Selamat

Selasa, 21 September 2021

09 September 2021|15:03 WIB

Menjelajah Desa Wisata Candirejo

Wisatawan akan dimanjakan dengan keindahan panorama seputar Borobudur dengan udara yang segar

Penulis: Dwi Herlambang,

Editor: Satrio Wicaksono

ImageIlustrasi pondok di Desa Wisata Candirejo. Googlemaps/dok

JAKARTA – Berada di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Desa Wisata Candirejo menjadi salah satu alternatif wisata bagi masyarakat yang ingin melepas penat, setelah pemerintah melonggarkan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Desa wisata ini hanya berjarak 3 kilometer dari pusat Candi Borobudur.

Dulunya, desa ini adalah kawasan pedesaan biasa yang kerap dijadikan sebagai tempat singgah wisatawan yang datang ke Candi Borobudur. Luas arealnya sekitar 365 hektare, dengan komposisi 60% areal pertanian, 20% hunian, dan sisanya merupakan hutan.

Mengutip situs Pesona Indonesia, desa wisata Candirejo memiliki tiga jenis wisata yang bisa dinikmati. Yakni wisata budaya, agrowisata, dan wisata alam. Wisatawan bisa menikmati pemandangan cantik dari atas bukit Menoreh.

Hal ini dapat dijumpai di bagian selatan desa, yang langsung menawarkan lanskap alam asri. Indahnya pemandangan saat matahari terbit dan tenggelam, bisa dinikmati dari lokasi yang disebut Watu Kendil.

Selain itu, wisatawan juga bisa merasakan hal yang sama melalui Punthuk Setumbu. Destinasi ini menyuguhkan lanskap Candi Borobudur, Gunung Merapi, dan Gunung Merbabu dalam sekali pandang. Sensasi menikmati sunrise diselimuti kabut di Punthuk Setumbu ini dijamin jadi salah satu momen terbaik yang bisa dirasakan saat liburan ke Magelang.

Selain bisa berburu panorama pada saat menelusuri bukti Manoreh, wisatawan juga akan diperkenalkan dengan sistem pertanian tradisional khas masyarakat Menoreh, yaitu tumpang sari. Sistem pertanian tumpang sari memungkinkan satu lahan diisi oleh banyak jenis tumbuhan. Maka tak heran jika di sepanjang jalan, disuguhkan pemandangan lahan-lahan pertanian berisi beragam tumbuhan, seperti kacang, jagung, ketela, dan cabai.

Puas berburu pemandangan, wisatawan bisa langsung memacu adrenalin dengan menjajal off-road yang ada. Treknya akan melewati jalan-jalan terjal khas perbukitan yang menyebrangi Kali Progo dan berakhir di Watu Kendali.

Jika badan sudah terasa lelah, menyantap kudapan bersama keluarga dan sahabat adalah sebuah keharusan. Wisatawan bisa mencoba aktivitas menangkap ikan secara tradisional menggunakan perangkat bernama bronjong di sungai. Ikan hasil tangkapan tersebut bisa diolah menjadi makanan untuk melepas lapar.

Salah satu makanan khas yang bisa dijajal adalah mangut beong, yang merupakan olahan dari ikan beong, endemik di Sungai Progo. Ikan tersebut dimasak dengan santan dan bumbu rempah kuning. Biasanya untuk temannya, wisatawan juga bisa memadukannya dengan nasi putih dan oseng gandul atau papaya.

Untuk camilannya, wisatawan juga bisa menjajal olahan keripik pisang, combro, dan juga keripik tempe. Semuanya bisa dibeli dan dijadikan oleh-oleh. Nah, selain makanan, oleh-oleh yang bisa dibeli adalah patung-patung batu karya pengrajin di Desa Wisata Candirejo. Material utama patung ini adalah batu andesit yang berasal dari sisa endapan erupsi Gunung Merapi.

Biasanya, patung yang dibuat berupa tokoh pewayangan, stupa Candi Borobudur, serta cobek yang cocok sebagai alas untuk membuat sambal. Selain menjadi salah satu cara melestarikan budaya Nusantara, kerajinan ini juga telah membawa nama Indonesia diapresiasi hingga ke Belgia dan Amerika Serikat.

Wisatawan juga tidak perlu khawatir sebab di sini terdapat beberapa rumah warga dan homestay yang bisa disewa untuk bermalam dan menginap bersama keluarga. 

Jangan lupa pastikan tetap menjalankan protokol kesehatan meskipun pemerintah telah mengendurkan aturan PPKM demi wisata yang aman dan nyaman.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER