Selamat

Senin, 25 Oktober 2021

15 September 2021|21:00 WIB

Pendar Johani Fauzi Membangun Desa

Dari cerita inspiratif di koran bekas gorengan, Johani Fauzi terpantik menuntaskan jenjang pendidikan demi membangun kampung halamannya

Penulis: Dwi Herlambang,

Editor: Satrio Wicaksono

ImageFounder Graha Kreatif Johani Fauzi. Sumber foto: Ist/dok

JAKARTA – Suatu pagi pada tahun 1998. Matahari baru saja melukis cakrawala, ketika Si Abah membawa sebungkus gorengan untuk suguhan di rumah. Seluruh anggota keluarga lantas lahap mengudap, tak terkecuali anak lelakinya, Johani Fauzi. Hanya butuh beberapa menit, makanan itu tandas. Yang tersisa adalah lembaran koran bekas wadah dengan tulisan memudar akibat lumuran minyak goreng.

Di kertas itu terpampang artikel yang mengulas sosok William Henry ‘Bill’ Gates. Seorang triliuner yang dikenal sebagai pendiri Microsoft, perusahaan perangkat lunak asal Washington, Amerika Serikat.

Sebab penasaran, Johani Fauzi tergerak membaca, meski nama Bill Gates masih asing baginya. Apalagi, untuk orang-orang di sekitarnya, yang hidup di Desa Pasir Buyut, Jawilan, Serang, Banten. 

Akan tetapi, penggalan cerita hidup Bill Gates itu mampu memesona Johani. Bahkan, sampai mengubah pandangan hidupnya. Bagaimana seseorang bisa sekaya itu? Demikian desis batinnya.

Sejak saat itu, setiap bungkus gorengan yang dibeli Si Abah, ia kumpulkan untuk dibaca. 

Sampai pada satu ketika, kala duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama atau SMP, Johani membaca biografi bos Trans Corp, Chairul Tanjung ‘Si Anak Singkong’, yang juga menginspirasinya.

"Kisah-kisah referensi orang sukses itu saya kumpulin dan saya baca melalui potongan koran," ujar Johani saat menceritakan masa kecilnya kepada Validnews, Kamis 9 September lalu.

Terinspirasi Sosok-sosok Kaya
Cerita perjuangan tokoh-tokoh itu, membuat Johani sadar kalau tidak semua orang kaya terlahir dari orang tua berlimpah harta. Justru, tak sedikit yang tumbuh dalam keluarga tidak mampu. Kerja keras lah yang kemudian membuat mereka sukses.

Johani sendiri terlahir dari keluarga berekonomi terbatas. Abahnya seorang kuli panggul di pasar. Sementara itu, Emak adalah seorang buruh tani di lahan juragan kampung. Sejak kecil, telinganya sudah terbiasa mendengar perdebatan kedua orang tuanya yang bingung esok harus makan apa.

Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari bagi sebelas anggota keluarga saja, orang tuanya sudah kesulitan. Apalagi bicara soal pendidikan?

Empat kakak Johani adalah contoh nyata. Mereka mesti rela berhenti sampai tingkat SMP saja. Setelahnya, harus bekerja serabutan demi membantu perekonomian keluarga.

Namun, beda dengan Johani. Dia enggan terganjal kemiskinan. Alam bawah sadarnya sudah terpatri untuk mengikuti jejak sosok-sosok inspiratif yang pernah dibaca. Dia percaya, pendidikan akan menjadi pembuka jalan menuju kemakmuran.

Anggapannya waktu itu, orang sukses sudah pasti kaya, dan ia bertekad mengubah nasib. Jika hanya sebatas lulusan SMP, cita-cita akan sulit digapai.

Maka, sejak kelas 2 SMP, Johani tak ingin membebankan biaya sekolah kepada orang tua. Dia pun bekerja menjadi kondektur bus. Upahnya dikumpulkan sebagai bekal mendaftar SMK. Benar saja, dengan uang Rp1,2 juta, dia melanjutkan pendidikan ke jurusan Teknik Komputer Jaringan di Rangkasbitung.

Keberhasilan itu tak lantas berbuntut kemulusan. Kegigihan Johani masih harus diuji. Dia mesti berjalan kaki selama satu jam, disambung dengan naik angkutan satu jam perjalanan. Sekali perjalanan itu memakan waktu sekitar dua jam.

Hari-hari berikutnya, Johani kembali dihadapkan dengan kesulitan pembayaran uang sekolah. Sebab tak memiliki tabungan, dan mustahil pula meminta orang tua, diputuskannya ikut seleksi magang di sebuah perusahaan di Jakarta. Dia diterima, dengan upah Rp15 ribu per hari.

"Nah, saya kumpulin (upah) itu jadi saya bisa bayar sekolah SMK sendiri," ujarnya.

Peluang magang itu dia manfaatkan betul-betul. Banyak ilmu yang diserap. Apalagi, di sana juga tersedia akses internet 24 jam, yang menjadikan Johani makin betah.

"Saya jarang tidur pada saat itu. Ketika sudah tidak bekerja, saya manfaatkan untuk belajar apapun karena internet 24 jam. Saya juga menginap di kantor," tambahnya.

Setali tiga uang, program magang yang semula hanya tiga bulan, diperpanjang jadi sembilan bulan. Namun, itu menjadi bumerang bagi Johani. Saat kenaikan kelas, orang tuanya dipanggil. Dia terancam dikeluarkan karena bolos dalam waktu yang panjang.

Abah dan Emak pun menjelaskan, jika Johani tidak bekerja, maka uang sekolah tak mungkin terbayar.

Di sisi lain, perusahaan tempat Johani bekerja, malah menahannya untuk pulang ke kampung, dengan iming-iming akan dibiayai kuliah.

Johani menghadapi pilihan sulit. Kalau memilih pulang dan melanjutkan sekolah, impian untuk bisa kuliah akan pupus. Akhirnya, ia mengambil tawaran perusahaan, dengan risiko tidak lulus dari sekolah.

Di luar dugaan, pihak sekolah melunak sikap. Johani diberi kesempatan untuk bersekolah di hari Sabtu dan Minggu.

Setelah lulus, Johani dikuliahkan oleh perusahaan, di Universitas Indraprasta PGRI, mengambil jurusan Teknik Informatika. Ia selesai kuliah pada 2015, sekaligus menjadi sarjana pertama di kampungnya. 

Johani telah membuktikan, bahwa keterbatasan bukanlah halangan untuk sekolah lebih tinggi.

Berbagi Ilmu
Usai wisuda, Johani membuka bisnis kecil bidang pemrograman komputer di Jakarta. Satu usaha yang sudah dilakukan sejak masih berkuliah.

Setapak demi setapak, Johani menaiki tangga kesuksesan. Program-program buatannya diminati beragam klien. Pesanan datang sambung-menyambung. Berangsur-angsur, perusahan berkembang, sekaligus meningkatkan kesejahteraan Johani.

Kini, dia bisa menyantap berbagai hidangan lezat, yang tidak pernah disentuhnya saat kecil. Dia tidak lagi bingung hendak makan apa esok hari.

Akan tetapi, kesuksesan itu tak ingin dinikmatinya sendirian. Dia berpikir untuk berbuat sesuatu bagi kampung halaman, utamanya memperbesar akses pendidikan bagi warga.  

Tahun 2019, Johani membangun Graha Kreatif. Tempat itu dijadikannya wadah anak-anak kampung mengais ilmu pengetahuan, sekaligus menajamkan keterampilan. 

Pendirian lembaga itu sempat dipertanyakan oleh orang tua, termasuk istri Johani. Mereka merasa, tingkat perekonomian keluarga Johani belum benar-benar matang. Apalagi, niat Johani adalah memberikan pelatihan gratis.

Saat awal, Graha Kreatif memberi pelatihan ilmu komputer. Bidang tersebut dipilih karena dianggap memiliki banyak peluang di dunia kerja. 

"Awalnya itu buka Graha Kreatif rame banget. Ilmu komputer pula kan ada 180 peserta daftar," ujarnya.

Sayang, animo tinggi anak-anak Desa Pasir Buyut tidak bertahan lama. Meski tidak dibebani biaya, banyak dari mereka yang enggan melanjutkan pelatihan.

Johani lantas mengevaluasi langkahnya. Dia tersadar kalau tidak semua anak suka dengan segala yang berbau komputer. Selain ilmu komputer juga sulit dipahami, butuh passion pula untuk berkecimpung mendalaminya.

Akhirnya, Graha Kreatif melakukan improvisasi. Materi pelatihan diperluas pada tema-tema kewirausahaan, terutama pada bidang peternakan dan pertanian. 

Tidak Gratis Lagi
Belajar dari masa lalu, siasat baru pun diberlakukan dalam pengelolaan pelatihan. Kepesertaan tak lagi cuma-cuma. Johani menetapkan pembayaran. Namun, bukan dengan uang, melainkan dengan sampah plastik.

Setiap peserta harus memberi setengah kilogram sampah plastik setiap minggu. Setoran itu kemudian diolah pihak ketiga, lalu dijual.

Menurut Johani, itu bagian dari seleksi sekaligus tolok ukur keseriusan anak-anak untuk mendapat ilmu.

"Kalau tabungan sampah plastiknya di bawah Rp200 ribu itu bisa dibelanjakan di Joinmart, tetapi kalau tabungan sampah plastiknya di atas Rp200 ribu bisa diuangkan dan digunakan untuk kebutuhan lainnya,” imbuhnya.

Komitmen Johani untuk meningkatkan taraf pendidikan anak-anak kampung, dilanjutkan dengan pemberian beasiswa perkuliahan. Sudah ada 26 anak yang sudah mendapatkannya.

Johani mengaku, uang beasiswa itu diambil dari tabungan selama membuka usaha. Ada pula yang bersumber dari tawaran beasiswa sejumlah universitas.

"Dan mereka bisa milih kuliah di mana saja," tandasnya.

Sekarang, Johani tengah membuat terobosan melalui program ekonomi bangkit dari desa, melalui program “Kampung Puyuh”. Dia berupaya memberdayakan warna, dengan membangun satu kandang berisi 200 ekor puyuh. Dari hasil riset yang dilakukannya, masyarakat bisa mendapatkan keuntungan sebesar Rp20 juta dari penjualan burung-burung puyuh itu.  

"Harapannya, orang-orang dan anak-anak itu bermunculan yang memang baru berwirausaha, sehingga mereka bisa saling menolong satu sama lain dan itu kan mereka juga modalnya hanya memberi kami sampah plastik,” ujarnya,

Di ranah lain, Johani juga turut membantu pengembangan hasil usaha masyarakat, sebagai kurator produk. Antara lain, keripik, mainan anak, serta kerajinan kayu.

Ke depan, Graha Kreatif dijadikan tempat persinggahan produk pasca-kurasi dan rebranding, sebelum didistribusikan ke pihak-pihak ketiga.

Atas dedikasi Johani, sekarang para orang tua di Desa Pasir Buyut memiliki kesadaran besar akan peran penting pendidikan bagi masa depan anak-anak mereka.

Siapa sangka, anak kecil yang pada tahun 1998 itu hanya belajar membaca dari koran sisa bungkus gorengan, kemudian meraih kesuksesan di ibu kota, seraya membangun desanya.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA