Merancang Ketahanan Keuangan Masa Purnabakti | Validnews.id

Selamat

Sabtu, 27 November 2021

16 Oktober 2021|18:00 WIB

Merancang Ketahanan Keuangan Masa Purnabakti

Yuk persiapkan rencana pensiunmu dengan matang!

Penulis: Arief Tirtana, Chatelia Noer Cholby,

Editor: Rendi Widodo

Merancang Ketahanan Keuangan Masa PurnabaktiSeorang pensiunan menghitung uang gaji pensiun ke-13 yang baru diterimanya di Palu, Sulawesi Tengah, Jumat (19/7). ANTARAFOTO/Basri Marzuki

JAKARTA – Setiap orang pasti ingin menikmati masa pensiun nan indah, memetik hasil jerih payah semasa bekerja. Istilah pensiun ini sendiri merujuk pada seseorang yang tidak bekerja lagi, sebab masa tugasnya sudah selesai.

Kehadiran dana pensiun pun menjadi salah satu upaya agar pensiunan menikmati hasil dari pengabdiannya di bidang pekerjaan yang digeluti. Meski begitu, tak semua yang pensiun menikmati hasil kerjanya dengan baik. 

Banyak yang tak siap menghadapinya. Ketika seseorang masuk ke dalam masa purnabakti, aktivitas keseharian akan berubah. Implikasinya juga kepada gaya hidup yang dijalani.  

Beberapa dari mereka pun nyaris tak berhasil memanfaatkan dana pensiunnya. Salah satunya seperti yang dialami oleh Elly Wardiyah (80). Dia mengaku salah mengelola dana pensiunan peninggalan suaminya yang pegawai negeri tersebut.

"Awalnya, saya menggadaikan pensiunan suami ke bank dengan tujuan untuk membuka usaha," tutur Elly yang kini sudah menjanda, saat berbincang dengan Validnews, Senin (11/10).

Niat semula adalah menjalankan usaha bersama salah satu putrinya. Namun, upaya itu tak berjalan seperti yang direncanakan. Elly harus menerima kenyataan bahwa sebanyak 70% gaji pensiunnya dipotong.

Akhirnya, uang pensiun bulanan yang diterima hanya sebanyak 30% itu tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup. Pada tahun ketiga cicilan, perempuan lansia ini berupaya menutup utang itu. Mirisnya, utang ditutup dengan dana pinjaman dari bank lain.

"Saya akhirnya tutup lubang, gali lubang. Namun, pinjaman di bank ini bunganya lebih kecil. Jadi, ada sisa buat bayar utang dan untuk makan," jelasnya.

Lain Elly, lain juga Wahyudi (57). Ia sudah punya rencana mengelola uang pensiunnya nanti. Hanya tinggal menghitung bulan saja, dirinya akan menyandang status sebagai seorang pensiunan. Bulat sudah tekadnya, tetap bekerja pada masa tua.

Sebagai persiapan, dua tahun lalu, Wahyudi membeli satu unit mobil bermodal pinjaman dari bank. Kendaraan roda empat itu adalah bagian dari rencana pensiunnya. Dia tetap ingin mendapat penghasilan bulanan, sebagai pengemudi taksi online.

"Jalan ini dipilih karena saya punya jaminan uang pensiunan yang akan diterima setiap bulan. Meski uang tersebut terpotong, tetapi cicilan bank akan lunas," ungkapnya optimistis, Selasa (12/10).

Meski mengaku tak nyaman dengan utang, ia merasa bisa melunasinya. Uang pensiunnya diyakini dapat diputar agar mendapat income baru.

Wejangan Perencana Keuangan
Bagi sebagian orang, memasuki masa pensiun bukanlah hal yang mudah. Ada masalah psikologis dialami. Biasanya disebabkan perasaan bahwa mereka tidak lagi bekerja produktif. Lalu, pendapatan yang didapat dari dana pensiun pun tak sebanyak gaji saat masih aktif bekerja. Dengan uang yang dapat dikatakan "pas-pasan" itu, pensiunan tidak tahu dapat digunakan hingga kapan.  

Tuntutan untuk jeli dan cerdas mengelola dana pensiun pun menjadi ‘wajib’ di masa purnabakti.

Perencana Keuangan Tatadana Consulting, Tejasari Assad mengatakan bahwa dana pensiun ditujukan untuk dapat memenuhi kebutuhan keluarga selama tak lagi aktif bekerja. Dengan tujuan seperti itu, tentu para pensiunan ini perlu membuat rencana untuk apa dana akan dipergunakan. Untuk tak terjebak pada masa pensiun nan ruwet, utang harus terlebih dahulu ditiadakan. 

"Perlu diingat bahwa lebih baik bila saat pensiun semua cicilan atau utang diselesaikan dahulu. Jadi, orang tersebut bisa menikmati masa pensiunnya dengan tenang," tuturnya kepada Validnews, Rabu (13/10). 

Tak ketinggalan, para pensiunan ini harus tahu berapa banyak biaya hidup yang dibutuhkan per bulan. Setelah itu, mereka harus menghitung kecukupan dana pensiun dengan biaya yang dibutuhkan untuk seumur hidup. 

"Sebab, yang paling penting dilakukan adalah menjaga si dana tersebut dengan bijak," imbuhnya.

Senada, Mike Rini, Perencana Keuangan Mitra Rencana Edukasi menjelaskan, bahwa ada beberapa cara bijak mengelola dana pensiun. Pertama, dana pensiun yang didapat bisa disiapkan terlebih dahulu untuk biaya hidup selama 12 bulan ke depan.

Kedua, bisa menyisihkan untuk dana darurat dengan jumlah setengah dari biaya hidup selama satu tahun. Ketiga, dana yang tersisa dapat diolah para pensiun agar mendapat income pengganti gaji. Biasanya, beberapa orang kerap mengelola dana tersebut sebagai modal usaha atau untuk investasi.

"Dalam mengelola uang tersebut lebih baik disebar di berbagai tempat. Dengan begitu, ada berbagai kemungkinan risiko juga yang akan didapat," terangnya saat berbincang dengan, Rabu (13/10).

Sebagai pensiunan, Mike menyarankan pemilihan jenis investasi yang dimulai dari risiko terkecil hingga terbesar. Sangat tidak disarankan menaruh semua dana itu untuk investasi usaha saja. Harus diingat, bisnis termasuk ke dalam jenis usaha yang risikonya cukup berat. Bila bisnis bangkrut, uang yang dimiliki akan ikut ludes semua.

Oleh sebab itu, pensiunan perlu membagi juga yang tersisa ke beberapa instrumen investasi. Lewat jenis investasi berbeda-beda, akan ada keuntungan yang beragam tanpa harus menanggung satu risiko besar.

Berwirausaha
Di balik beberapa cerita tricky-nya mengelola dana pensiun, ada beberapa yang berhasil menjalani damai dan indahnya masa pascaaktif bekerja. Ahmad (63), seorang pensiunan swasta kini menikmati masa purnabaktinya dengan sebuah usaha yang cukup mapan.

Sebelum pensiun, pria yang bekerja di salah satu pabrik di Tangerang itu telah menyiapkan planning.  Sebagian uang pesangon dari perusahaan, digunakannya sebagai modal bekersama dengan salah satu kawan untuk membuka usaha jasa konstruksi. Usaha ini terbukti bisa membuatnya tetap sibuk dan menikmati uang bulanan yang lebih dari cukup.  "Saya pilih ini karena risikonya terbilang kecil, dibandingkan usaha lainnya," katanya kepada Validnews, Jumat (15/10).

Yohan Yuniarto yang membuka usaha Rumah Abon di Bandung, juga punya cerita mirip. Dia menyisihkan uang pribadi selama bekerja sebagai modal berusaha. Sementara uang pensiun dari negara, Yohan pakai untuk kebutuhan sehari-hari saja.

Usaha yang dilakoni bukan tanpa kendala. Sebelum mendirikan usaha tersebut pada tahun 2011, bisnis yang ditekuni mengalami kegagalan. Modal usaha pun semakin menipis. Dukungan keluarga membuatnya tidak patah semangat untuk tetap berjuang. 

"Hingga akhirnya saya menemukan ide untuk membuat abon dari ikan," tuturnya.

Dengan melakukan berbagai eksperimen, ia berhasil menembangkan bisnis tersebut. Kini, abon yang dijual pun beragam, mulai dari jenis abon biota laut hingga abon bermateri hewan di darat. 

Ada sebuah alasan mengapa Yohan memilih bisnis tersebut. Dia memilih bisnis abon karena modal yang diperlukan tak besar.  Modal awal hanya sebesar Rp600 ribu.

"Dari uang yang tersisa, saya tidak mau lagi bekerja sama dengan orang lain. Akan tetapi, saya hanya ingin berwirausaha sendiri. Alhasil, uang yang didapat dari usaha tersebut bisa digunakan sebagai biaya tambahan kehidupan," ceritanya. 

Soal pengelolaan dana pensiun memang tak semudah berencana. Ada hal lain yang dibutuhkan, yakni wawasan soal perencanaan keuangan. Melansir data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada tahun 2019, menunjukkan bahwa indeks literasi keuangan di Indonesia mencapai 38,08%. 

Angka ini meningkat dibandingkan dengan indeks di tahun 2016 yang hanya ada di 29,7%.   Pengetahuan warga ‘negeri +62’   ini meningkat soal investasi dan keuangan. 

Dari data tersebut, tersimpul bahwa kemampuan untuk lebih cerdas, bijak, dan disiplin mengelola dana dimiliki, termasuk dana pensiun kini dimiliki lebih banyak lagi warga. 

Cerita para pensiunan dalam mengelola dana pensiun masing-masing juga bisa menjadi contoh. Mereka yang masih aktif juga bisa mempelajarinya, menyiapkan menjadi kunci berlanjutnya hidup di masa purnabakti. Rancang rencana sedini mungkin, matangkan strategi hingga saatnya tiba. Anda sudah siap?

 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER