Selamat

Senin, 25 Oktober 2021

14 Oktober 2021|14:14 WIB

Pentingnya Karbon Biru Untuk Atasi Krisis Iklim

Blue carbon mampu menyerap karbon hingga sepuluh kali lipat.

Penulis: Gemma Fitri Purbaya,

Editor: Satrio Wicaksono

ImagePekerja berjalan di treking mangrove kawasan wisata mangrove Pandang Tak Jemu ,Batam ,Kepulauan Riau. Antara foto/dok

JAKARTA – Krisis iklim yang terjadi sekarang ini cukup mengkhawatirkan. Laporan dari panel antarpemerintah tentang perubahan iklim (IPCC) PBB pun menunjukkan, pemanasan global bisa melampaui 1,5 derajat celsius dalam kurun waktu dua dekade. Tidak hanya lingkungan yang terkena dampaknya, tetapi juga keberlangsungan hidup manusia.

Salah satu cara untuk membantu mengatasi perubahan iklim adalah dengan blue carbon atau karbon biru. Blue carbon adalah karbon yang terserap atau tersimpan dalam ekosistem pesisir seperti hutan bakau, padang lamun, dan rawa pasang surut. 

Blue carbon dapat menangkap karbon yang dihasilkan oleh aktivitas manusia, seperti karbon dioksida yang menjadi salah satu penyebab terjadinya perubahan iklim.

Sayangnya, penerapan blue carbon di Indonesia masih belum maksimal. Padahal, Pusat Penelitian Kelautan Kementerian Kelautan menunjukkan potensi blue carbon di Indonesia sangatlah besar, yakni mencapai 3,4 Pg C.

"Kemampuan ekosistem (pesisir) untuk menghilangkan karbon dioksida dari atmosfer membuatnya sebagai penyerap karbon yang signifikan, dan diakui perannya dalam mengurangi perubahan iklim. Kapasitas menyerap karbon akan hilang bila ekosistemnya terdegradasi atau rusak oleh aktivitas manusia," kata Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darussalam, Andreas Unterstaller dalam keterangannya.

Hal serupa juga dikatakan oleh Manajer Operasi dan Sains Carbon Ethics, Indri Addini. Ia menekankan, dibandingkan udara dan daratan, laut merupakan muara penyimpanan karbon yang baik. Kemampuannya dalam menyerap karbon mencapai 10 kali lipat lebih banyak dibandingkan pohon terrestrial, dan mangrove juga menjadi lebih efektif dalam memperlambat krisis iklim.

Ekosistem mangrove dan lamun yang sehat juga mampu mencegah terjadinya sedimentasi, mengurangi pengasaman laut, sekaligus membantu mencegah terjadinya pemutihan karang.

"Ekosistem blue carbon juga turut melindungi masyarakat pesisir, melindungi dari badai yang merusak, angin topan, tsunami, gelombang, dan banjir. Keberadaannya menyediakan habitat penting bagi burung, ikan, udang, kepiting, dan banyak biota lainnya, termasuk biota terestrial pada hutan mangrove," papar Indri.

Saat ini diketahui ekosistem mangrove di Indonesia memiliki wilayah tutupan mencapai 3,3 juta Ha dan dihuni oleh 43 spesies. Cakupan ini sama seperti dengan 22,6% mangrove global dan menempatkan Indonesia menjadi mangrove terbesar di dunia. 

Sementara untuk padang lamun mencakup 3,1 juta Ha, terbesar kedua setelah Australia. Di dalamnya terdapat 13 spesies yang telah diidentifikasi.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER