sampai di situ, ketertarikan Wes Anderson akan fesyen juga menyusup dalam ke setiap film-film yang dibuatnya.

Misalnya, gambaran karakter berambut cokelat bergaya necis dengan kemeja korduroi orange, juga dihadirkan Wes Anderson dalam film animasinya berjudul Fantastic Mr. Fox.

Buat yang sudah menonton film tersebut, pasti tahu bahwa karakter tersebut adalah sesosok rubah, tokoh utama film dengan nama Foxy Fox, alih-alih seorang manusia.

Bayangkan, untuk sebuah film animasi hewan saja, Wes Anderson begitu perhatian dengan tampilan fesyen karakternya. Apalagi di film-film lainnya, busana jelas bukan sebagai pelengkap buat pria keturunan Skandinavia itu dalam karya sinematografi. Akan tetapi lebih dari itu, kenecisannya itu sudah melekat erat selayaknya kegemaran Wes akan warna pastel dan teknik pengambilan gambar yang tak biasa.

Perihal fesyen dan tampilan setiap karakter dalam filmnya, dia sangat berani dalam memadupadankan warna. Selain juga gaya glamor, yang masih kuat kesan klasiknya.

Kemampuannya dengan dukungan desainer kostum seperti Karen Patch dan Milena Canonero, sempat mendapat pengakuan di dunia fesyen, sebagai inspirasi kemunculan sebuah produk mode ternama.

Dari film The Royal Tenenbaums, misalnya. Kostum dan gaya karakter di film yang ditayangkan pada tahun 2001 silam itu, secara langsung diakui oleh desainer fesyen sekaliber Marc Jacobs, telah sangat mempengaruhi karya-karyanya di tahun 2008.

Begitu pula Alessandro Michele, desainer dari rumah mode Gucci, yang pada tahun 2015 menghadirkan desain pakaian, lengkap dengan modelnya, serupa karakter Margot Tenenbaum dari film tersebut. Yakni, dengan mengenakan mantel bulu, serta potongan rambut bob sebahu berwarna pirang.

Sebaliknya, untuk menghadirkan film dengan tampilan visual nan menawan di setiap karakter, Wes Anderson tak segan-segan menjalin kerja sama dengan desainer atau rumah mode ternama dunia.

Seperti dalam film The Grand Budapest Hotel, dirinya juga menggandeng Prada, untuk menyediakan koper-koper indah yang digunakan oleh karakter bernama Madame D.

Dengan pemilihan palet warna, eksplorasi kamera, adegan slow motion, font tulisan, hingga perihal kostum, yang semuanya berkaitan dengan tampilan visual, membuat Wes Anderson kerap disebut sebagai "sutradara yang paling mengarahkan langsung" atau most direct director.

Menanggapi gayanya, dalam sebuah kesempatan wawancara, Wes Anderson mengatakan, apa yang dilakukan di film adalah imajinasi yang terinspirasi oleh latar belakang dan psikologi diri sendiri. Ia Semuanya natural, tanpa ada upaya mengendalikan atau memilih itu semua. 

“Saya merasa seperti memiliki gaya dan suara saya sendiri,” pungkasnya.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA