Selamat

Kamis, 05 Agustus 2021

22 Juli 2021|13:34 WIB

Pentingnya Mengajarkan Pendidikan Seks Sejak Dini

Berikan penjelasan dan pemahaman secara sederhana sehingga mudah dipahami

Penulis: Chatelia Noer Cholby,

Editor: Satrio Wicaksono

ImageSex Education Netflix season 3. Sumberfoto: Shutterstock/dok

JAKARTA – Pendidikan seks pada anak kerap terabaikan oleh para orang tua. Padahal, itu menjadi sesuatu yang penting. Bahkan, pendidikan seks dianjurkan untuk diajarkan sejak dini, tentu dengan cara yang mudah diterima oleh anak-anak. 

Menurut Dr. Primatia Yogi Wulandari, M.Si, pakar psikologi Universitas Airlangga (UNAIR), pendidikan seksual untuk anak memang seringkali dianggap sebagai hal yang tabu. Padahal, pendidikan seksual itu penting diajarkan pada anak. Meskipun, tidak ada batasan tertentu untuk mulai mengajarkannya.

"Pendidikan seksual harus dilakukan secara kontinu dan tidak insidental," jelas Primatia, seperti dikutip dari laman resmi Unair, Rabu (21/7). 

Dikatakan, dalam memberikan pendidikan seksual kepada anak, ada beberapa aspek dan strategi yang harus diperhatikan. Pertama, orang tua perlu memberikan penjelasan yang sederhana dan mudah dipahami. 

Orang tua tak perlu menggunakan kata ganti untuk istilah alat kelamin. Kemudian saat memperkenalkan istilah tersebut, disarankan untuk tidak menunjukkan ekspresi malu. 

Hal ini ditujukan agar anak dapat menganggap alat kelamin sama seperti bagian tubuh yang lain. Namun, bagian tersebut tetap diperlakukan lebih khas karena bersifat lebih privat dan intim.

Kedua, tingkat usia anak menjadi pertimbangan tentang detail informasi yang akan diberikan. 

Bagi anak-anak usia dini, sebaiknya informasi yang diberikan tidak mendetail. Ketika menjelaskan proses kehamilan, cukup disampaikan bahwa ayah memiliki sperma yang membuahi sel telur ibu.

Ketiga, metode yang diberikan dapat dikemas sesuai dengan ketertarikan anak. Di sini kreativitas orang tua juga diasah, seperti mengemas pendidikan seksualitas ke dalam bentuk cerita, gambar, dan animasi. Hal ini ditujukan agar anak antusias mendengar pengetahuan tersebut.

Seperti yang pernah dilakukan oleh Sindy Noer (45). Ketika anaknya berumur 9 tahun, Sindy seringkali menggunakan boneka barbie sebagai media penyampaian pendidikan seksualitas. Bagi Sindy, media tersebut lebih mudah dipahami dan disukai oleh anaknya saat itu.

"Untuk memperkenalkan alat kelamin perihal fungsinya, saya sampaikan dengan boneka tersebut karena mempunyai anggota tubuh yang lengkap," ujarnya saat berbincang dengan Validnews, Kamis (22/7).

Primatia menambahkan, informasi perihal pendidikan seksualitas perlu ditanam dan dipahami dalam benak anak tersebut. Kemudian, mereka dapat mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebab itu, orang tua harus bersikap terbuka dan memberikan respons positif terhadap anak saat bertanya seputar pendidikan seksualitas. Hal tersebut akan memperkuat ikatan emosi antara anak dengan orang tua.

"Jadi, anak bisa berdiskusi tanpa rasa malu kepada orang tua. Kemudian, orang tua dapat membahas masalah seksualitas dari berbagai aspek perkembangan, seperti kognitif, fisik, dan sosioemosional," pungkasnya.

 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA