Selamat

Senin, 16 Mei 2022

KULTURA | Validnews.id

KULTURA

20 Januari 2022

09:03 WIB

Menyoal Nilai Seni di Ekosistem NFT

Di dunia fisik, suatu karya seni bisa diukur lewat sudut pandang. Namun dalam NFT, sebuah lukisan hanya akan dinilai secara suka tidak suka.

Penulis: Andesta Herli Wijaya,

Editor: Satrio Wicaksono

Menyoal Nilai Seni di Ekosistem NFT
Ilustrasi Foto Gorengan di jual di Marketplace Opensea. Opensea/dok

JAKARTA – Fenomena "Ghozali Everyday" yang meledak belakangan ini adalah salah satu fenomena paling menarik yang pernah terjadi di dunia Non-fungible token (NFT). Kumpulan foto selfie yang diambil secara konsisten selama beberapa tahun, berhasil terjual dengan harga yang mengagumkan, menyentuh puluhan juta per satu foto selfie.

Melambungnya nilai foto-foto Ghozali yang dijual di marketplace Open Sea menimbulkan rasa heran pada banyak orang. Meski tak sedikit pula yang merayakan keriuhan itu dengan turut membeli NFT Ghozali. Namun lebih banyak yang bertanya-tanya, bagaimana sebuah foto selfie dari orang yang “bukan siapa-siapa” bisa dinilai seharga puluhan juta?

Inilah hebatnya dunia NFT yang belakangan semakin berkembang ke penjuru dunia. Suatu karya NFT, baik berupa gambar, lukisan digital atau musik, bisa dijual di market place dengan harga selangit, asalkan menemukan momen yang tepat, dan perhatian yang juga tepat dari komunitas pegiat NFT itu.

Hal itulah yang didapat oleh Ghozali Everyday, “karyanya” dengan gelombang branding yang cukup, muncul sebagai sesuatu yang dibicarakan dan kemudian jadi bernilai di tengah komunitas yang memang siap menerima kehadirannya. Karya lukisan yang baik misalnya, belum tentu akan terjual di market pasar NFT jika tak ada komunitas dan momen yang menyambutnya.

Namun, fenomena Ghozali Everyday juga menjadi potret liarnya dunia NFT itu sendiri. Tak ada nilai atau harga yang pasti, kecuali tergantung pada dinamika isu dan antusiasme komunitas pelakunya. Foto selfie Ghozali pun belum tentu bernilai jika ia muncul beberapa tahun lalu, atau tahun-tahun kemudian karena antusiasme komunitas NFT tentu telah berubah.

Ekosistem yang liar itulah yang menjadi momok bagi banyak seniman untuk terjun ke dunia NFT. Meski ada banyak seniman yang juga telah sukses merambah NFT dan memperluas kesempatannya, sebagian lainnya masih enggan bergabung karena tak melihat adanya standar nilai yang mapan di dunia tersebut.

Pelukis Haryanto Gunawan adalah satu di antara kalangan pelukis Indonesia yang enggan terjun ke dunia NFT itu. Pelukis yang banyak beraktivitas di Ibu Kota ini menilai, ekosistem NFT masih belum terbangun. Bila suatu karya masuk ke dalam ekosistem itu, ia kehilangan nilai sebagaimana yang dimilikinya di dunia fisik.

Bahkan Haryanto memiliki pandangan yang agak tajam mengenai pasar NFT, yang menurutnya saat ini menjadi tempat berkumpulnya produk-produk minim nilai, bahkan sesuatu yang tak layak disebut sebagai “art”.

“Sebenarnya banyak NFT itu yang itu art. Tapi dengan kejadian kayak Ghozali itu, sangat disayangkan sekali. Masa orang cuma selfie begitu saja bisa. Walaupun itu ada banyak pendapat orang bilang ‘oh itu karena dia konsisten kan’. Terus apa? Kalau menurut saya itu bukan art,” ungkap Haryanto kepada Validnews, Kamis (20/1).

Pemikiran Haryanto agaknya menyasar pada konsep penilaian terhadap seni yang mapan selama ini. Bahwa di dunia fisik, nilai suatu karya bisa diukur lewat sudut pandang seorang patron atau kurator di dunia seni rupa. Namun dalam NFT, sebuah lukisan hanya akan dinilai secara suka tidak suka oleh massa.

Ia khawatir, NFT membuat suatu karya tak lagi dinilai berdasarkan unsur-unsur seninya, melainkan oleh sesuatu yang bukan dari seni itu sendiri. Dalam kasus NFT, para pemberi nilai pada suatu karya akhirnya adalah massa, yang belum tentu punya kompetensi untuk menilai.

“Unsur Si Ghozali itu adalah konsisten dia saja. Dan konsistensi dia itu seolah olah dia telah berjuang. Nah, art ini kan juga  dikonotasikan dengan sesuatu yang diperjuangkan. Tapi kan ini orang sampai ke situ saja. Saya tidak melihat seperti itu. Dia (Ghozali) sendiri pun mungkin nggak sadar kalau suatu saat dia bisa begitu,” tutur Haryanto.

Haryanto tak memungkiri bahwa NFT, khususnya untuk sektor seni rupa, bisa jadi adalah masa depan dalam ekosistem pertukaran nilai di kemudian hari. Namun menurutnya, dunia NFT masih perlu bertumbuh lebih baik untuk mencapai ekosistem yang mapan, tidak “liar” atau “tanpa ukuran” seperti yang tampak saat ini.

Menurutnya lagi, apa yang tampak saat ini hanyalah suatu bagian dari gelembung udara yang akan meledak suatu saat nanti. Ketika tren perdagangan NFT ini mencapai puncaknya, maka ia akan pecah dan membutuhkan tata nilai ataupun konsep-konsep baru untuk menjalani dunia tersebut.

“Jadi karena kelewat liar terus orang jadi cuman kayak, ‘ah seru-seruan saja’. Dan kalau dibilang bubble ini sudah pasti bubble. Kalau bubble, pasti akan meletus suatu saat,” pungkasnya.




KOMENTAR | Validnews.id

KOMENTAR

Silahkan login untuk memberikan komentar Login atau Daftar





TERPOPULER | Validnews.id

TERPOPULER