Selamat

Kamis, 05 Agustus 2021

23 Juni 2021|20:01 WIB

Perawat Keberagaman Dari Arena Balapan

Dari sirkuit formula 1, dia lantang menyuarakan penghapusan diskriminasi karena perbedaan warna kulit

Penulis: Gemma Fitri Purbaya,

Editor: Satrio Wicaksono

ImagePembalap Formula 1, Lewis Hamilton. Sumber Foto: ANTARA/DOK

JAKARTA – Dengan penuh semangat, Lewis Hamilton bergegas menuju podium satu Grand Prix Italia, yang digelar di Sikuit Mugello, pertengahan September 2020.
 
Kali itu, ada yang berbeda dari penampilannya. Dia mengenakan kaus hitam lengan panjang bertuliskan 'Arrest the cops who killed Breonna Taylor' di bagian depan. Sementara sisi sebaliknya, terpampang gambar wajah Breonna Taylor dengan tulisan 'Say her name'.
 
Breonna Taylor merupakan perempuan kulit hitam yang meninggal pada bulan Maret 2020 lalu. Ia ditembak oleh polisi yang menggerebek apartemennya, setelah dicurigai memiliki narkotika.

Sikap Lewis Hamilton itu adalah bagian dari kampanye perlawanan terhadap aksi rasialisme. Sebagai satu-satunya pembalap Formula 1 berkulit hitam saat itu, dia keras menyuarakan ketidakadilan yang kerap menimpa orang-orang dengan ras sejenis dirinya.
 
Sampai-sampai dia berani menghujamkan kritik kepada organisasi balapan terbesar dunia, yang seolah tidak bersimpati dengan isu-isu ras. Hasilnya, kelantangan Hamilton tersebut berhasil membalik keadaan.
 
Saat pembukaan GP 2020 pada bulan Juli di Austria, ada sebuah seremoni yang baru pertama kali dilaksanakan. Seluruh pembalap diminta berfoto di garis start, dengan mengenakan kaus hitam bertuliskan 'End Racism'.
 
Tapi Hamilton tampil beda. Di kasusnya, terpampang tulisan 'Black Lives Matter'. Sembari berlutut, dia sempat berpose mengangkat tangan kiri dengan telapak mengepal, melambangkan perlawanan.
 
Sayang, tidak semua pihak menyukai cara Hamilton bersikap. Protes keras pun bergulir, saat dirinya memenangkan balapan di Sirkuit Mugello, dan maju ke podium juara mengenakan kaus bertulisan 'Arrest the cops who killed Breonna Taylor'.
 
Federation Internationale de l'Automobile (FIA), asosiasi yang mengatur banyak acara balap mobil termasuk Formula 1, langsung turun tangan. Mereka menyebut Hamilton telah melanggar aturan, karena memberikan pernyataan politis di arena balapan.
 
Buntutnya, FIA membuat aturan baru, melarang pembalap mengenakan busana selain pakaian balap. Pakaian tersebut harus menutupi hingga bagian leher, termasuk masker. Semua tidak boleh dibuka sepanjang perhelatan.
 
Namun, aturan-aturan itu tak membuat semangat Hamilton padam. 

"Orang-orang mengatakan kalau olahraga bukan tempat untuk politik. Sayangnya, ini adalah hak asasi manusia dan menurut saya ini adalah sesuatu yang harus kita dukung. Sudah banyak peraturan yang dibuat untuk saya sepanjang tahun ini dan itu tidak akan menghentikan saya," tutur Hamilton dikutip dari Sportbible pada 2020.
 
FIA diketahui tidak memberikan sanksi atau penalti atas tindakan Hamilton. Penyataan asosiasi itu juga tidak memojokkan karier Hamilton, yang saat itu tengah mengejar gelar juara dunia F1 ketujuh.
 
Awal Karier
Hamilton lahir dengan nama Lewis Carl Davidson Hamilton, dari keluarga ras campuran di Stevenage, utara London. Ayahnya, Anthony, merupakan imigran asal Grenada, yang merantau pada tahun 1950-an.
 
Ketertarikannya pada dunia balap sudah tumbuh sejak dini. Bermula ketika dirinya berulang tahun kelima. Saat itu, ayahnya memberi hadiah mainan mobil remote control. Dari masa itulah semua bermula. 

Lambat laun, Anthony melihat minat anaknya itu makin membesar. Ia pun membanting tulang siang dan malam, hingga mempunyai tiga pekerjaan berbeda, demi mendukung Hamilton.
 
Pada usia delapan tahun, Hamilton berhasil mendapatkan go-kart pertama. Meski bekas, Anthony telah memodifikasinya agar bisa dikendarai Hamilton.
 
Sebagai satu-satunya anak kulit hitam yang ikut klub go-kart, pengucilan karena perbedaan ras pun dialaminya. Dalam sebuah wawancara dengan BBC, Hamilton bercerita kalau ia sangat kesal saat anak-anak itu menghina warna kulitnya.
 
"Pertama kali itu terjadi saya merasa sangat kesal, dan saya rasa saya harus balas dendam pada mereka. Tapi sekarang-sekarang ini, kalau ada orang yang mengatakan sesuatu (berkenaan dengan rasialisme) pada saya, saya akan mengabaikannya dan mengalahkan mereka di atas lintasan," ujarnya.
 
Tahun 1995, pada usia 10 tahun, Hamilton berhasil memenangkan British Junior Cadet Kart Championship. Ia menjadi pembalap termuda yang pernah menjuarainya. 

Dalam acara penyerahan trofi, Hamilton menghampiri bos tim McLaren Mercedes Formula 1, Ron Dennis. Di tangannya, tertenteng sejilid buku otobiografi Dennis. Dengan percaya diri ia berseloroh, kalau suatu hari ingin menjadi pembalap untuk tim Dennis di Formula 1.
 
Pendekatan itu menarik perhatian Dennis, yang kemudian memberikan nomor telepon kepada Hamilton, sambil berpesan untuk menghubunginya sembilan tahun mendatang.
 
Namun pada tahun ketiga usai peristiwa itu, Dennis menelpon Anthony. Dia menawari dukungan finansial bagi Hamilton, dengan catatan harus menyelesaikan sekolah dengan prestasi unggul.
 
Sejak saat itu, pembiayaan balapan, bukan lagi masalah bagi keluarga Hamilton. Kariernya pun terbangun mulus, mulai dari memenangi delapan juara dalam balapan go-kart hingga meraih di seri GP2.

Pada 2007, Hamilton melangkahkan kaki ke ajang Formula 1 bersama dengan McLaren Mercedes.

 
Berjibaku Dengan Rasialisme
Dalam tim McLaren, Hamilton disandingkan dengan Alonso, pemenang Formula 1 pada dua musim sebelumnya. 

Meski masih rookie, penampilan Hamilton terbilang gemilang. Dia mampu bersaing, bahkan beberapa kali mengungguli Alonso, hingga menjadi runner-up Formula 1 2007. Hanya selisih satu poin dari Kimi Raikkonen yang menjadi juara musim itu.

Inilah yang kemudian memicu penghinaan warna kulit pada Hamilton, dari kalangan penggemar Alonso.
 
"Boo!" cemooh para penggemar Formula 1 asal Spanyol, ketika Lewis Hamilton, melintas di Sirkuit Catalunya pada tes pra-musim di Barcelona 2008 lalu. 

Mereka sengaja melabur wajah dengan warna hitam, sambil mengenakan wig kribo dan kaus bertulisan 'Hamilton's family'. Penghinaan tersebut dilakukan atas dasar ketidakrelaan, setelah idola mereka dikalahkan Hamilton.

Itu bukan kali pertama dialami Hamilton. Di tahun sebelumnya, pada GP China, ia pun menerima hal sejenis. Bukan dari penonton, melainkan penggemar asal Spanyol yang hadir di ajang itu.
 
Tak cukup di sirkuit, aksi penghinaan kepada Hamilton, juga dilancarkan lewat internet. Situs bernama pinchalaruedadehamilton, atau berarti “ledakkan ban Hamilton” turut menebar ancaman.

Laman asal Spanyol tersebut mengajak orang-orang untuk meletakkan kuku, peniti, ataupun sesuatu yang tajam pada lintasan, sehingga bisa membocori ban mobil Hamilton saat balapan. Alasannya sama, untuk menyebarkan kebencian dan mendukung Alonso sebagai juara dunia Formula 1.
 
"Saya telah melawan stigma rasialisme sepanjang karir membalap, mulai dari anak-anak yang melempar sesuatu pada saya saat sedang karting, hingga dihantui fans dengan wajah hitam di grand prix 2007. Itu salah satu balapan pertama saya di Formula 1," katanya dikutip dari Sunday Times di 2020.
 
Menanggapi insiden itu, penyelenggara Formula 1 lantas menggelar kampanye ‘Racing against Racism’ pada 2008. Jelas, alasannya, agar perlakuan buruk serupa, seperti yang menimpa Hamilton, tidak kembali terulang. Baik pada para pembalap maupun masyarakat.
 
Formula 1 juga mengisyaratkan dukungan pada keberagaman dalam olahraga dan mengecam aksi rasialisme. Mereka bahkan mengecam pihak otoritas Spanyol yang membiarkan insiden penghinaan pada Hamilton itu. Ujungnya, Formula 1 akan membatalkan dua balapan di negara itu.
 
Perjuangkan Keberagaman di F1
Hingga saat ini, Hamilton masih menjadi pembalap di Formula 1. Tercatat, tujuh gelar juara dunia telah dikantonginya, menyamai rekor legenda balap, Michael Schumacher.
 
Bahkan, dia berhasil mengalahkan beberapa rekor yang sebelumnya dimiliki Schumacher. Mulai dari yang paling banyak memenangkan balapan, jumlah raihan pole position, dan frekuensi naik podium.
 
Hamilton masih memperjuangkan keberagaman dan kesetaraan, khususnya di olahraga yang digelutinya saat ini.

Dikutip dari The Guardian, Hamilton berharap, ada lebih banyak lagi orang dengan etnis berbeda yang ikut Formula 1. Sebab sampai saat ini, Hamilton masih menjadi satu-satunya pembalap kulit hitam di sana.
 
"Saya berharap ini bisa menjadi pesan pada anak-anak yang menonton, kalau tidak masalah dari mana kita berasal atau latar belakang kita," ungkap Hamilton, usai kemenangannya di GP Turki 2020 lalu.
 
Akhir-akhir ini, Hamilton kembali melontar kritik. Dia menilai Formula 1 sebagai olahraga yang mahal, malah persis seperti klub anak-anak miliarder.
 
Menurutnya, mustahil anak-anak dari kelas pekerja seperti dirinya bisa membalap di Formula 1. Lantaran, untuk bergabung memerlukan uang yang tidak sedikit.
 
Untuk itu, ia mengharapkan perubahan fundamental, sehingga olahraga ini bisa diakses orang-orang berlatar belakang kelas lebih rendah.
 
Akhir tahun 2020, Hamilton mendapatkan gelar ksatria menjadi dari Ratu Elizabeth II atas pencapaiannya di dunia olahraga dan prestasi yang menginspirasi. Penganugerahan itu sekaligus mengubah juluknya, menjadi 'Sir Lewis Hamilton'!

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA