Selamat

Minggu, 20 Juni 2021

GAYA HIDUP

06 Mei 2021|20:33 WIB

Naiknya Perbawa Wisata Alam Sekitaran Jakarta

Tren berwisata mengalami perubahan. Para pebisnis di sektor kini menyasar peluang di tujuan wisata luar ruang.

Penulis: Gemma Fitri Purbaya, Andesta Herli Wijaya,

Editor: Yanurisa Ananta

ImagePengunjung berjalan menyeberangi jembatan gantung Situ Gunung di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). ANTARAFOTO/Nurul Ramadhan

JAKARTA – Sebagai manusia modern ibu kota, tidak lengkap rasanya bila dalam setahun tidak traveling ke luar kota atau ke luar negeri. Ada persepsi dominan warga kota, bahwa berlibur seolah menjadi ‘bahan bakar’ untuk lebih produktif setelahnya. 

Namun kondisi pandemi memaksa semua orang tetap menahan diri berwisata. Hari Raya Idulfitri yang biasanya diisi kegiatan pulang ke kampung halaman atau mudik, tahun ini tidak ada. Larangan sama juga diberlakukan pada tahun lalu. Hal yang berbeda kali ini, lokasi wisata justru dibuka. 

Dibukanya tempat wisata, membuat manusia modern ibu kota mencari peluang untuk tetap merasa ‘segar’. Destinasi bernuansa alam menjadi tren saat ini. Selain karena menawarkan kesegaran alami, wisata alam memungkinkan untuk menjaga jarak (social distancing).

Tidak perlu jauh-jauh hingga Lombok atau Bali. Ada kok destinasi wisata bernuansa alam di dalam kota atau sekitar Jakarta (Jabodetabek). Rizka (31) dan keluarga belakangan ini sering menyambangi tempat wisata seperti ini. Warga Jakarta Selatan ini memilih memenangkan diri dengan berwisata ke area perkebunan dan peternakan di Kawasan Bogor, Jawa Barat.

Rizka sadar betul bahwa di tengah pandemi seperti ini berwisata memiliki risiko tertular virus corona. Namun dilemanya, ia dan keluarga pun butuh refreshing setelah menjalani masa sulit pandemi setahun lebih.

Kuntum Farmfield menjadi pilihan Rizka dan keluarga. Alasannya, tempat tersebut jauh dari keramaian kota Jakarta dan memiliki pemandangan pegunungan dan persawahan yang segar. Ada pula area peternakan sehingga anak-anak dapat belajar dan berinteraksi langsung dengan hewan-hewan yang biasanya hanya dilihat dari buku bacaan atau video unggahan di sosial media.

“Jadi anak-anak bisa familiarlah dengan hewan, tidak takut, bisa belajar mengasihi hewan juga dengan memberi makan hewan. Selain itu, biar anak-anak senang juga sambil kami memiliki quality time bersama keluarga,” cerita Rizka pada Validnews, Rabu (5/5).

Ketimbang mengunjungi destinasi wisata terkenal atau mainstream, Rizka dan keluarga lebih memilih wisata yang jarang disambangi orang-orang. Beberapa tempat sejenis; Farmhouse, Dago Highland, dan lokasi outdoor lainnya, juga disambanginya.

Rizka mengakui, anak-anaknya belum tentu suka mengunjungi wisata mainstream. Terlebih, mereka masih dalam masa pertumbuhan dan memerlukan rangsangan kognitif dan motorik. Dari hal ini, dia menilai wisata pelesiran lebih cocok dibandingkan ke wisata yang mainstream.

Serupa dengan Rizka, Elise (27) juga memilih destinasi wisata yang tidak begitu populer selama masa pandemi. Untuk beristirahat dari rutinitas kantor yang cukup padat, Elise memutuskan pergi berwisata trekking di daerah Sentul. Hanya berjarak 40 menit dari Jakarta, Elise sudah bisa mendapat kesegaran alam dan pengalaman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Di sana, Elise menemukan mata air yang bisa langsung diminum, padang rumput, dan bertemu kawanan lutung.

“Trekkingnya ke Desa Cisadon, lalu ke Curug. Ada di wilayah Sentul, Kabupaten Bogor. Perjalanannya sekitar 16 kilometer dari pukul 7.30 WIB hingga 16.30 WIB. Banyak yang saya temui, ada mata air yang bisa langsung diminum, padang rumput yang mirip Teletubbies, dan bahkan saya bertemu kawanan lutung,” cerita Elise, Rabu (5/5).

Jenuh Selama Pandemi
Selama masa pandemi, tren berwisata mengalami perubahan. Para pelaku bisnis pariwisata melihat peluang wisata luar ruang. Lokasi wisata outdoor yang sudah ada sebelumnya juga semakin naik daun, mulai dari trekking, glamping, atau pantai-pantai publik. 

Pengamat Pariwisata Chusmeru menilai kemunculan destinasi wisata baru sebagai hal positif. Dengan begitu, wisatawan memiliki lebih banyak pilihan dalam berwisata. Wisatawan tidak akan merasa jenuh dengan objek wisata yang monoton atau itu-itu saja. Objek wisata baru memberikan kesegaran baru untuk wisatawan.

“Faktor kejenuhan pada objek wisata yang pernah dikunjungi dan daya tarik pada objek wisata yang baru menjadi faktor pendorong masyarakat untuk lebih memilih berkunjung ke objek wisata yang baru ini,” kata Chusmeru pada Validnews, Rabu (5/5).

Meski begitu, pilihan terhadap objek wisata masih sangat dipengaruhi karakteristik dari wisatawan. Wisatawan kelompok keluarga biasanya memilih wisata yang bisa dinikmati semua anggota keluarga sehingga dapat bersenang-senang bersama. Sementara yang muda umurnya mencari tantangan.

“Wisatawan keluarga dan dewasa, mereka lebih memilih objek wisata seperti taman rekreasi maupun pantai. Lain lagi dengan wisatawan individual dan usia muda yang lebih tertarik pada objek wisata yang bersifat alami, unik, dan penuh tantangan. Semisal menyelam, pegunungan, air terjun, maupun wisata olahraga,” jelasnya.

Di sisi lain, kondisi pandemi sudah pasti menjadi tantangan bagi pengelola tempat wisata. Apalagi berdasarkan laporan, kasus baru covid-19 per tanggal 5 Mei 2021 mencapai 5.285 kasus dan total pasien terkonfirmasi saat ini mencapai 1.691.658 orang. 

Menilik kondisi ini, Chusmeru menganjurkan pengelola memastikan lokasi wisatanya sehat dan aman bagi wisatawan yang berkunjung. Paling tidak pengelola harus sudah mengantongi sertifikasi CHSE, yakni jaminan pada wisatawan terhadap pelaksanaan Kebersihan, Kesehatan, Keselamatan, dan Kelestarian Lingkungan yang dikeluarkan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).

“Pengelola juga harus memiliki gugus tugas yang selalu memantau pergerakan wisatawan di objek wisata, khususnya yang berkaitan dengan kepatuhan wisatawan menjalankan protokol kesehatan. Karena kebiasaan paling sulit yang diterapkan ketika berada di objek wisata adalah berkerumun dan menggunakan masker,” paparnya.

Pemerintah melarang warga Jakarta melakukan mudik di Lebaran tahun ini. Sebagian warga Jakarta yang biasa mudik ke kampung halaman mesti sabar dulu. Namun, jangan sedih. Ada beberapa pilihan wisata alternatif yang bisa dikunjungi di sekitar Jakarta.

Wisata Alternatif
Salah satu tempat wisata, Kampung Main Cipulir mengaku sudah menerapkan protokol kesehatan guna mencegah penularan. Pemilik Kampung Main Cipulir, Ir. Safitri Siswono mengatakan, pihaknya membatasi pengunjung hingga 50% agar wisatawan bisa menjaga jarak.

“Pas kami buka kembali, sudah harus menerapkan protokol kesehatan. Mulai dari pembatasan jumlah pengunjung hingga 50% hingga mengantisipasi pengunjung yang datang tetap mematuhi protokol kesehatan yang berlaku,” kata Safitri pada Validnews, Selasa (4/5).

Kampung Main Cipulir sendiri menawarkan banyak aktivitas yang berbeda dari tempat wisata lainnya. Mulai dari taman kota, outbound, kolam renang, area bermain mini, saung, dan beragam fasilitas lainnya. Hal unik lainnya, Kampung Main Cipulir yang sangat hijau dan segar ini terletak di kota Jakarta. Sayangnya, masih banyak orang yang belum familiar dengan tempat ini. Padahal, Kampung Main Cipulir bisa menjadi oase di tengah kepadatan ibukota. 

Begitu juga dengan Svargabumi, destinasi wisata di kawasan Borobudur, Yogyakarta yang baru lahir pada masa pandemi tepatnya bulan Agustus 2020.

Manager marketing Svargabumi Aryo Haryono mengaku dirinya sempat kesulitan menjalani bisnis di tengah pandemi. Beruntung mereka dapat bertahan meskipun jumlah pengunjung yang datang sangat sedikit dan semakin berkurang setiap harinya.

“Memang terasa sulit sekali dengan adanya kebijakan dari pemerintah, dengan diberlakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), kami para pelaku wisata memang terkena imbasnya. Dari jumlah pengunjung yang semakin berkurang juga sangat terasa sekali,” cerita Aryo.

Untungnya, wisatawan muda perkotaan saat ini lebih menyukai wisata alam. Senada dengan Chusmeru, Aryo berpendapat wisatawan mulai kembali berwisata karena sudah lelah dengan rutinitas mereka di perkotaan. 

Svargabumi adalah wisata swafoto di alam persawahan dengan pemandangan stupa Candi Borobudur dan Perbukitan Menoreh. Dengan hamparan sawah yang hijau, Svargabumi memberikan suasana berbeda yang jarang ditemukan orang yang tinggal di perkotaan besar seperti Jakarta. 

Semua pengelola wisata ini, mengaku berupaya terus berinovasi dengan memberikan pilihan wisata alam yang pas untuk para wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Mereka berharap pariwisata Indonesia dapat pulih kembali dan menyesuaikan diri, setelah mengalami keterpurukan tahun lalu akibat pandemi. (Gemma Fitri Purbaya/ Andesta Herli)

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA