Selamat

Minggu, 20 Juni 2021

SENI & BUDAYA

08 Mei 2021|15:35 WIB

Salah Kaprah Soal Musik Gambus

Musik gambus hanya dipahami sebagai label untuk musik bernuansa Islami. Padahal, pengertian tersebut tidak tepat.

Penulis: Andesta Herli Wijaya,

Editor: Yanurisa Ananta

ImageKONSER MUSIK GAMBUS. Muqaddam Azamat memainkan gitar Oud dalam konser musik gambus kelompok El-Bass pimpinan Cholid M.Sa'dy. FOTO ANTARA/Fanny Octavia

JAKARTA – Istilah gambus mungkin tidak asing lagi bagi pendengar musik populer Indonesia. Salah-satunya berkat kehadiran grup band Sabyan Gambus yang sangat populer sejak beberapa tahun terakhir.

Namun apakah grup band Sabyan Gambus itu benar-benar mengeksplorasi instrumen gambus atau sebenarnya musik pop? Apa sih sebenarnya musik gambus itu?

Istilah gambus sendiri sebenarnya problematik. Gambus sejatinya merujuk pada alat musik petik berdawai tiga hingga lima. Ini merupakan alat musik tradisional yang sudah ada di Indonesia sejak lama. Namun di sisi lain, gambus kini juga bermakna sebagai aliran musik.

Banyak pendapat yang mengatakan, alat musik gambus berasal dari Jazirah Arab, yang dibawa oleh para pedagang. Namun pakar musik belum menemukan bukti otentik yang cukup meyakinkan tentang asal-usul alat musik tersebut.

Dosen Jurusan Etnomusikologi ISI Solo, Aris Setiawan menjelaskan Instrumen musik gambus di Indonesia pada masa lalu biasa dimainkan sebagai pengiring lagu atau hiburan tradisional, seperti digunakan sebagai pengirin Zapin di masyarakat Melayu di Riau.

Seiring waktu, gambus berkembang dan dimainkan di banyak tempat. Kemudian pemaknaan gambus pun berkembang tidak lagi sebatas sebagai sebuah alat musik, melainkan menjadi suatu aliran musik.

Menurut Aris, gambus sebagai sebuah aliran musik setidaknya bisa diidentifikasi dengan melihat karakteristik musik tersebut.

“Kalau gambus sebagai sebuah aliran musik, tentu adalah permainan instrumen gambus yang menonjol,” ungkap Aris kepada Validnews, Jumat (07/5).

Aris mencontohkan, salah satu band populer yang membawakan musik gambus yaitu grup musik Debu. Ini adalah grup yang cukup populer di Indonesia, yang banyak membawakan lagu-lagu bertema sufistik.

“Atau kelompok lain yang beraliran gambus misalnya di daerah Riau yang mengiringi Zapin, dia menyebutnya musik gambus karena benar-benar mengelaborasi gambus sedemikian rupa,” ungkap Aris.

Namun, katanya, dalam perkembangan selanjutnya di skena musik modern, pemaknaan musik gambus mengalami reduksi. Menurut Aris, banyak grup-grup yang memakai nama gambus, namun tak mengelaborasi gambus di dalam musik mereka, melainkan musik poluler.

Umumnya, musik gambus dipahami hanya sebagai label untuk musik yang bernuansa Islami. Padahal, menurutnya, pengertian tersebut tidak tepat.

Dalam hal ini Aris menunjuk grup band Sabyan Gambus, yang menurutnya menempatkan gambus sebatas label Islami saja, namun luput mengeksplorasi instrumen gambus itu sendiri.

“Dalam konteks industri musik misalnya, mereka menamakan kelompoknya gambus tetapi alirannya tidak lagi mengambil idiom musik gambus tetapi idiom musik populer,” kata Aris.

“Jadi gambus hanya digunakan sebagai nama saja sebagai identifikasi mereka menyanyikan lagu-lagu bernuansa Islam.

Idealnya  kalau memang menggunakan nama gambus, harusnya ornamentasi atau elaborasi terhadap musik gambus ini harusnya lebih kuat. Jadi terbatas sebagai label saja,” imbuhnya lagi.

Menurut Aris, apa yang terjadi pada musik gambus mirip dengan apa yang terjadi di ranah musik dangdut. Dalam sejarah perkembangan musik dangdut di Indonesia, juga ada grup-grup yang memakai label orkes Melayu, tapi membawakan musik yang sama-sekali tak identik dengan karakteristik musik Melayu. 

Fenomena seperti itu, menurut Aris, adalah bentuk salah kaprah. Namun, salah kaprah itu cenderung tak terhindarkan di tengah keadaan minimnya pencatatan ataupun publikasi kajian tentang musik selama ini. (Andesta Herli)

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA