Selamat

Minggu, 25 Juli 2021

GAYA HIDUP

22 Juli 2021|08:38 WIB

Pemanis Buatan Bisa Sebabkan Bakteri Baik Di Usus Jadi Patogen

Tidak dimungkiri kalau hampir semua minuman kemasan mengandung pemanis buatan

Penulis: Gemma Fitri Purbaya,

Editor: Satrio Wicaksono

ImageIlustrasi minuman kemasan. Pixabay/dok

JAKARTA – Sebuah penelitian terbaru menemukan bahwa pemanis buatan bisa menyebabkan bakteri baik di usus menjadi penyakit, dan berpotensi menjadi masalah kesehatan yang serius. 

Penelitian tersebut diterbitkan dalam International Journal of Molecular Sciences pada Mei 2021. Para peneliti ingin mengetahui dampak pemanis buatan seperti saccharin, sucralose, dan aspartam pada dua jenis bakteri di usus, yaitu Escherichia coli (E. coli) dan Enterococcus faecalis (E. faecalis). Keduanya merupakan bakteri yang ada di usus dan umumnya tidak berbahaya.

 Dari penelitian tersebut dikatakan kalau pemanis buatan bisa membuat bakteri menjadi patogen atau penyebab terjadinya penyakit. Mereka mengungkapkan kalau bakteri patogen ini akan menyerang dan membunuh sel Caco-2, yang diketahui adalah sel epitel yang berada di dinding usus. 

Bakteri seperti E. faecalis misalnya, dapat masuk ke aliran darah melalui dinding usus dan berkumpul di kelenjar getah bening, hati, dan limfa dan menyebabkan beberapa infeksi termasuk septicaemia atau keracunan darah.

Peneliti juga menemukan, meminum dua kaleng minuman ringan yang mengandung tiga pemanis buatan itu secara signifikan bisa meningkatkan bakteri E. coli dan E. faecalis di usus dan membuatnya menjadi berbahaya. 

Meski begitu, hanya saccharin saja yang tidak memberikan efek pada E. coli. Walaupun dari penelitian itu, saccharin menunjukkan adanya pertumbuhan bakteri E. faecalis di usus.

"Penelitian kami menunjukkan bahwa beberapa pemanis buatan yang umum ditemukan pada makanan dan minum bisa membuat bakteri yang normal dan sehat menjadi patogen. Perubahan ini juga bisa mengubah struktur biofilm mereka dan meningkatkan serangan bakteri pada saluran cerna manusia," tutur salah satu peneliti dari Anglia Ruskin University Inggris Dr. Havovi Chichger dikutip dari Scitech Daily.

Tidak dimungkiri, hampir semua pemanis buatan ada di minuman ringan saat ini. Selain itu, pemanis buatan juga tidak hanya berdampak pada kesehatan saluran cerna. 

Mengonsumsi pemanis yang berlebihan juga bisa meningkatkan risiko terjadinya diabetes dan obesitas. Sementara, kedua penyakit tersebut merupakan faktor risiko penyakit lainnya, seperti penyakit kardiovaskular dan kanker.

Data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 pun menunjukkan, penduduk Indonesia yang mengonsumsi makanan atau minuman bergula lebih dari satu kali per hari ada sekitar 53,1%. Angka tersebut mengalami peningkatan menjadi 61,27%, menurut Riskesdas 2018. Untuk itu, batasi konsumsi gula seperti yang dianjurkan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI.

Kemenkes RI menyarankan agar maksimal mengonsumsi gula sekitar 50 gram atau sekitar lima sampai sembilan sendok teh per harinya, agar bisa terhindar dari masalah kesehatan di masa mendatang. 

International Diabetes Federation pun memperkirakan, di 2035 jumlah penderita diabetes di dunia mencapai 592 juta orang. Angka tersebut juga belum termasuk pasien yang belum terdiagnosis sehingga bisa berkembang secara progresif tanpa disadari dan pencegahan.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER