Selamat

Selasa, 21 September 2021

18 Agustus 2021|21:00 WIB

Merawat Ikon Jakarta

Berbekal tekad dan kesederhanaan, dia mengakrabkan aneka karya budaya Betawi kepada khalayak, hingga mendunia

Penulis: Chatelia Noer Cholby,

Editor: Satrio Wicaksono

ImageBang Jaxc, Pendiri Sanggar Argawana. Sumber foto: Ist/dok

JAKARTA – Di antara deret hunian serba modern Jagakarsa, Jakarta Selatan, ada satu rumah ala Betawi yang membuat kontras pemandangan. Bukan hanya arsitektur, bentuk perabotnya juga bergaya sama.

Sepasang Ondel-ondel berukuran besar, megah menjadi penghias teras. Selain itu, ada beberapa lagi yang berukuran lebih kecil, tertata di sudut-sudut ruangan.

Adalah Jazuri, si pemilik rumah. Segala pernik maupun tata letak di kediamannya, jelas menjadi penanda kalau Bang Jaxc, demikian dia lazim disapa, sangat mencintai budaya Betawi.

"Dari dahulu hingga sekarang konsep rumah saya memang enggak pernah berubah, selalu Betawi. Meski dianggap kuno, tapi rumah saya sangat identik,” ujarnya mengawali perbincangan dengan Validnews, di akhir pekan pertengahan Agustus 2021.

Walau budaya lain gencar menggempur, dia tetap teguh mempertahankan identitasnya sebagai anak Betawi asli. Paling tidak, bapak dua anak itu bisa menjaga warisan leluhurnya.

Lahir di sebuah perkampungan Betawi, membuat Bang Jaxc sangat lekat dengan budaya dan tradisinya. Mulai dari pencak silat, ondel-ondel, palang pintu, hingga gambang kromong.

Kecintaannya kian subur saat memasuki masa remaja. Kala itu, dia dan teman-teman sekampungnya kerap mengisi acara seni di berbagai hajatan maupun pameran budaya Betawi. Tak hanya itu, Bang Jaxc, juga sering ikut mengarak ondel-ondel.

Semua kegiatan itu berjalan wajar, hingga suatu kali, kekhawatiran datang. Dia cemas, budaya Betawi bakal hilang ditelan zaman. Lantaran tidak ada lagi anak-anak muda yang berminat melestarikannya.

"Hanya ini peninggalan dari nenek moyang kita. Cuma seni budaya ini yang menjadi jati diri kita orang Betawi. Jika kesenian ini hilang dan diakui oleh bangsa lain, maka saat itu juga jati diri kita ikut lenyap," tuturnya.

Menyelam Dalam Kesenian
Bang Jaxc pun bertekad untuk membangun wadah pelestarian budaya Betawi. Tahun 1995, bermodal sebuah garasi rumah, dia mendirikan bengkel kesenian yang diberi nama Sanggar Argawana.

Bersama beberapa kawan warga kampung Cipedak, pria yang gemar melukis itu, mulai membuat kerajinan ondel-ondel. Bukan tanpa alasan, dia memilih menekuni boneka besar itu.

Dulu, sewaktu masih sering jadi pengarak, kerap dilihatnya anak-anak kecil yang takut melihat Ondel-ondel. Dia ingin mengubah citra itu, dengan membalik kesan seram menjadi dikagumi.

Barang-barang serba bekas digunakannya sebagai bahan penyusun. Dari kok bulutangkis, hingga botol-botol tilas minuman, disulap menjadi ondel-ondel kecil yang lucu.

“Kami mulai memanfaatkan shuttlecocks bekas, sebab banyak sekali yang pada akhirnya dibuang begitu saja. Jadi, kami bisa melestarikan budaya tersebut sekaligus mengurangi sampah lingkungan,” jelas Bang Jaxc.

Pilihan sikap Bang Jaxc itu, didasari oleh filosofi nama sanggarnya. Arga berarti gunung, sedangkan wana adalah hutan. Jadi, Argawana dimaknai sebagai sumber kehidupan. Seniman Betawi ini meyakini, ketika kita hidup harus selaras dengan alam, bukan malah merusaknya.

 

Dianggap Kuno
Selama 26 tahun menyelami kesenian, Bang Jaxc melihat banyak generasi muda Betawi yang justru menjauh dari budayanya. Beberapa dari mereka menganggap ondel-ondel sebagai sesuatu yang kuno. Termasuk dengan musik tradisional. Hanya sedikit yang tertarik untuk menguasai dan memainkannya. 

"Lama-lama mungkin hanya tinggal kenangan saja. Banyak budaya kita yang hilang. Hal ini karena kita sendiri enggak peduli dengan budaya kita,” katanya.

Regenerasi menjadi kendala utama pelestarian. Bagai mencari jarum dalam tumpukan jerami, sedemikian susah mendapatkan penerus. Meski telah menggulirkan iming-iming imbalan bagi siapa saja yang ingin belajar kesenian di sanggarnya, cara itu berakhir tumpul.

"Kita sebagai pegiat seni, bukan soal inovasi yang menjadi tantangan, tapi mencari generasi penerus. Kalau kita inovasi terus-menerus, namun tidak ada yang melanjutkan ya percuma saja,” tegasnya.

Namun Bang Jaxc tak mau menyerah. Dia tetap bersikeras membujuk anak-anak muda untuk mencintai beragam kesenian Betawi. Seperti saat perhelatan pekan kebudayaan di Setu Babakan, dia mengajak kalangan tersebut untuk ikut serta, dengan menjanjikan imbalan. 

Ternyata, ada yang berminat. Mereka lantas dilibatkan dalam pembuatan Ondel-ondel. Sebagian yang lain, diajari bermain gambang kromong. Lambat-laun, beberapa di antara mereka mau bertahan lebih lama untuk belajar seni dan mengikuti sejumlah pameran.

"Melalui Sanggar Argawana, kita juga menghidupi perekonomian warga sekitar sehingga budaya ini pun hidup," imbuhnya.

Sekitar tahun 2009, Bang Jaxc mulai membuka workshop di Setu Babakan. Setiap hari libur, dia memperbolehkan pengunjung untuk menyaksikan langsung proses pembuatan ondel-ondel mini.

Termasuk, kepada anak-anak sekolah yang sedang karyawisata. Upaya Bang Jaxc tersebut disambut marak. Pelan-pelan, dia mendekatkan hasil kebudayaan Betawi pada khalayak.

Ondel-ondel Argawana Mendunia 
Suatu hari pada 2002, sekelompok mahasiswa Korea Selatan mengunjungi Sanggar Argawana. Mereka hendak melakukan riset, sekaligus belajar membuat Ondel-ondel.

Kurang lebih sebulan kemudian, ketika masa penelitian usai, sepasang ondel-ondel buatan Argawana dikirim ke negara asal para mahasiswa tersebut. 

"Ternyata, sepasang ondel-ondel itu dipajang saat world cup tahun 2002 di sana saat tuan rumahnya Korea Selatan dan Jepang,” tutur Bang Jaxc.

Bukan hanya ke Negeri Gingseng, karya kreatif Argawana juga diterbangkan menuju Amerika Serikat dan Eropa pada tahun 2013 lalu. Di bawah Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, deretan Ondel-ondel beserta topeng Betawi, dipamerkan di dua kawasan tersebut.

"Pameran di Amerika Serikat itu berlangsung selama satu minggu. Namun, pada hari kedua semua ludes terjual," imbuhnya.

Lewat pameran itu, ikon budaya Betawi bisa menembus kancah internasional. Tentu, Bang Jacx dan seniman lainnya merasa bangga dengan capaian itu. Sebab, banyak orang asing yang turut bangga dan mengapresiasi karya budaya Betawi.

"Ketika orang luar saja bangga, maka anak mudanya pun pasti merasakan hal yang sama. Lewat prestasi itu, kita pun bisa menumbuhkan minat kaum muda. Jangan sampai kesenian kita perlahan hilang karena banyak orang asing yang lebih tertarik dengan budaya tersebut,” pungkasnya

.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA