Selamat

Senin, 17 Mei 2021

GAYA HIDUP

03 Mei 2021|12:45 WIB

Netizen Asia Tenggara Mulai Sadar Jaga Informasi Pribadi 

Kendati kesadaran terhadap risiko online sudah terbangun, tetapi dalam mewujudkannya, masih perlu beberapa perbaikan

Editor: Faisal Rachman

ImageIlustrasi Perlindungan data pribadi. Shutterstock/dok

JAKARTA – Apakah Anda merasa takut setiap kali memasukkan informasi kartu kredit atau detail perbankan di situs belanja atau aplikasi pembayaran? Anda tidak sendiri, setidaknya hal ini bisa dikonfirmasi menurut survei dari perusahaan keamanan siber global dan privasi digital Kaspersky.

Laporan berjudul “Making Sense of Our Place in the Digital Reputation Economy” tersebut mengungkapkan, beberapa jenis informasi pribadi yang dianggap kritikal bagi para pengguna media sosial di Asia Tenggara, yang tidak ingin mereka bagikan atau simpan secara online.

Informasi keuangan, seperti detail kartu kredit atau debit, menempati urutan teratas. Mayoritas (76%) dari 861 responden di wilayah tersebut mengungkapkan, mereka ingin menjaga data keuangan dengan baik dari internet.

Sudut pandang ini tertinggi diutarakan oleh generasi Baby Boomers (85%), diikuti oleh Gen X (81%), dan milenial (75%). Gen Z, generasi termuda, mencatat persentase terendah dengan hanya 68% memilih untuk tidak menyimpan kredensial keuangan mereka secara online.

Hal ini tidak mengherankan karena beberapa penelitian mengutip, populasi muda Asia Tenggara adalah faktor kunci dalam mendorong pembayaran elektronik. Selain tentunya dilihat dari persentase signifikan penduduknya masih belum atau tidak memiliki rekening bank. Kemudahaan penggunaan seluler yang tinggi dan dorongan pemerintah untuk mengadopsi pembayaran digital yang lebih besar.

Di platform jejaring sosial, masyarakat Asia Tenggara juga memilih untuk tidak membagikan informasi identitas pribadi mereka di media sosial (69%). Lalu, informasi tentang keluarga dekat (64%), keberadaan mereka (geotag) (54%), dan pekerjaan (47%).

Selain itu, responden dari Asia Tenggara hampir dengan suara bulat mengungkapkan khawatir, jika data berharga ini akan dilihat atau dicuri oleh para pelaku kejahatan siber (73%) dan orang tidak dikenal secara online (61%).

“Krisis kesehatan yang terjadi telah mempercepat upaya non-tunai di Asia Tenggara dengan signifikan, paralel dengan perubahan offline ke online, dari sebagian besar aktivitas di kawasan ini sejak tahun lalu,” tutur Chris Connell, Managing Director untuk Asia Pasifik di Kaspersky.

Fenomena ini, lanjutnya, patut disambut dengan baik melihat para pengguna kini mulai mempertimbangkan data mana yang dapat mereka bagikan dan yang tidak secara online. Sebagian besar masyarakat kini juga menyadari, para pelaku kejahatan siber dan orang asing seharusnya tidak pernah boleh mendapatkan informasi penting tersebut. 

“Namun bagaimanapun, kesadaran online juga harus dapat dibuktikan dengan Tindakan,” serunya. 

Hasil survei juga menyatakan, sebagian besar (71%) responden di Asia Tenggara menggunakan kata sandi untuk melindungi laptop atau ponsel mereka. Kemudian, hanya 5 dari 10 (54%) yang memeriksa dan mengubah pengaturan privasi perangkat, aplikasi, atau layanan yang digunakan. Selanjutnya, hanya 4 dari 10 (47%) menghindari penggunaan perangkat lunak dan aplikasi ilegal atau bajakan.

Survei yang sama yang dilakukan pada November 2020 lalu, juga mengungkap, hanya setengah (53%) responden dari wilayah tersebut telah memasang perangkat lunak keamanan internet di perangkat mereka.

“Sebagai wilayah dengan pertumbuhan tercepat di Asia Pasifik dalam hal adopsi internet, kami melihat bahwa ini menjadi awal dari perjalanan digital Asia Tenggara,” imbuhnya.

Dapat dimaklumi, lanjutnya, beberapa orang mungkin masih merasa takut dan tidak yakin ketika mereka menggunakan layanan seperti pembayaran digital karena relatif baru. Namun, tentu segala jenis perubahan ada risikonya.

“Inilah mengapa sangat penting untuk mewujudkan kesadaran dalam bentuk tindakan,” tambah Connell.

Pakar Kaspersky menyarankan langkah-langkah berikut untuk menjaga keamanan data keuangan dan informasi pribadi saat online;

Berhati-Hati Di Media Sosial
Memberikan terlalu banyak informasi di media sosial, dapat memudahkan pelaku kejahatan siber mengumpulkan informasi tentang Anda. Untuk memaksimalkan privasi online Anda terjaga dengan baik, ada baiknya untuk:

  1. Hindari mempublikasikan informasi seperti rencana perjalanan yang akan datang, karena dapat mengingatkan orang-orang bahwa Anda akan jauh dari rumah selama ini.
  2. Hindari mengungkapkan terlalu banyak informasi seperti tanggal lahir atau tempat kerja Anda di bagian Tentang Kami atau bio di profil media sosial. Hindari mengunggah alamat rumah atau nomor telepon Anda di forum publik mana pun.
  3. Periksa apakah platform media sosial yang Anda gunakan menambahkan data lokasi pada unggahan Anda dan jika ya, matikan pengaturan ini. Pada dasarnya membagikan lokasi secara publik merupakan hal yang tidak perlu.
  4. Hindari mengikuti kuis trivia yang sesekali beredar di media sosial. Seringkali ini dapat menanyakan pertanyaan seperti hewan peliharaan favorit Anda atau ke mana Anda bersekolah. Jenis pertanyaan ini sering kali digunakan sebagai pertanyaan keamanan, jadi memberikan jawaban ini kepada publik dapat mempermudah peretas untuk membobol akun online Anda.
  5. Berhati-hatilah dengan hadiah, giveaway dan kontes. Meskipun banyak yang sah namun beberapa adalah penipuan terselubung. Dengan membagikannya di media sosial, Anda dapat menyebarkan malware tanpa disadari atau menjebak orang memberikan data sensitif mereka.

Amankan Perangkat Seluler     

  1. Anda Pastikan untuk memiliki kode sandi yang tidak mudah ditebak untuk mengakses ponsel Anda. Kemudian selalu memastikan untuk mengunduh aplikasi dan game hanya dari toko aplikasi yang sah.
  2. Jangan melakukan jailbreak atau root pada ponsel Anda - itu dapat memberi peretas cara untuk menimpa pengaturan Anda dan menginstal perangkat lunak berbahaya mereka sendiri.
  3. Pertimbangkan mengunduh aplikasi yang memungkinkan untuk menghapus semua data pada ponsel Anda dari jarak jauh sehingga jika ponsel dicuri, Anda dapat menghapus informasi pribadi dengan mudah.
  4. Tetap up to date dengan pembaruan perangkat lunak apa pun dan berhati-hatilah mengklik tautan online, dengan cara yang sama seperti yang Anda lakukan di laptop atau desktop.
  5. Solusi gabungan produk keamanan dan langkah-langkah praktis dapat meminimalkan ancaman dan menjaga data Anda tetap aman saat online.
  6. Solusi keamanan yang andal untuk perlindungan komprehensif dari berbagai ancaman – seperti Kaspersky Security Cloud dan Kaspersky Internet Security, ditambah dengan penggunaan Kaspersky Password Manager untuk menyimpan data digital berharga Anda dengan aman - dapat membantu memecahkan masalah penyimpanan informasi pribadi berada dalam kendali. (Faisal Rachman) 
Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER