Selamat

Selasa, 21 September 2021

04 Agustus 2021|21:55 WIB

Mengerek Harum Aroma Kopi Pagar Alam

Bukan hanya berladang dan berdagang, dia juga merangkul para petani untuk bergerak bersama meningkatkan mutu kopi daerahnya

Penulis: Andesta Herli Wijaya,

Editor: Satrio Wicaksono

ImageGerut Lazuardi, 29 tahun, pegiat yang memilih menjadi petani kopi sebagai profesi, dan barista sebag ai hobi. Sumber foto: Ist/dok

JAKARTA – Di antara sekian banyak pecinta kopi, Gerut Lazuardi adalah satu yang ulung. Tak hanya menjadi penikmat, ia mendedikasikan tenaga dan pikiran, sebagai peracik sekaligus petani kopi.

Gerut belum lama menggeluti budidaya kopi. Ia baru dimulai sejak 2015 silam, saat masih berstatus sebagai mahasiswa di Universitas Sriwijaya, Palembang. Namun, kecintaannya pada kopi, mendorongnya untuk cepat belajar.

Berburu pengetahuan tentang berbagai keniscayaan pengolahan produk dari aneka jenis tanaman kopi melalui bermacam sumber literasi, maupun belajar langsung kepada para petani atau pengolah kopi. Inilah yang kemudian menjadi bekal Gerut untuk meneroka ladang kopi.

Proses belajar tersebut dibarengi dengan praktik langsung merawat tanaman kopi di lahan miliknya yang seluas satu hektare. Di tanah yang berada di Kelurahan Agung Lawangan, Pagar Alam, Sumatra Selatan itu, dia akhirnya berhasil menumbuhkan tiga ribu tanaman kopi.

Sembari berladang, pemuda 29 tahun tersebut juga mengelola sebuah angkringan di jantung kota Pagar Alam. Semua kopi yang dijajakan di sana, merupakan panenan dari kebunnya. Selain itu, Gerut juga membuka usaha penyangraian kopi dengan mesin di rumahnya. Penyangraian ini mengolah ‘beras kopi’ milik para petani lain di sekitarnya. 

"Kopi hasil kebunku itu pertama-tama ya suplai ke kedaiku. Selebihnya dijual ke tempat lain. Jadi kalau barista ini memang kujadikan sebagai hobi. Tapi yang utama tetap aku sebagai petani kopi,” ungkap Gerut memulai obrolan dengan Validnews, Selasa, 6 Juli 2021.

Menjadi petani, pemilik Angkringan kopi, hingga mengelola jasa sangrai, Gerut menampakkan kepiawaian dalam mengelola usaha hingga mampu mengembang dan saling terkait. 

Gerut sungguh-sungguh melibatkan dirinya di ranah budidaya kopi, dari hulu hingga hilir. Itu adalah wujud aktivismenya di dunia kopi. Semua dilakukan bukan demi diri sendiri, katanya, melainkan untuk kemanfaatan para petani kopi di daerahnya.

Dia ingin menolong mereka, keluar dari jerat tengkulak yang kerap mempermainkan harga kopi. 

"Mafia dalam rantai distribusi kopi, justru itulah yang ingin dilawan. Seperti tengkulak, yang membeli dengan harga murah, padahal seharusnya harga kopi ini bisa lebih tinggi," kata Gerut memberi jawaban.

Aktivisme Ladang Kopi
Gerut turun ke ladang juga membawa satu tujuan penting, yakni pemberdayaan. Menurutnya, kesejahteraan petani kopi bisa lebih terangkat, apabila produk mereka diolah serta dipasarkan dengan cara yang baik.

Sayangnya, soal tersebut belum disadari betul oleh kalangan petani. Sampai-sampai mereka masih mau saja, menjual hasil panen dengan harga tak memuaskan. 

Selain persoalan harga, pengolahan yang belum baik juga berimbas pada hasil penjualan. Gerut menggambarkan, saat memulai ladang pada tahun 2015, proses pengolahan hasil panen yang buruk oleh para petani, berdampak pada penurunan mutu serta cita rasa kopi.

Gerut hendak memperbaiki semua itu. Namun kalau sekadar berkoar-koar dari jauh, tak akan banyak mengubah keadaan. Maka, cara terjitu adalah dengan turun langsung ke ladang. Menjadi bagian dari petani.

"Aku berpikir, akan lebih mudah buat nyebarin gagasanku kalau aku sendiri jadi petani. Jadi, aku bisa ngomong ke para petani, ayo kita bicara, kita setara sekarang," ujarnya.

Daerah Agung Lawangan, terdapat sekitar seratusan lebih petani kopi, dengan kepemilikan lahan masing-masing 1–3 hektare. Kelurahan itu adalah satu wilayah penghasil kopi paling produktif di daerah Pagar Alam.

Setiap tahun, ratusan ton biji kopi yang dihasilkan dari sana. Artinya, wilayah itu berpotensi besar menjadi basis penting bagi industri kopi.

Hal pertama yang dikampanyekan Gerut adalah pengurangan penggunaan pestisida. Pelan-pelan, ia memberi pemahaman kepada para petani tentang bahaya pestisida, karena sifatnya yang akan merusak tanah. Lebih dari itu, bahan kimia tersebut juga bakal menurunkan mutu rasa kopi.

Gerut juga memperkenalkan konsep higenitas pengolahan yang dipelajari semasa kuliah, ketika dia masih intensif berjejaring dengan pegiat kopi di Kota Palembang. Sebuah metode yang kerap diabaikan petani di daerahnya.

Misalnya, saat menjemur hasil panen, para petani mesti meninggalkan cara lama, yakni di pinggir jalan beralaskan terpal. Itu tidak higienis dan berpengaruh buruk pada cita rasa.

"Kopi yang dijemur sembarangan, di pinggir jalan, kena asap kendaraan, ternak lalu-lalang, itu cita rasanya turun. Beda kalau yang pengolahannya baik, itu rasa kopinya bukan sekadar pahit, tapi punya aroma yang kuat dan bermacam-macam aroma,” terangnya.

Hal-hal itu ditanamkan secara pelan-pelan kepada para petani. Caranya dengan memberi contoh dan bukti. Gerut mengajak para petani untuk bereksperimen sendiri, mencicipi rasa kopi dengan standar pengolahan yang berbeda tersebut.

Dalam masa itu pula, Gerut memasarkan hasil produksi kopinya ke kedai-kedai kopi di sekitar Palembang, demi menyasar ‘pasar urban’. Menurutnya, tempat-tempat tersebut merupakan sektor industri potensial.

Dengan jurus itu, Gerut bisa mendapat harga jual yang lebih tinggi dari rata-rata harga jual petani lain. Itulah yang kemudian dijadikan ‘pemikat’, agar para petani mau bergabung dalam gerakan yang digagasnya.

"Ini adalah kerja jangka panjang. Tidak instan. Aku enggak datang ke petani lalu sok-sokan buat ngajarin. Mereka juga pasti punya pengetahuan yang dalam tentang tanaman ini. Tapi aku lakukan sendiri pada kebunku, aku kasih mereka lihat, bahwa harga kopi itu bisa bagus lho kalau prosesnya benar,” tuturnya.

"Awal-awal aku dicemooh, ‘ngapain lah kau susah-susah mengolah kopi begitu’. Tapi lama kelamaan, mereka lihat hasilku, nah mulai banyak yang mendekat, mau mengobrol dan bertanya. Jadi cara masuknya seperti itu,” imbuhnya lagi.

Butuh bertahun-tahun bagi Gerut untuk mengajak para petani bergerak bersama. Perlu waktu yang panjang pula, untuknya menjajaki pasar kopi agar bisa dijadikan sasaran hasil produksi.

Dengan telaten, Gerut memberi pemahaman kepada para petani, bahwa kualitas sebiji kopi sangat berpengaruh bagi industri kopi. Dia juga mendorong para petani untuk yakin berkreasi, aktif membuka jejaring sendiri, hingga mengelola branding produk.

"Misalnya dalam segi kemasan, itu mereka bisa mengemas dalam bentuk kiloan, untuk dijual ke konsumen pribadi, enggak selalu harus selalu main partai besar. Bisa dalam bentuk butir, bisa bubuk Mereka bisa pasang merek pada produknya, kasih kemasan yang bagus, bisa dijual lebih mahal," ucap Gerut.

Soal penyangraian pun ditekankan Gerut, yakni dengan menggunakan mesin. Cara tersebut bisa mempersingkat waktu untuk menghasilkan kopi bubuk dibanding menyangrai secara tradisional.

Kelompok Tani
Buah dari kerja pemberdayaan yang dilakoni Gerut, tampak dari berbagai hal. Antara lain, kian banyak petani yang tersadar untuk senantiasa memperhatikan kualitas produk kopi. Meski belum semua, namun semakin banyak petani mau bergerak bersama dalam sebuah kelompok tani.

"Ini masih berproses, belum semuanya bisa kita rangkul, buat diajak sama-sama menjalankan apa yang kita anggap ideal ini. Saat ini sekitar 50 lebih petani sudah bergabung ke dalam kelompok tani kita, tapi masih ada sekitar 50 lagi yang belum,” kata Gerut.

Kelompok tani di sini adalah sebutan untuk para petani kopi yang berkolaborasi, menjalankan standar pengolahan yang sama, serta menjual hasil produksi pada level harga yang sama. 

Tidak ada nama khusus untuk kelompok tersebut. Masing-masing anggota diikat oleh aturan yang sama, yakni menjalankan standar pengolahan yang sama, serta menjual hasil produksi pada level harga tak beda. 

Hasil produksi kelompok itu biasa disimpan dalam gudang stok. Distribusi dilakukan bertahap, menyasar pasar yang sebagian besar terdiri dari kedai-kedai kopi di sekitar Palembang serta sejumlah kota lain di Indonesia, seperti, Jakarta, Bogor, Surabaya, Solok, Pekanbaru, juga Riau.

Para petani juga menitipkan produknya di tempat-tempat wisata sekitar Pagar Alam. Termasuk, menjajakan produk-produk kopi itu ke berbagai marketplace.

"Itu stok kelompok jatuhnya. Aku dan beberapa kawan kan punya jejaring ke kedai-kedai atau suplier kopi, kita suplai ke situ. Alhamdulillahnya ya, sampai sekarang kita bisa buka jaringan pemasaran sampai ke beberapa kota," kata Gerut.

Kopi yang dihasilkan Gerut dan kelompok taninya, berjenis robusta. Harga 1 kg kopi yang masih dalam bentuk butir mencapai Rp30 ribu. Sementara, 1 kg kopi bubuk dibanderol Rp100 ribu. 

Angka tersebut merupakan hasil kesepakatan para petani, agar harga pasaran tetap terjaga. Nilainya jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan harga tengkulak, yang berkisar Rp17 ribu per 1 kg kopi butiran.

Gerut mengakui, ‘pasar urban’ yang dibangun oleh kelompok tani, hingga saat ini masih terbatas, dan belum mampu menyerap seluruh hasil produksi. Sementara, dia sendiri juga belum bisa merangkul semua petani untuk bergabung. 

 "Intinya adalah, kita sama-sama berorientasi untuk menjaga harga tetap bagus. Namun jika ada yang benar-benar terdesak butuh uang, masih diperkenankan untuk menjual kepada tengkulak. Tapi jangan dijual semua, sisakan untuk mengamankan stok kelompok, jadi jika sewaktu-waktu permintaan datang, kita enggak kosong,” gambarnya.

Gerut optimistis, terdapat pasar yang besar untuk hasil kopi olahan kelompoknya. Peluang mereka untuk terus berkembang, tetap terbentang. Seperti yang terjadi pada akhir 2019 lalu. 

Kelompok itu hampir mendapatkan kontrak untuk ekspor kopi ke Singapura. Namun, skenario besar itu harus batal karena pandemi mengacaukan segala lini perekonomian dunia.

 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA