Selamat

Minggu, 25 Juli 2021

GAYA HIDUP

29 Juni 2021|21:00 WIB

Menjaga Buah Hati Luput Dari Pandemi

Orang tua adalah role model bagi anak, termasuk dalam menjalankan protokol kesehatan

Penulis: Chatelia Noer Cholby,

Editor: Satrio Wicaksono

ImagePetugas memeriksa suhu tubuh seorang anak sebelum memasuki kawasan perbelanjaan di Palu, Sulawesi Tengah. Antara foto/dok

JAKARTA – Senda gurau khas anak-anak terlihat di Rusunawa Serua, Ciputat, Tangerang Selatan, Sabtu siang (26/6). Ada beberapa anak menertawai satu temannya yang tak pandai bermain layangan.

Meski sudah berlari-lari menarik layangan yang terikat kenur, tak juga kunjung terbang. Lagi dan lagi, layangannya jatuh ke tanah.

Meski sederhana, tapi raut bahagia terpancar dari wajah ketujuh anak di lapang tanah itu. Ya, bermain layangan seakan menjadi aktivitas yang akhir-akhir ini rutin dilakukan bocah-bocah yang tinggal di sekitar rusunawa itu. Pemandangan hampir sama, tampak hampir saban hari di sana.

Faria (35), seorang ibu yang buah hatinya tengah ikut bermain itu bertutur, sulit baginya untuk menjelaskan kepada sang anak, kalau kondisi saat ini sebenarnya sedang tidak baik-baik saja. Dia juga bingung akan ancaman covid-19 semakin menggila.

Posisinya jadi serba salah. Apakah terus mengekang anaknya di dalam rumah, atau memberikan "kebebasan" bermain dengan sebayanya.

"Susah mbak kalau larang anak buat enggak main keluar. Kalau mereka dilarang main, toh nanti teman-temannya bakal nyamperin juga ke rumah,” papar Faria kepada Validnews, Sabtu (26/6).

Bagaimanapun, sudah lebih dari setahun anak-anak menjadi "tahanan" rumah. Saat awal pandemi menyerang, dengan sangat ketat mereka tak diperkenankan keluar rumah.

Mau tidak mau, rasa bosan pasti dapat seiring berjalannya waktu.

Sayangnya, apa yang terjadi pada sore itu, hidup terasa seperti normal. Tak ada masker yang terpasang menutupi hidung dan mulut mereka yang bermain. Ironisnya lagi, hal itu dibiarkan oleh para orang dewasa yang ada di sekitar mereka.

"Awal-awal pandemi sih selalu pakai masker kemana-mana, tapi kalau sekarang pas pergi jauh aja. Lama-kelamaan kasian kalau anak-anak main pakai masker, nanti malah sesak napas. Jadi, paling saya awasi aja anaknya pas main dan setiap pulang ke rumah langsung mandi,” urai Faria lagi.

Sebenarnya, kekhawatiran bahwa di luar sedang tidak baik-baik adalah sesuatu yang tepat. Namun permasalahannya, kenapa tidak juga ditindaklanjuti dengan tindakan.

Anak dan Ganasnya Covid-19

Gambaran di atas mungkin hanya secuil dari jutaan kisah yang terjadi di Indonesia. Di mana, anak-anak sudah semakin bebas beraktivitas, meski pandemi belum mereda. Alhasil, dengan sejalan dengan bermutasinya virus, semakin melonjak pula angka anak yang terpapar.

Berdasarkan data Satgas Covid-19 per 22 Juni 2021, sebanyak 12,6% anak-anak di bawah 18 tahun terpapar covid-19. Tingkat kematiannya pun cukup tinggi, telah menyentuh 1,2 %.

Melonjaknya anak terpapar ditanggapi dokter spesialis kedaruratan, dr. Tri Maharani. Dia mengamini kalau kasus positif covid-19 anak melonjak tinggi dibandingkan tahun lalu.

Hal ini sejalan dengan munculnya beragam varian baru. Mulai dari Afrika, Inggris, dan yang paling parah varian delta dari India. Dunia mengalaminya.

"Rupanya mutasi dari virus ini sudah merusak organ-organ yang sangat menentukan kehidupan anak, seperti jantungnya, ginjalnya, brain-nya gitu. Menurut saya, dengan kondisi seperti ini anak-anak harus terproteksi dengan bagus, sebab vaksinasi untuk mereka belum ada," jelasnya kepada Validnews, Jumat (25/6).

Dengan kondisi seperti itu, Tri menyerukan, tak ada kata lain selain memberikan proteksi yang lebih kepada mereka. Apalagi, hingga saat ini belum juga ada vaksin covid-19 untuk anak-anak.

Karenanya, penyebaran covid-19 terhadap anak-anak dinilai lebih menakutkan dibandingkan orang dewasa.

“Anak-anak ini sangat rentan, ketika mereka sudah terpapar varian baru tadi. Maka, tingkat kematiannya pasti sangat tinggi," ujar Tri yang juga Peneliti Litbang Kementerian Kesehatan itu.

Pandemi dan eksesnya yang sudah berjalan satu tahun, ternyata tidak cukup juga menumbuhkan kesadaran masyarakat secara kuat. Pengabaian prokes, juga diyakini sebagai salah satu penyebab melonjaknya angka covid-19 pada anak.

Dokter spesialis anak Rumah Sakit Mayapada, dr. Andreas menguraikan klaster yang bisa menyebabkan anak-anak tertular. Pertama, saat orang-orang melakukan perjalanan mudik.

"Jadi setelah mudik mungkin membawa virus dari daerah. Atau mungkin datangnya pas mudik juga dari luar negeri, kita juga nggak tau ya. Hal ini terbukti di daerah yang dari India maupun Inggris masuk,” paparnya saat dihubungi Validnews, Sabtu (26/6).

Dari situ kemudian lingkaran penyebaran virus akan semakin berkembang. Virus-virus itu kemudian dibawa ke lingkup lain, misalnya perkantoran.

"Lalu, dibawa ke kantor masing-masing, hingga pulang menularkan anak-anaknya maupun keluarganya," tutur Andreas.

Selanjutnya ada juga klaster jalan-jalan. Belakangan, banyak orang semakin yakin bahwa pandemi segera berakhir, ditambah lagi vaksinasi sudah berjalan. Berdasar ini, mereka menilai perjalanan dianggap hal aman dilakukan.

Sebaliknya, justru ini menjadi bumerang. Di banyak kota, terlihat tak sedikit orang tua yang mengajak anak-anak ke mal maupun restoran. Bahkan anak-anak di bawah umur 2 tahun dibawa serta. Padahal, mereka tidak dianjurkan untuk menggunakan masker. Alhasil, risiko penularan kian membesar.

“Sudah tahu mereka tidak dianjurkan memakai masker, tetapi tak jarang para orang tua membawa anak-anak dibawah 2 tahun. Itu jadi sumber penularannya,” tegasnya.


Pendamping dan Proteksi

Nasi sudah menjadi bubur. Angka positif covid-19, utamanya terhadap anak terus melonjak. Yang memprihatinkan, virus tersebut bermutasi dan membuat efek lebih hebat.

Namun, Andreas punya persepsi lain soal ini. Menurutnya, salah satu penyebab tingginya positif pada anak, juga disebabkan kekebalan tubuh yang lebih rendah dibandingkan dewasa.

Selain itu, deteksi dini covid-19 pada anak juga mungkin lebih rumit dan sulit. Contohnya, biasanya anak tidak terlalu detail menjelaskan sakit apa yang sedang dirasakannya.

Bisa jadi itu menjadi penghambat deteksi dini. Jadi, screening terhadap anak-anak pun cukup sulit. Terhadap anak yang tak begitu merasa sakit, sama seperti orang-orang dewasa, Andreas mengarahkan untuk melalukan isolasi mandiri.

Sementara untuk anak yang dirawat di rumah sakit, tentu tidak bisa lepas dari pendampingan orang tua. Nah, di situlah terjadi dilema. Orang tua ikut "bertaruh nyawa". Terhadap hal ini, klausul ‘kerelaan’ menjadi penting.

“Ketika dirawat itu memang harus ada pendamping. Alhasil, ibu-bapaknya juga ikut masuk ke ruang perawatan tersebut. Dengan risiko akan tertular virus tersebut, mereka pun harus tanda-tangan saat menyetujui mendampingi anaknya,” ceritanya.
 
Di sisi lain, anak yang terpapar covid-19 pasti akan mempengaruhi kondisi psikologis. Maka, pendampingan orang tua memang menjadi kunci. Sudut pandang positif tentu menjadi cikal bakal kesembuhan. Jangan sampai orang tua justru memberikan energi negatif.

“Bagaimanapun, anak butuh rasa aman dan rasa nyaman. Kedua hal itu cuma bisa didapat dari orang tuanya,” ujar Alva Paramitha, Psikolog Sekolah dan Praktisi Kesehatan Mental, kepada Validnews.

Lantas, bagaimana buat orang tua bisa mencegah anak tak terpapar?

Alva menguraikan, orang tua adalah role model bagi anak-anaknya. Terhadap mereka yang tidak terpapar, orang tua harus membiasakan menjalankan prokes, di manapun.

Dan, orang tua juga mau tak mau harus kreatif, membuat beberapa kegiatan agar anak bisa bergerak. Instruksi prokes pun bisa diuraikan dengan sederhana.

“Informasinya jangan terlalu panjang dan gunakan bahasa anak-anak agar mereka mudah menerimanya,” kata Alva. 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER