Selamat

Minggu, 16 Mei 2021

GAYA HIDUP

04 Mei 2021|20:59 WIB

Pentingnya Literasi Keuangan Agar Karyawan Tidak Stres

Salah satu alasan menurunnya produktivitas kerja karyawan adalah masalah keuangan pribadi

Penulis: Dwi Herlambang Ade Putra,

Editor: Yanurisa Ananta

ImageIlustrasi dompet di dalam saku. Pixabay/dok

JAKARTA – Satu dari lima karyawan mengalami stres di tempat kerja. Bukan karena beban kerja, melainkan karena masalah keuangan. Penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat ini mengungkapkan, salah satu alasan menurunnya produktivitas kerja karyawan adalah masalah keuangan pribadi. Bermula dari beban pikiran, tak jarang berujung stres.

Stres kemudian menimbulkan masalah kesehatan seperti sakit kepala berkepanjangan, kelelahan, dan depresi. Hal ini membuat izin sakit (sick days) karyawan meningkat dua kali lipat.  Maka itu, menyediakan kesempatan belajar literasi keuangan bagi karyawan dapat meningkatkan produktivitas. Karyawa bisa menjadi lebih berdaya secara finansial.

Lead Financial Trainer QM Financial Ligwina Hananto menjelaskan, kesempatan belajar literasi keuangan bagi karyawan, menjadi salah satu upaya perusahaan untuk meningkatkan produktivitas dan kinerja karyawan untuk menjadikan karyawan yang lebih berdaya secara finansial.

Sejalan dengan Hari Pendidikan Nasional, QM Financial sebagai Your Financial Learning Partner, mengajak korporasi di Indonesia meningkatkan financial intelligence sebagai upaya mewujudkan karyawan yang berdaya secara finansial.

“QM Financial ingin mewujudkan masyarakat (personal, UMKM, lembaga dan korporasi) yang memiliki keterampilan literasi keuangan agar berdaya secara finansial," kata Ligwina dalam webinar bertajuk “Dukungan Literasi Keuangan dari Perusahaan Penting untuk Wujudkan Karyawan Berdaya Finansial”, Selasa (4/5).

Berdasarkan survei korporat yang dilakukan QM Financial untuk karyawan di beberapa perusahaan, sebesar 51% karyawan merasa penghasilannya kurang dan 45,5% karyawan tidak siap pensiun. Sementara dari sisi korporat, 87,5% korporat menyatakan membutuhkan program edukasi keuangan bagi karyawannya, terutama untuk menyadarkan karyawan agar dapat menjalani gaya hidup sesuai penghasilan.

"Untuk itu, QM Financial menyarankan karyawan juga memiliki financial intelligence yaitu pengetahuan dan keterampilan yang cukup untuk mewujudkan finansial yang sehat, sebagai hal yang sama pentingnya seperti Intelligence Quotient, Emotional Quotient dan Spiritual Quotient,” lanjutnya.

Sementara itu, Financial Trainer QM Financial, FDV Wulansari mengatakan financial intelligence bertujuan mewujudkan kondisi finansial yang sehat. Karyawan bisa dikatakan telah sehat secara finansial apabila mereka sudah memiliki dan mengelola penghasilan untuk memenuhi kebutuhan saat ini dan masa depan.

"Juga dapat mengelola utang dengan baik, siap menghadapi kondisi darurat pribadi, mampu pensiun dengan nyaman, dan tangguh menghadapi krisis finansial,” jelasnya.

Menurut Wulansari, ada tiga fase karir karyawan di sebuah perusahaan khususnya dalam mengelola gaji. Pertama, fase recruit atau ketika karyawan bergabung dengan perusahaan. Di fase ini, masalah yang umum terjadi adalah karyawan tidak paham mengenai benefit perusahan.

Karyawan juga mungkin mengalami euforia gaji pertama sehingga lebih boros, dan terlibat utang konsumtif. Maka, karyawan perlu dibekali dengan keterampilan untuk melakukan pengelolaan gaji, mengenal benefit dari perusahaan, dan bijak berutang.

Fase kedua adalah retain atau fase ketika karyawan mulai memasuki level karir yang mapan. Pada fase ini, masalah yang umum terjadi adalah karyawan tidak optimal memanfaatkan kenaikan gaji yang diberikan perusahaan, belum mengenal produk investasi, dan tidak paham pentingnya aspek proteksi.

Maka, karyawan perlu dibekali dengan keterampilan untuk mulai menghitung tujuan finansial, mengenal produk investasi, dan membuat rencana keuangan yang komprehensif. Ketiga, atau fase terakhir adalah retreat, saat karyawan memulai persiapan transisi menuju pensiun.

Di fase ini, sebagian besar karyawan merasa tidak siap pensiun. Maka, karyawan perlu dibekali dengan keterampilan untuk menyiapkan aset aktif dan mengelola keuangan di masa pensiun. Untuk bisa menjalani setiap fase dengan baik, karyawan membutuhkan financial intelligence.

Dudi Arisandi, Chief People Officer tiket.com mengatakan, pihaknya percaya bahwa kesehatan finansial karyawan adalah kunci kesehatan finansial organisasi. Ia merasakan secara langsung adanya peningkatan produktivitas kerja karyawan saat perusahaan lebih memperhatikan kesehatan finansial karyawan dengan menyediakan program edukasi pengelolaan keuangan.

“Kesehatan dan kesejahteraan karyawan menjadi hal terpenting bagi perusahaan terutama sejak pandemi covid-19. Kesehatan fisik dan mental seringkali terjadi karena adanya isu finansial. Untuk itu kami senantiasa berupaya memperhatikan kesehatan karyawan, bukan hanya pada kesehatan fisik dan mental saja tetapi juga,” jelas Dudi.

Menurut Dudi, anak muda zaman sekarang memiliki privilege berupa akses informasi yang jauh lebih luas dibanding generasi sebelumnya. Mereka bisa belajar dari mana saja yang berbasis digital sehingga tidak terbatas pada ruang, jarak, dan waktu. (Dwi Herlambang)

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER