Selamat

Selasa, 21 September 2021

14 September 2021|10:21 WIB

Perpustakaan Digital Bisa Tekan Penyebaran Hoaks dan Plagiarisme

Lewat perpustakaan digital ini, tentu tak hanya hoaks dan plagiarisme yang bisa ditekan, tetapi juga minat baca masyarakat.

Oleh: Rendi Widodo

ImageIlustrasi perpusatakaan. Pixabay/Free-Photos

JAKARTA – Hoaks dan plagiarisme masih menjadi salah satu momok yang menghantui perkembangan digital di Indonesia. Malasnya mencari referensi, ogah kroscek  dua kali, buntu kreativitas,  hingga terlalu ‘gatalnya jari’ warganet, sering kali menjadi pemicu tersebarnya hoaks dan plagiarisme.

Ketua Umum Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Yosi Mokalu menjelaskan bahwa sebagai salah satu sumber informasi yang valid, perpustakaan mengusung peran penting dalam meningkatkan literasi digital untuk mencegah hoaks dan plagiarisme.

"Perpustakaan itu kan tempat yang di dalamnya terdapat banyak informasi yang sudah disaring dan dapat dikategorikan valid," ujar Yosi seperti dikutip dari ANTARA (14/9).

Menurutnya, era digital seperti sekarang ini sangat rentan membuat masyarakat mendapatkan informasi yang belum jelas kebenarannya atau bahkan palsu alias hoaks, karena tak sedikit situs atau media yang hanya mementingkan kecepatan atau untuk kepentingan tertentu.

Yosi mengatakan kecepatan dalam memberikan informasi sudah menjadi prioritas, sehingga terkadang ada yang ‘kepeleset’. Dalam kasus media misalnya, beritanya apa fotonya siapa. Walau narasinya benar, tapi fotonya salah, kan tetap harus direvisi.

Oleh karena itu, menurut Yosi, perkembangan teknologi digital saat ini memiliki kelemahan yang perlahan dapat membunuh kebenaran informasi. Maka, masyarakat harus tetap waspada dengan mencari informasi yang valid. 

Perpustakaan dinilai bisa menjadi solusi. Yosi menuturkan bahwa perpustakaan juga dapat menekan plagiarisme apalagi jika sudah didigitalisasi.

Menurutnya, perpustakaan digital akan memudahkan masyarakat untuk melihat apakah sebuah tulisan yang akan dibuat benar-benar baru atau justru sudah ada sebelumnya. Berbeda dengan perpustakaan konvensional yang memerlukan usaha ekstra untuk mendatanginya satu per satu.

"Kalau konvensionalkan kita masih mencari sendiri penelitian yang bisa jadi referensi dan supaya tidak membuat penelitian yang sudah dibuat sebelumnya, misalnya. Kalau secara digitalkan mudah, tinggal masukkan kata kunci," kata Yosi.

Harapannya ke depan, Indonesia bisa memiliki perpustakaan digital yang data dan pengarsipannya sudah baik dan akurat. Lewat perpustakaan digital ini, tentu tak hanya hoaks dan plagiarisme yang bisa ditekan, tetapi juga minat baca masyarakat.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER