Selamat

Senin, 17 Mei 2021

TEKNO

03 Mei 2021|18:16 WIB

Saatnya TV Kampus Hadirkan Tayangan Edukatif

Televisi kini mulai kehilangan tayangan pembelajaran

Penulis: Yohanes Satrio Wicaksono,

Editor: Yohanes Satrio Wicaksono

ImageSeorang anak sedang mengikuti gerak yang ada di tayangan di televisi. Antara foto/dok

JAKARTA - Salah satu fungsi televisi adalah sebagai media pendidikan atau edukasi. Sayangnya, hal itu sepertinya telah dikesampingkan oleh industri pertelevian Indonesia. Fungsi hiburan agaknya jauh lebih dikedepankan, demi rating dan iklan.

Saat ini, mungkin jumlah tayangan yang bersifat edukatif di stasiun-stasiun televisi Indonesia, baik nasional maupun lokal, bisa dihitung. Padahal, tayangan edukatif sejatinya bisa menjadi alternatif media pembelajaran. Apalagi, ditengah belum meratanya akses pendidikan.

Oleh karena itu, tayangan atau program edukatif seharusnya bisa menjadi ceruk bagi TV berbasis komunitas, termasuk TV-TV kampus.  

"Permasalahan yang ada sekarang, televisi itu sudah kehilangan konten yang sarat akan pembelajaran. Ini yang bisa diambil," ujar praktisi media, Rahmat Edi Irawan saat peluncuran Edura TV, di Kampus Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Minggu (2/5).

Diyakini bahwa tayangan berbasis nilai pendidikan pasti memiliki pasarnya tersendiri. Apalagi di masa pandemi ini, semua aktivitas lebih banyak dilakukan dari rumah, termasuk kegiatan belajar mengajar.

Meski tantangan terberatnya adalah bagaimana mengemasnya dalam bentuk yang menarik, utamanya untuk siswa sekolah. Pasalnya, akan bersaing dengan tayangan-tayangan hiburan yang notabene lebih banyak peminatnya.

"Memang tidak mudah mengemas program dengan memasukkan nilai- ilai edukasi yang menghibur, yang memiliki kualitas yang sama dengan industri," ungkapnya.

Namun, kampus sebagai laboratorium pendidikan, sejatinya mampu menelurkan program-program pendidikan yang menarik. Apalagi UNJ sebagai "pabrik guru".

"Untuk bagaimana konten pendidikannya, tentu teman-teman UNJ paling paham. Yang terpenting adalah sinergi antar mahasiswa, dosen dan juga alumni untuk mengembangkan konten yang sarat pembelajaran," tutur Rahmat.

Dengan semakin majunya dunia digital, TV kampus atau TV komunitas jangan takut bersaing dengan televisi komersial lainnya. Pasalnya, media sosial kini sangat memegang peranan.

Jika diibaratkan, keberadaan platform digital dan media sosial sama seperti hutan belantara. Jika sudah terjun, maka yang berlaku adalah hukum rimba. Siapa yang mampu menyajikan tayangan yang menarik, dia yang akan menjadi pemenangnya.

"Makanya harus tahu dulu mau fokus kemana. Mau buat konten mendidik yang seperti apa, kemudian khalayaknya siapa, kemudian mau ditayangkan di jam berapa? Sehingga bisa tepat sasaran," tuturnya.

Rektor UNJ, Komarudin menjelaskan bahwa lahirnya Edura TV tidak lain sebagai bagian wahana untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Edura sendiri, dia sebut merupakan singkatan dari Education of Rawamangun.

"Ini terinspirasi dari kami sejak mahasiswa dulu di tahun 80-an, saat menjadi aktiv dalam diskusi-diskusi yang ingin menjadikan IKIP sebagai pusat pengembangan inovasi pendidikan. Dan romantisme itu sekarang kita tuangkan dalam bentuk Edura," tuturnya. (Satrio Wicaksono)

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER