Selamat

Minggu, 20 Juni 2021

SENI & BUDAYA

10 Mei 2021|10:31 WIB

Menilik Sejarah Musik Gambus di Indonesia

Riau disebut sebagai daerah awal berkembangnya musik gambus di Nusantara

Penulis: Andesta Herli Wijaya,

Editor: Satrio Wicaksono

ImageKelompok musik gambus. Biasa ditampilkan dalam berbagai acara bernuansa Agama Islam. Antara foto/dok

JAKARTA - Gambus adalah salah satuk instrumen musik petik tradisional yang di Nusantara. Sejak zaman dahulu alat musik ini sudah eksis sebagai pengiring berbagai kesenian rakyat. Misalnya, sebagai pengiring Zapin di masyarakat Melayu.

Alat musik gambus awalnya dipakai masyarakat Melayu yang berdiam dipesisir pantai. Beberapa daerah di Riau, seperti Pangkalis dan Penyengat, merupakan daerah yang banyak memiliki pemain musik gambus.

Pemain gambus Melayu Riau memainkannya secara tunggal, biasanya sambil bernyanyi. Syair-syair yang dinyanyikan berupa syair Islami. Gambus biasanya dimainkan secara spontan, begitupun syair-syair yang diciptakan secara spontan.

Di kemudian hari, gambus pun dimainkan untuk mengiringi zapin. Di sinilah gambus mulai mengalami perluasan, tidak lagi hanya membawakan lagu-lagu Islami, tapi juga mengusung tema kehidupan sehari-hari hingga soal percintaan muda-mudi.

Gambus dan zapin kemudian menjadi paket tak terpisahkan yang sering ditampilkan dalam acara-acara perayaan, seperti khitanan,pernikahan, dan perayaan lainnya.

Tak hanya di Riau, gambus juga menyebar ke wilayah Indonesia lainnya, seperti di Jawa hingga Sulawesi. Perkembangan dan penyebaran ini kemudian menghasilkan bentuk-bentuk instrumen gambus yang bervariasi pada masing-masing daerah, sehingga hari ini dikenal banyak variasi instrumen gambus.

Instrumen dari Arab
Menurut dosen Jurusan Etnomusikologi ISI Solo, Aris Setiawan, gambus diyakini oleh banyak ahli mula-mula berasal dari Jazirah Arab. Alat musik tersebut dibawa oleh para pedagang Arab yang bertualang ke Nusantara saat abad ke-19.

Namun ia menekankan, sampai saat ini belum ada referensi yang secara presisi menjelaskan dari mana asal intrumen tersebut. Referensi yang ada saat ini masih sifatnya dugaan-dugaan. Terutama karena fakta adanya kemiripan alat musik gambus di Nusantara dengaan alat musik Al Hud.

"Hampir semua berpendapat bahwa gambus itu berasal dari Jazirah Arab, terutama pada perdagangan awal abad ke-19. Tapi, bahkan ada yang lebih lampau, ada yang menyebut pada abad ke8 atau bahkan ke-7, sudah ada,” ungkap Aris saat dihubungi Validnews, belum lama ini.

Hipotesa yang ada sejauh ini menyebutkan, gambus dibawa ke Indonesia oleh para pedagang Arab. Alat musik ini tidak rumit dimainkan, sehingga mudah dibawa para pedang untuk menghibur diri dan mengisi waktu. Namun ada pula pendapat yang mengarah pada pemaknaan gambus sebagian dari syiar agama Islam, yang dilakukan oleh para pedagang.

Ada pula pendapat lain yang menyebutkan gambus bukannya berasal dari Jazirah Arab, melainkan Afrika Timur. Pendapat ini dikemukakan oleh etnomusikolog Belanda, Jaap Kunst, yang mengklaim kata gambus berasal dari alat musik 'gabbus' yang ada di Afrika Timur. Kunts lebih lanjut mengatakan bahwa di Jawa sekitar abad ke-20, ada dua macam gambus, yaitu yang berasal dari Hadramaut, dan kedua berasal dari Hijaz.

Di Indonesia sendiri, Aris membenarkan bahwa Riau adalah daerah tempat gambus awal mula dimainkan dan menjadi bagian dari kesenian tradisional masyarakat. Di sini, gambus dimanfaatkan sebagai pengiring Zapin, atau hiburan untuk kegiatan-kegiatan perayaan.

Lagu pengiring zapin biasanya bernuansa Islami, dengan mengelaborasi notasi yang mirip gambus di Jazirah Arab, serta vokal yang berisi syair-syair Islami.

Dalam perkembangan kemudian, selain di Riau, gambus pun menyebar dan menjadi instrumen yang banyak dimainkan di Jawa hingga Sulawesi. Belum ada penelitian yang secara tegas menjabarkan peta perkembangan gambus di wilayah Nusantara. Namun, umumnya, para sejarawan musik meyakini bahwa Sumatra menjadi titik mula alat musik ini di Nusantara.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA